Coffee 2

1530 Kata
Setelah selesai makan siang, aku meminta Nania untuk menghubungi driver pribadiku agar bersiap-siap karena kami akan pergi, “Hubungi Pak Johan, untuk bersiap-siap nganterin saya rapat, kamu sudah mempersiapkan semua materi meeting hari ini, kan?” tanyaku pada Nania, dia mengangguk, lima belas menit kemudian aku dan Nania sudah duduk di dalam mobil menuju ke tempat meeting yang pertama, agenda meeting ini hanya sekedar untuk memastikan bahwa pemilik restoran Lima Rasa akan ikut menjadi investor pada restoran yang sedang aku rencanakan untuk aku buka, tiga bulan lagi, tidak lama, hanya sekitar setengah jam, setelah menandatangani surat perjanjian, aku dan Nania meluncur ke meeting yang kedua, meeting ini pun tujuannya hanya untuk menjalin silaturahmi dengan petani-petani yang memasok sayuran di restoran dan hotelku. Aku memang sengaja merangkul mereka agar para petani ini terbebas dari tengkulak yang jahat, yang mengambil keuntungan dari hasil penjualan pertanian mereka yang tidak seberapa, juga menyelamatkan mereka dari ulah lintah darat, yang awalnya memberikan bunga ringan tapi ketika sekali saja para petani telat membayar angsuran pinjaman mereka maka bunga yang dikenakan ke para petani ini semakin tinggi, bahkan bunga yang harus mereka bayarkan jauh lebih banyak dari pokok utang yang mereka pinjam di awal. Begitu sampai di perumahan yang isinya para petani, ketua lingkungan setempat sudah mengumpulkan semua petani yang terlibat langsung menjadi pemasok di perusahaanku, aku mendengarkan satu persatu sara, masukan, bahkan kritikan untuk perusahaanku, Nania dengan sigap mencatat semuanya, “Pembayaran selama ini alhamdulillah sudah lancar, Pak, hanya saja terkadang kalo besoknya hari libur, pembayaran kami ditunda sampai hari Senin minggu depannya, itu agak memberatkan kami, karena kadang kebutuhan kami mendesak hari itu juga. Saya minta kebijakan Bapak Raditya dan pihak menejemen, agar pembayaran kami mungkin bisa dibayarkan di hari itu sebelum libur. Karena uang dari hasil memasok bahan baku sayur mayor ke perusahaan Bapak adalah satu-satunya sumber penghasilan kami.” Aku mengangguk, setuju dengan apa yang disampaikan. Sekitar satu jam setengah aku berdiskusi dan berdialog dengan petani-petani ini, lalu bergegas untuk bertemu dengan pemborong yang akan mengerjakan proyek pembangunan restoran terbaruku yang sudah menggandeng tiga investor lain, termasuk pemilik restoran Lima Rasa tadi. Kami janjian untuk bertemu di restoran hotel tempat pemborong ini menginap. Aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku mendapat rekomendasi dari rekananku yang lain yang sudah pernah memakai jasa pemborong ini dan hasil kerjanya memang terbukti bagus, “Jasanya memang agak mahal, tapi hasil kerjanya bisa dijamin bagus, kalo kita complain atau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan perjanjian awal, maka dia akan bertanggung jawab dan segera membenahi pekerjaannya.” Maka aku mau mencoba untuk memakai jasanya. Setelah sampai di lobi hotel, aku dan Nania langsung menuju ke restoran tempat janjian kami. Pertemuan kami bisa dibilang lumayan lama, karena aku dan pemborong ini, Priandono, merinci semua detail pekerjaan yang dia akan kerjakan, termasuk jika ada pekerjaan yang tidak sesuai, lalu jika ada hal-hal lain yang terjadi di luar dari perjanjian, dan hal-hal semacam itu. setengah tujuh malam pertemuan kami baru selesai. Aku memutuskan untuk makan malam saja di restoran itu, sementara Nania, karena sudah di luar jam kerja, aku memberi dia izin untuk pulang, “Kamu mau makan malam dulu dengan saya atau mau langsung pulang, Nania?” dia memilih untuk pulang, “Saya langsung pulang saja, ya, Pak. Nanti biar saya naik taksi online aja dari sini.” Dan setelahnya, aku menikmati makan malamku, jam delapan malam aku selesai makan dan bergegas untuk pulang. Ketika sampai di depan lift, aku masuk ke dalamnya ada seorang wanita muda, yang kutaksir umurnya di awal dua puluhan. Wajahny terlihat pucat, dia seperti sedang merasakan dan menahan rasa sakit. Lift berhenti di lantai satu, dan ketika aku mau keluar dari lift, wanita ini pingsan, ya tuhan. Repot banget hidupku, hari ini. Niat hati ingin langsung pulang ke rumah, beristirahat, karena badanku memang capek banget, harus lagi ketemu dengan perempuan ini. Tapi masa bodo, aku meninggalkan dia tergeletak saja di dalam lift. Tapi kemudian sisi kemanusiaanku berontak, “Tega banget ngeliat perempuan pingsan bukannya ditolongin malah ditinggalin, bayangkan, kalo nanti ada pria jahat yang bakal ngapa-ngapain dia.” Maka, atas dasar kemanusiaan tersebut, aku balik lagi ke dalam lift, membopongnya keluar dari sana, dan membawanya ke mobilku untuk aku antarkan ke rumah sakit. Ketika di dalam mobil, dia sempat sadar, aku mencoba untuk menanyakan dia kenapa, apakah dia inget di mana rumahnya, namanya siapa, “Hei, kamu kenapa? Kamu inget gak, kenapa kamu sampai masuk ke dalam lift, di mana rumahmu?” tapi percuma, nihil, dia pingsan lagi. Udahlah gak tau rumahnya di mana, aku mencoba untuk mencari identitas apa pun yang bisa digunakan sebagai petunjuk ke mana aku harus membawa perempuan ini, dan aku menemukan handphonenya, tapi, ya tuhan, handphonenya lowbat, lengkap. Cuma satu tempat yang terpikir olehku, rumah sakit. Aku mencoba memastikan lagi apakah ada tanda-tanda kalo dia bakal siuman, tapi dia bergeming, pucat, mungkin ini perempuan belom makan atau gak makan dari tadi aku menemukannya. Setelah berada di dalam mobil, aku meminta supirku untuk mengantarkan kami ke rumah sakit. Sekitar dua puluh menit kemudian kami sampai di rumah sakit, aku langsung membawanya ke UGD. Lalu menyuruh supirku untuk mendaftarkan ke meja resepsionis atas nama dia saja, “Daftar ke meja resepsionis, Pak, pake nama Bapak aja, ceritakan aja kronologinya.” Dan aku mencoba untuk men-charge handphonenya. BAGUS, PAKE POLA! HIH, gimana cara bukanya? Frustasi bener deh kalo gini. Ketika sedang pusing bagaimana membuka pola yang ada di handphone ini, tiba-tiba ada panggilan masuk, -Ibu calling- Tepat di saat aku hampir putus asa, gawai berdering, "Malam, Bu. Saya Raditya. Saya lagi sama anak Ibu di UGD Rumah Sakit Mitra di Kebayoran Baru." Bicaraku terputus, di seberang sana, tabuhan genderang perang menggema, "Di mana anak saya, kamu, siapa? Gimana kok ini gawai Jingga bisa sama kamu? Tunggu di situ, saya akan segera kesana. Di ruangan apa? JANGAN COBA-COBA KABUR, KAMU, YA!!!" Klik, telepon diputus. Aku tergugu, KABUR? Kalo bisa pergi dari tadi aku gak ada di sini, begini, nih. Kalo terlalu baik, jadi ketiban pulung, tuhan ... Sejam kemudian, seorang wanita paruh baya, histeris masuk ke UGD, aku sih yakin banget, ini Ibu si perempuan yang lagi tergeletak di depanku. "Kamu, kamu yang bikin anak saya begini. Jangan lari, kamu, ya. Pak, di sini, Pak. Ini orangnya, Pak." Polisi, mari kita mulai drama malam ini. Bakal panjang nih, urusan. Dapet ide dari mana, mereka bawa polisi, oke, mari kita positif thinking, mungkin, mereka mau menyelidiki kasus si perempuan misterius yang sejak tadi gak sadar-sadar. "Ikut kita, Pak. Ada laporan bahwa anak perempuan Bapak ini, dibawa sama Anda dan keberadaan anak perempuan Bapak ini, di sini, karena Bapak." Dah ... Udah males ngejawab, lelah banget. Ikut aja, mau bantah di sini pun, gak akan ada guna. “Saya mau nelepon orang, sebentar, Pak. Sebelum pergi." Pamitku pada polisi itu, aku memencet nomor Dani, pengacara pribadi yang biasa ngurus hukum dan segala urusan yang begituan di kantor, "Dan, ke kantor polisi Kebayoran Baru, ya. Gue ketiban sial. Buruan, gak pake lama." Langsung kututup telepon, sebelum Dani protes dan banyak tanya. "Kalo sampe terjadi apa-apa sama anak saya, kamu akan menyesal!" Bapak anak ini bicara dengan nada dingin padaku. Aku hanya bisa menunduk, tau gitu, sekalian aja tadi, aku apa-apain. Niat bantu malah buntu. Niat baik malah berbalik jadi sial. Tuhan, lagi becanda, ya? Kalo tau bakal seperti ini kejadiannya, aku males banget berurusan sama ini perempuan. Ketika sampai di kantor polsek, aku dimintai keterangan, ditanya-tanya berbagai macam, supirku yang mendampingiku ikut-ikutan diperiksa, “Cek CCTV hotel itu aja, deh, Pak. Saya masuk lift di lantai restoran, lalu ketemu sama dia, mukanya emang udah pucat banget, ketika saya keluar lift, dia jatuh pingsan. Tadinya saya mau tinggalin aja tuh perempuan karena toh saya juga gak kenal. Tapi karena saya manusia, sisi kemanusiaan saya berontak, masa ada perempuan pingsan di depan mata saya, saya biarkan saja. Maka saya berinisiatif untuk membawanya ke rumah sakit. Tau begini kejadiannya mah, mending saya tinggalin aja tadi.” Aku melihat raut tidak suka di wajah lelaki yang tadi dipanggil Bapak, oleh ibu-ibu di rumah sakit itu, mungkin dia adalah bapak dari itu perempuan. Hampir jam sepuluh malam, setelah proses pengecekan CCTV di hotel, menyingkronkan keteranganku dengan kejadian yang terjadi di dalam lift, untung saja semuanya cocok, “Maaf, ya, Nak. Saya udah kebingungan banget nyariin anak saya, dia anak perempuan satu-satunya. Kami datang dari keluarga yang tidak mampu, Bapak khawatir dia kenapa-kenapa, sekali lagi saya minta maaf, ya.” begitu ucap si bapak. Aku hanya bisa mengangguk, kemudian pamit untuk pulang, setelah sebelumnya menyelipkan sekedar beberapa lembar uang untuk pegangan si bapak, “Ini ada sedikit uang, ya, Pak. Semoga anaknya segera sadar dan lekas sehat.” Aku keluar dari kantor polisi tersebut diiringi dengan tawa Dani yang membahana, “Playboy kena karma nih. Kok bisa-bisanya sih, Dit?” aku meninju perutnya, “Diem lu. Kena sial aja, gue. Pengen pulang deh, pengen mandi, mau tidur. Harusnya tadi jadwal gue ke gym, tapi udah jam segini, gue olah raga di rumah aja.” Dan begitulah, aku dan Dani berpisah di parkiran mobil. Setelah sampai rumah, aku bergegas untuk mandi dan merebahkan tubuhku di ranjang. Lelah banget hari ini, marathon meeting yang luar biasa menguras energi, belum lagi kejadian barusan yang tidak terduga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN