Pulang dari wawancara Ibu menyambutku di depan pintu, “Gimana, Nak. Hasil wawancaranya?” aku menganggukkan kepala, “Alhamdulillah sukses, Bu. Mulai hari Senin minggu depan Jingga bakal ditraining seminggu, setelah itu Jingga akan jadi karyawan tetap di sana.” Ibu memelukku. Bahagia Ibu melihatku tapi tidak dengan Bapak, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memasang wajah kecewa, “Jingga-Jingga, gak pernah cari kerjaan yang bener. Segala jadi penyiar radio lah. Terus gajinya berapa? Jam kerjanya gimana? Pulang kerja jam berapa? Jangan sampe kamu yang kerja tapi bikin repot satu rumah, loh.” Aku menjawab dengan santai semua pertanyaan Bapak, “Lumayan lah, kalo gaji mah. Jingga kerja mulai jam lima sore sampe closing radio jam sebelas malam. Tenang aja, Jingga kan ada motor, gak bakal ng

