Aku terbangun ketika sebuah suara memanggil namaku, Abah tua, panggilan untuk kakek ada di sana, mengajakku, aku dalam versi kecilku, mungkin Jingga yang sedang dituntun Abah tua itu berumur sepuluh tahun, kami berjalan, menuju sebuah bangku, senyumnya, uban di rambutnya, luka di kuping sebelah kanan akibat perampokan yang membuatnya harus beberapa hari merasakan rumah sakit yang paling beliau benci, "Jingga, kenapa kok dari kemaren Abah tua liat Jingga di luar? Kenapa kamu ikut sama temenmu itu, Nak? Tari memang orang baik tapi lebih baik lagi tidak dekat dengannya. Seperti pepatah yang masyur pernah bilang, mungkin Jingga juga tau, kan, kalo kita dekat penjual bunga, maka wangi juga kita, dekat dengan penjual bubuk mesiu, maka seperti itulah kita. Hati-hati dalam memilih teman, Nak. Sekarang, Jingga jauhi lelaki yang baru saja Jingga kenal, dia bukan orang baik, Abah tua yakin, Jingga akan mendapatkan uang dari pintu halal yang lain, ya." Abah tua mengusap kepalaku, aku memejamkan mata, menikmati setiap usapan lembut tersebut, sudah lama rasanya aku tidak pernah lagi merasakan kedamaian seperti ini, tanpa terasa air mataku menetes, “Kenapa Abah tua pergi duluan ninggalin Jingga sendirian?” pertanyaan yang selalu aku ulang, setiap kali aku bertemu dengan Abah tua atau jika aku sedang merindukannya. “Sudah waktunya Abah tua kembali, Abah tua gak bisa selamanya ada di samping Jingga, tapi satu hal yang harus Jingga tau, bahwa Abah tua gak akan pernah ninggalin Jingga, kalo kamu butuh Abah tua, salat, ya, Nak, berdoa, biar Allah bisa sampaikan doa-doamu itu untuk Abah tua.” Tanpa terasa air mataku jatuh mengalir, awalnya perlahan tapi lama kelamaan semakin deras, “Jingga gak sanggup hidup lagi seperti ini, Bah. Rasanya semua orang yang ada di sekitar Jingga gak pernah bisa melindungi Jingga, semua hanya perlu uang Jingga, Bapak, Ibu, mereka gak tau apa yang sudah Jingga alami, mereka gak pernah bertanya apakah Jingga udah makan, apakah Jingga sehat-sehat saja, atau bahkan sekedar bertanya Jingga darimana, gak pernah. Jingga ini sebenarnya anak Bapak sama Ibu atau bukan, sih, Bah?” tanyaku ke Abah tua di sela isak tangis yang tidak juga bisa aku redakan, banyak cerita yang ingin aku ceritakan dan juga pertanyaan yang mengganjal di hatiku, memenuhi isi kepalaku, dan sudah lama sekali aku tidak bisa bertemu dengan beliau, ngobrol tentang masa kecilku, bagaimana bahagianya beliau ketika aku lahir sebagai cucu perempuan pertama, dan selain itu juga aku bertanya ke Abah tua kenapa beliau memberi nama Jingga untukku, "Jingga itu indah, cantik, tapi juga kuat dan tidak takut akan gelap malam. Abah tua berharap kelak kamu jadi perempuan hebat, bisa membuat dirimu sendiri bahagia. Karena ketika kamu sudah bahagia, orang-orang di sekelilingmu, bahagia. Kenapa Bapak dan Ibu bersikap seperti itu, mungkin karena mereka percaya kalo Jingga adalah perempuan hebat yang bisa melindungi diri sendiri. Keluar, Nak, coba cari peruntunganmu di tempat lain, hijrah. Coba jelajahi bumi Allah yang nantinya akan kamu sadari bahwa persolan hidup yang Jingga hadapi saat ini adalah ujian yang akan membuat Jingga semakin kuat, membuat Jingga menjadi seorang yang tidak pantang menyerah." Aku hanya mampu memandang wajahnya, betapa takjubnya bahwa malam ini aku bisa melihatnya lagi, lelaki istimewa ini. "Iya, Abah tua, tapi Bapak tidak pernah bangga denganku, aku bukan anak yang bisa membuatnya bahagia. Kenapa aku pergi dari rumah, karena apa pun yang aku lakukan tidak akan pernah bisa memuaskan egonya." Bulir bening yang tadi sudah bisa aku redakan kini kembali berkumpul dan seperti siap-siap akan tumpah, "Bapak menyayangimu. Hanya saja caranya yang kurang tepat. Kenapa dia keras, kenapa dia ingin kamu menikah dengan lelaki kaya, karena dia belum bisa membahagiakanmu. Dia ingin, jika suatu saat kamu menikah, tidak perlu lagi merasakan kekurangan seperti yang kalian alami sekarang. Mungkin kamu berpikir Bapak itu matre, mata duitan, suka dengan hal-hal duniawi, tapi sebenarnya yang dia takutkan adalah hidupmu akan sama susahnya seperti kamu tinggal dan hidup dengannya sekarang. Makanya Bapak selalu saja menekankan bahwa kamu harus menikah dengan lelaki kaya." Dan perlahan air mata itu turun lagi, dengan mencoba memahami keadaan ini, aku hanya bisa mengangguk, mencoba memposisikan diriku seperti Abah tua melihat Bapak, "Tapi, Bah, menikah dengan orang yang kita cintai lebih penting, kan, Bah, dibandingkan menikah dengan orang yang tidak mampu kita cintai, walaupun mampu membiayai." Abah tua mengangguk, "Benar. Tapi cintamu akan diuji ketika kamu masih harus memikirkan bayar listrik, bayar kontrakan. Selama ini Jingga mengalami juga, kan, bagaimana Bapak dan Ibu yang selalu bertengkar jika tidak ada uang di rumah. Abah tua yakin Jingga pasti lebih paham, benar, menikah bukan semata memuaskan napsu atau saling bercanda dalam tawa, karena kebutuhan yang kalian harus beli tidak bisa dibayar dengan cinta." Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk, benar kata beliau. Tapi untuk apa menikah jika gak ada cinta? Ketika sibuk otakku mencerna semua informasi ini, beliau bangkit dari duduk, "Abah tua pamit, ya. Jingga harus lebih sabar menghadapi apa yang terjadi, Allah sudah menyiapkan hadiah istimewa ketika Jingga bersabar dan tawakal atas setiap tantangan yang ada. Ngga, ketika tantangan hidupmu mulai menumpuk, Abah tua yakin, Allah lagi manggil Ngga untuk mendekat. Shalat, ya, cucung Abah tua." Aku tergugu, Abah tua perlahan menghilang di balik kepulan kabut putih, dan aku berbalik, menuju pintu di mana tadi aku bertemu Abah tua. Meninggalkanku sendirian, dan bayangan aku di masa kecil yang masih duduk di bangku itu. Tapi kemudian aku merasakan nyawaku seperti ditarik ke dasar bumi, ada hentakan kencang yang membuatku mual. Suara bising yang kudengar membuat kepalaku berdenyut, aku bisa mendengar suara seseorang “Ibu Jingga sadar, Pak Pri.” Dan aku bisa mendengar suara lelaki yang tidak asing di telingaku, “Panggil dokter sekarang juga.” Iya, suara Mas Pri, lelaki yang sejak tadi pagi tidak mengizinkanku untuk turun dari ranjang, “Aku hanya pergi sebentar, ada keperluan bertemu dengan calon klienku. Jangan turun dari tempat tidur, aku akan meminta room boy untuk membawakan makanan ke kamar.” Dan aku hanya bisa mengangguk mendengarkan perintah itu. Semua persendian di tubuhku ngilu, seperti tulang yang dipatahkan secara bersamaan, aku juga bisa melihat lebam biru di beberapa tempat, ini hasil karya Mas Pri di tubuhku, dia selalu saja meninggalkan bekas ini ketika kami memadu kasih.Ah ... Abah tua, segitu rindunya aku akan dirimu. Semoga kita diizinkan Allah berkumpul lagi di surga, ya. Perlahan aku mencoba untuk membuka mataku, “Hai sayang. Kamu udah siuman?” senyuman Mas Pri menyambutku, aku hanya bisa mengangguk, ada jengah yang aku rasakan, jika saja tidak karena uang yang sudah dia berikan untukku, aku tidak akan pernah mau seperti ini, “Baru tiga ronde, loh. Masih ada dua ronde lagi, janji, ya, habis ini layani Mas lagi.” Aku bergeming, mungkin alasan aku pingsan dan ada di kamar perawatan rumah sakit ini karena kelelahan yang aku derita. Karena sejak kemarin, aku tidak diizinkan turun dari ranjang, dan hanya diberi makan beberapa sendok, lalu air minum segelas, “Jangan terlalu banyak, ya, makannya. Nanti kamu lebih sering buang air, aku gak mau waktuku menikmatimu terbuang sia-sia, bahkan sedetik saja.” Aku menggedikkan bahuku ketika mendengar hal tersebut, “Dan apa pun yang nanti ditanyakan oleh dokter, jawab saja kalo kamu kecapean akibat kita pengantin baru yang sedang berbenah rumah, paham?” tidak ada wajah menakutkan terukir di sana, hanya saja dengan suaranya yang dalam dan seperti menekankan kalimat tersebut, aku paham bahwa aku tidak diizinkan untuk menceritakan apa yang sedang terjadi, “Dan minta sama dokternya nanti bahwa kamu minta pulang sore ini juga, harus kamu paksa dokternya agar mengizinkan kamu pulang, apa pun yang terjadi.” Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. Tidak berapa lama, dokter jaga menghampiriku, “Malam, Bu Jingga. Gimana keadaannya sekarang, apa yang dirasa?” aku hanya diam, lalu memutuskan untuk menggeleng, “Saya tidak merasakan apa-apa, Dok. Saya bisa pulang sore ini juga, kan?” dokter tersebut menaruh stetoskopnya di dadaku, “Tarik napas, Bu. Tahan lima detik lalu hembuskan,” aku mengikuti arahan dokter, “Lagi, Bu.” Dan setelah tiga atau empat kali dokter tersebut memintaku melakukan hal ini, dia menjawab permintaanku, “Saya tidak bisa memberikan izin Ibu untuk pulang, karena saya harus melakukan observasi terhadap kondisi Ibu Jingga. Saya menduga Ibu Jingga mengalami kelelahan dan dehidrasi parah.” Aku hanya diam, dalam hati meng-aamiin-kan ucapan dokter ini, ya tentu saja aku kelelahan, setelah apa yang aku lewati berjam-jam lamanya di bawah kendali Mas Pri, “Apakah Ibu sedang mengerjakan sesuatu untuk pekerjaan Ibu, lembur misalnya atau …” Mas Pri yang mungkin khawatir aku akan menjawab yang aneh-aneh menjawab, “Biasa, Dok. Kami pengantin baru, jadi aktivitas di ranjangnya sering banget.” Dokter yang ada di depanku ini sekarang tergelak, “Ya ampun, Pak. Ibunya dikasih istirahat, ya. Jangan dipaksa terus, pelan-pelan saja, kan pengantin baru ini, masih banyak waktu.” Mas Pri tertawa, aku diam, melihat tidak ada sesuatu yang bisa aku tertawakan dengan kejadian ini, “Kalo begitu, saya kasih infus vitamin aja, ya. Kalo infusnya udah selesai, Ibu sudah boleh pulang. Tapi ingat, ya, Pak, ibunya dikasih waktu juga untuk beristirahat.” Mas Pri mengangguk. setelahnya seorang perawat membawa botol infus yang berisi cairan vitamin, “Ini isinya harus habis, ya, Bu. Mungkin sekitar setengah jam sampai satu jam isinya akan habis, setelah itu Ibu dan Bapak diperbolehkan pulang.” Aku mengangguk, “Makasih, Sus.” Setelah tidak ada orang di dalam ruangan ini, Mas Pri menarik kursi untuk duduk di samping ranjangku, “Kamu masih utang dua ronde sama aku, ya. Ini, aku barusan transfer kamu lagi dua puluh lima juta. Artinya, masih banyak waktu akan kita habiskan bersama.” Aku diam, penderitaanku rupanya belum berakhir, "Aku masih akan berada di sini selama beberapa waktu, jadi jangan coba-coba kamu berpikir untuk pergi dariku." Hatiku mencelos mendengarnya.