Ibu 8

1705 Kata
Sudah satu minggu ini aku menyebar lamaran pekerjaan ke beberapa perusahaan yang memang kualifikasinya sesuai dengan kemampuan dan tingkat pendidikanku, sekolah menengah atas. Hanya saja, beberapa dari perusahaan itu juga seperti sengaja memasang lowongan pekerjaan di koran posisi yang ditawarkan adalah administrasi perusahaan, sementara ketika aku sampai di kantornya, justru mereka mencari orang yang mau menjadi tim penjualan produk mereka, “Ibu bisa langsung jadi tenaga administrasi di kantor kami jika nanti hasil penjualan yang ditargetkan tercapai, kenapa kami langsung meminta Ibu untuk terjun langsung ke lapangan adalah agar Ibu tau betul kondisi di tempat, bagaimana keinginan dan kebutuhan konsumen, apa saja barang yang mereka butuhkan, semacam belajar produk-produk yang di keluarkan oleh perusahaan kita, jika memulai dari bawah, sebagai tim marketing, maka untuk mencapai jabatan-jabatan selanjutnya akan mudah. Tapi ini hanya sampai tiga hari saja tesnya, jika memang dalam tiga hari itu bisa mencapai target setiap harinya, maka secara otomatis Ibu akan diangkat sebagai pegawai tetap di sini. Jangan terpaksa, ya, Bu. Dipikir-pikir aja dulu, kami tidak ingin calon pegawai di kantor ini merasa terpaksa menjalankan tes dari kami.” Aku mempertimbangkan ini, ada sebagian sisi hatiku yang setuju dan mau saja mencoba, tapi otakku berusaha keras menolaknya, jika memang mereka butuh bagian administrasi kenapa tes atau wawancaranya tidak ada yang berhubungan dengan bidang administrasi sama sekali, bahkan jauh, jadi aku menolak dengan halus tawaran bapak di depanku ini, “Maaf, Pak. Sepertinya saya belum bisa ikut. Ada anak yang harus saya jaga di rumah, jika harus berjualan keliling maka akan memakan waktu bisa sampai malam, jika harus mengejar target yang ditetapkan.” Wajah bapak yang ada di depanku langsung berubah dari yang tadinya sangat ramah berbicara denganku, langsung memasang wajah kesal dan nada bicaranya juga ketus, “Oo … begitu, ya, sudah. Langsung keluar ada dari ruangan ini, Bu. Ngabisin waktu saya aja dari tadi, tau gak mau begitu mending langsung tolak aja.” Aku menganggukkan kepala, bangkit berdiri dari dudukku, dan berpamitan, ketika aku berjalan menuju ke pintu keluar dari ruangan itu, aku masih bisa mendengar si bapak itu mungkin bicara dengan teman yang ada di sebelahnya, “Mau kerja tapi gak mau usaha, mau ngelamar jadi pegawai administrasi maunya langsung dijadikan pegawai tetap, kalo sarjana dan sombong begitu sih, gak apa-apa, ini udahlah cuma tamatan sekolah menengah atas, udah gitu sudah menikah, umurnya juga udah gak muda lagi, bagus tadi aku masih kasih kesempatan, liat aja, dia gak bakal dapet kerja di kantor dan perusahaan manapun kalo kelakuannya masih seperti itu. Aku tidak bereaksi apa-apa mendengarkan hal tersebut, biarlah mereka mau bicara apa, mungkin kesal karena harusnya aku bisa mendatangkan uang untuk mereka dari hasil berjualan tapi karena aku gak mau, jadinya mereka kekurangan sumber uang. Hari ini aku menerima pesan panggilan kerja di perusahaan penjualan emas, aku masukin lamaran ke sana kemarin atas rekomendasi dari teman sekolahku dulu, kebetulan ketika aku berjalan menyusuri jalan, sambil mencari dan tengok kanan kiri, barangkali ada semacam pemberitahuan yang dipasang di pintu gitu, dia memanggilku, “Hei, kamu Lastri, kan?” aku mengangguk, mencoba untuk mengingat-ingat, siapa lelaki yang ada di depanku ini, “Aku Doni, teman SMA-mu dulu, kita sekelas terus loh, dari kelas satu.” Aku membelalakan mata, “Loh, kamu, Don. Kerja di sini ya, wah, keren banget kamu.” Lalu dia mengajakku untuk masuk ke dalam kantornya dan langsung menuju ke kantin karyawan yang saat itu ramai banget, terlihat beberapa orang sedang berbincang serius, bisa terlihat dari mimik wajah mereka, “Mau minum apa, Lastri?” aku menggeleng, “Gak usah, Don. Aku barusan makan tadi.” Padahal aku berbohong, aku belum makan sama sekali, bahkan air minum bekal yang aku bawa dari rumah habis, aku berbohong seperti ini demi menghemat uang sepuluh ribu yang tersisa di kantongku, “Aku yang traktir, tenang aja.” Aku tetap menolak, sungkan, sudah beberapa tahun kami tidak bertemu, masa iya, baru ketemu sudah langsung ditraktir begini, “Gak usah, Don, serius deh.” Tapi dia memaksa, “Ya udah, kalo gak mau makan, aku pesankan es teh aja, ya.” akhirnya terpaksa aku mengangguk, “Boleh, deh.” Dan ketika Doni kembali dari memesankan minuman tersebut, dia bertanya kenapa aku bisa sampai di depan kantornya, aku jujur saja bilang ke Doni bahwa aku butuh pekerjaan, “Aku butuh pekerjaan, Don, untuk membantu suamiku, juga membeli kebutuhan di rumah, sekarang kondisi di kantor suami sedang tidak baik, makanya aku berinisiatif untuk mencari pekerjaan.” Dia lalu menepuk kedua tangannya, “Pas banget. Kantorku lagi membuka beberapa lowongan pekerjaan, kamu berminat?” mataku berbinar menerima berita ini, “Serius kamu, Don?” Doni mengangguk, tapi kemudian obrolan kami sempat terputus ketika seseorang membawakan pesanan minuman kami, “Bener banget. Besok kamu datang ke kantor ini jam sembilan pagi, bawa aja kelengkapan lamaran pekerjaan seperti biasa, nanti aku tunggu di pintu masuk, biar bisa langsung interview sama bosku, gimana?” aku mengangguk setuju, bahagia rasanya aku mendengar kabar ini, aku hanya ngobrol sebentar dengan Doni, karena memang sudah sore juga, kasian Jingga ditinggal dari tadi pagi, jadi aku pamit ke Doni untuk sekali lagi menegaskan janjinya akan menemuiku besok, “Bener, ya, Don, kamu bantuin aku.” Dia mengangguk yakin, “Pasti. Eh … aduh, dompetku tertinggal di kantor, sebentar kamu tunggu sini, ya, aku ambil dompet dulu …” aku menggeleng, “Udah, cuma es teh ini, biar aku yang bayar.” Bayangan akan mendapatkan pekerjaan besok seperti mendapat angina segar, Doni yang membukakan pintu kesempatan ini masa iya, sekedar bayar minuman aja aku gak bisa, maka uang selembaran sepuluh ribu yang tesisa di kantong kini berangsur ke tangan pramusaji tadi, “Es teh dua jadi delapan ribu ya, Bu, ini kembaliannya dua ribu rupiah.” Aku mengangguk, cukuplah uang ini untuk naik angkot sekali ke perempatan jalan gang depan rumahku, selebihnya aku bisa jalan kaki, agak jauh, memang, tapi ya, mau gimana lagi. Uang simpananku sisa ini. Maka aku pulang dengan wajah berbinar. Setelah menyiapkan sarapan, aku juga sudah pamitan dengan suamiku untuk pergi interview hari ini, “Udah, Bu. Jangan memaksakan diri, kalo memang gak dapet kerjaan, ya, di rumah saja toh, seperti kemarin.” Aku tidak menanggapi perkataanya, tekadku udah bulat, gak akan mundur. Jam setengah delapan aku pamitan pergi duluan, karena Mas Subagja masuk jam sembilan, jadi dia akan berangkat sekitar jam delapan nanti, “Aku pamit pergi duluan, ya. Kunci pintu ditaruh di bawah keset depan pintu aja.” Lalu segera berjalan kaki sampai ke ujung gang untuk menaiki angkot satu arah menuju ke kantor tempat Doni bekerja. Sekitar dua puluh menit kemudian aku sudah sampai di depan kantornya, tidak terlambat, bahkan masih ada sisa waktu, tidak telat adalah hal yang akan menjadi penilaian lebih bagi calon karyawan. Maka ketika sudah sampai di kantor tersebut, aku menunggu di depan pintu masuk agar terlihat oleh Doni. Tapi setelah hampir jam setengah sepuluh, Doni belum juga tampak batang hidungnya, maka aku berinisiatif untuk masuk dan menanyakan ke resepsionis, “Maaf, Mbak, mau tanya apa Bapak Doni ada? Kemarin saya janjian sama beliau di sini jam sembilan pagi.” Resepsionis ini mungkin karena bingung kenapa aku mencari Doni, menanyakan ada keperluan apa aku mencari Doni, “Kemarin saya ditawari untuk bekerja di sini, Mbak, berkas lamarannya juga sudah saya persiapkan.” Perempuan muda di depanku ini mengangguk, lalu memencet telepon yang ada di depannya, “Don, ini ada ibu-ibu nyariin lu.” Setelah menutup telepon tersebut si resepsionis menyuruhku menunggu, “Sebentar lagi Doni turun, ditunggu, ya.” aku mengangguk dan mencari kursi yang mudah dilihat dari berbagai arah. Tidak lama kemudian muncul Doni, “Maaf banget Lastri, aku lupa. Yuk, kita langsung menemui bosku.” Dan aku diajaknya naik ke lantai dua, masuk ke sebuah ruangan agak besar yang penuh dengan manusia berlalu lalang, dan dia mengantarkanku ke sebuah ruangan, “Bu Andriana, ini teman saya yang saya ceritakan kemarin.” Setelahnya Doni meninggalkanku dengan Bu Andriana ini, “Silakan duduk, Bu.” Lalu dia bercerita mengenai perusahaan ini yang bergerak di bidang jual beli emas, lalu berapa karyawan yang bekerja di sini, berapa gaji paling kecil jika bekerja di sini, dan sampailah di saat ketika ibu ini menanyakan tentangku, lulusan sekolahku, kegiatan harianku, “Sebenarnya kami tidak membatasi siapa saja yang mau ikut bergabung di perusahaan ini, hanya saja memang aka nada beberapa test yang akan dilewati, tahap pertama adalah tes wawancara ini, jika memang cocok akan lanjut ke tes kesehatan, setelahnya tes psikologi, test kejiwaan, dan tes fisik. Saya cocok banget nih, dengan penampilan Bu Lastri, anggun, baik, dan ramah, calon nasabah pasti juga akan senang jika berhadapan dengan Ibu.” Aku tersenyum, merasa bangga dipuji seperti itu, “Apakah Bu Lastri bersedia mengikuti tahapan-tahapan tersebut?” aku mengangguk dengan antusias, “Siap, Bu.” Lalu aku melihat ibu di depanku ini mengeluarkan selembar kertas, “Ini rincian biaya yang harus dibayarkan jika memang bersedia untuk mengikuti serangkaian tes tadi. Tenang saja tidak usah khawatir, uang segini akan langsung terbayarkan ketika nanti diterima jadi karyawan tetap dan” Aku terdiam, setelah membaca rincian biaya dan totalnya, terpampang jelas angka tujuh ratus lima puluh rupiah, besar sekali, tidak ada aku uang sebanyak itu, aku mencoba melakukan negosiasi dengan Bu Andriana, “Bu, saya tidak punya uang sebanyak itu. Kalo memang nanti saya diterima bekerja di sini, mungkin gajiku bisa dipotong.” Lagi dan lagi, wajah ibu ini kesal, “Kalo ngomong gak punya uang, ya, dari awal gak usah saya menjelaskan panjang lebar. Kalo gak ada uang, ya sudah berarti kesempatanmu untuk bergabung dan bekerja di kantor ini, gagal. Silakan keluar dari ruangan ini.” Aku bingung, toh uangku memang tidak ada, lagian kok aku yang cari kerja justru aku yang mengeluarkan uang. Ketika aku hendak turun ke lobi bawah, aku bisa melihat Doni, dia juga melihatku, aku melambaikan tangan ke arahnya, ingin memberitahu bahwa mereka mematok harga untuk serangkaian tes yang akan dilakukan, tapi entah kenapa aku melihat Doni seperti sengaja tidak menjawab sapaanku, setelahnya dia kembali menapaki anak tangga menuju ruangannya. Aku jadi bertanya-tanya di mana salahku. Lalu aku memutuskan untuk keluar dari gedung kantor ini, berjalan gontai menuju ke seberang jalan untuk menunggu angkot yang akan membawaku pulang ke rumah, pupus sudah harapanku. Bayangan akan mendapatkan pekerjaan dan menerima gaji di awal bulan seperti pupus ditelan keadaan ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN