Hari ini, aku janjian sama Ranti, jam sepuluh tepat dia menyusulku di rumah, aku pamitan sama Bapak bahwa aku ada wawancara kerja, “Pak, Bu, Jingga pamit, ya. Tolong doain biar Jingga diterima kerja, hari ini Jingga ada wawancara kerja.” Ibu menyahuti dengan wajah berbinar, “Yang bener, Ga, hari ini kamu ada panggilan kerja?” aku mengangguk dengan penuh semangat. “Kerja di mana?” Bapak dengan nada pesimisnya bertanya, “Jingga dapet panggilan kerja di radio, Pak.” Dan tanpa diduga, Bapak tertawa, tertawa mengejek, “Oalah, Ga-Jingga. Kerja itu di bank, di kantoran, mentok-mentok di mana gitu. Kok jadi penyiar, kerjaan apaan begitu. Gaji gak jelas, kerja juga gak jelas, kalo radio tutup ya kamu nganggur lagi.” Aku males banget, nih, kalo Bapak udah begini, untung Ibu tetap menyemangatiku, “Ka

