Ibu 9

1620 Kata
Sudah hampir tiga minggu ini aku masih berkeliling menjajakan ijazahku yang belum juga laku. Aku benar-benar kesal dibuatnya, sebenarnya mungkin ini karena aku gak nurut juga sama suamiku, Mas Subagja. Tapi, aku melakukan ini toh tujuannya baik. Kemarin, ada sebuah rumah makan yang sedang mencari tukang cuci piring, aku sudah berniat dan bertekad menerima saja pekerjaan itu, karena gaji yang ditawarkan juga lumayan, hanya saja ketika diberi tahu jam kerjanya, masuk jam setengah tujuh pagi dan pulang sampai semua lauk dan sayur habis, yang biasanya sekitar jam sembilan atau jam sepuluh malam, aku mengurungkan niatku itu. Kalo seharian habis waktuku di rumah makan ini, nanti gimana aku mengurus dan mendampingi Jingga mengerjakan pekerjaan rumahnya, mengurus baju sekolahnya, juga mengurus Mas Subagja, maka dengan hati sedih aku menolak tawaran tersebut, “Wah, sayang banget, loh, Bu. Padahal Ibu sudah tinggal masuk saja, tidak perlu melamar pake ijazah segala.” Tapi kemudian aku benar-benar pergi dari situ dan mengucapkan terima kasih atas tawarannya. Maka aku langsung pulang dengan berjalan gontai, memang sesusah dan sesulit ini mencari pekerjaan, aku sudah tau dari awal, hanya saja karena kebutuhan yang mendesak dan juga rasa tidak betah berlama-lama di rumah, ingin mencari suasana baru, itu yang mendorong dan menjadikanku tidak sabaran. Hari ini, setelah selesai masak aku langsung berangkat untuk menjemput Jingga, info yang didapatkan dari Jingga semalam bahwa sepulang sekolah ini, akan ada rapat wali murid untuk membahas mengenai bazar yang akan dilaksanakan pekan depan. Bazar semacam ini memang sering diadakan pihak sekolah khusus untuk mereka yang anak-anaknya duduk di bangku kelas empat, lima, dan enam sekolah dasar. Kebetulan Jingga tahun ini sudah kelas empat, jadi dia akan ikut bazar ini untuk pertama kalinya. Aku mandi dan memilih baju yang agak bagus untuk dikenakan ke sekolah Jingga, biasanya aku memakai baju biasa saja kalo menjemput atau mengantar Jingga sekolah, tapi karena akan ada rapat ini, maka aku mencoba untuk mencari baju yang pantas agar tidak membuat Jingga malu. Beberapa kali aku mencoba untuk membolak-balikan pakaian yang ada, mulai dari yang dilipat hingga yang digantung, kebanyakan sudah mulai pudar warnanya, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku beli baju. Ada satu baju yang selalu jadi andalanku ketika akan pergi ke acara yang agak formal, tapi masa setiap kali ada acara di sekolah baju ini-ini saja yang aku pakai, “Kapan bisa beli baju lagi, ya? gak perlu yang mahal, cukup yang baik, dan enak dipandang jadi bisa berpakaian rapi.” Aku menghembuskan napas panjang, bahkan sekedar beli baju sepotong saja susah banget aku sekarang. Akhirnya aku memutuskan pilihan pada gamis warna biru dongker yang aku padukan dengan jilbab bergo warna hitam, baju lama yang sebenarnya sudah lusuh, tapi ditutup memakai jilbab bergo yang panjang ini, lumayanlah tidak terlalu kentara. Setelah selesai beberes, memulas bedak tabur sedikit dan memakai lipstik di bibir, aku memakai sandal yang sama saja usangnya dengan baju gamis yang aku pakai ini, sudahlah, mau ditutupi bagaimana pun, kemiskinan ini akan tampak saja di mata orang-orang, terima saja, mau maksa tampil dengan wah juga aku gak punya baju dan barang-barang yang menunjang. Tidak lama berjalan kaki dari rumah ke sekolah Jingga, sampai juga aku di depan gerbangnya, rupanya sudah ramai juga orang tua dan wali murid lainnya yang sudah sampai di sekolah untuk mengikuti rapat bazar kali ini. Aku celingukan mencari Jingga, rupanya dia sedang bermain dengan teman-temannya di depan kelas di sebelah kelasnya, dia melambaikan tangan ke arahku, rupanya dia tau aku sedang mencarinya, “Ibu, aku di sini.” Aku membalas lambaian tangannya dan tersenyum, lalu menghampirinya, “Rapatnya di kelas Jingga, kan?” dia mengangguk, aku melongok ke dalam kelas Jingga, sudah ada beberapa wali murid yang datang, aku langsung masuk saja dan mengambil tempat duduk di deretan tengah, agar tidak terlalu mencolok tapi tidak juga terlalu belakang agar seluruh informasi bisa aku tangkap dengan jelas dan baik. Ada ibu-ibu yang mungkin bisa dibilang sosialitanya sekolah ini, menggunakan gamis warna gonjreng dengan emas yang dipakainya di lengan dalam bentuk gelang, anting yang diselipkan di telinganya yang memakai jilbab itu, cincin yang terpasang hampir di setiap jarinya, dia menyapaku, “Eh, ini ibunya Jingga, kan? Kemarin anak saya bilang rolade telur buatan Ibu, enak. Saya sebenarnya mau pesan, tapi masih ragu, itu bahan yang digunakan aman untuk dimakan, kan? Terus higienis kan, Bu, pembuatannya?” aku tersenyum saja menanggapi nyinyiran orang ini, “Ya aman, Bu. Karena saya buat rolade itu juga anak dan suami saya ikut makan, masa saya mau mencelakakan mereka. Kalo masalah higienis, ya, bersih. Walaupun rumah saya bukan dari lapisan emas temboknya, tapi saya masih bisa kok beli sabun untuk mencuci tangan sebelum saya membuat masakan apa pun. Tanya ke mamanya Arum aja, mamanya Arum sudah beberapa kali pesan rolade telur ke saya, kayaknya sampai hari ini Arum dan keluarganya sehat-sehat aja.” Tidak berapa lama mamanya Arum nimbrung, “Iya, ih, mama Refan, saya udah gak keitung pesan rolade telur sama mamanya Jingga, enak, murah, bersih, kok. Kalo mau pesan mah yang banyak atuh sekalian, masa orang sekelas mamanya Refan pesan rolade telur yang murah aja sedikit-sedikit, ya, kan, mamanya Jingga?” aku mengangguk, sekilas mamanya Arum mengerling ke arahku, mungkin maksudnya agar aku meng-iya-kan dan ikut saja dengan apa yang dia bicarakan. Setelah obrolan basa-basi tersebut, wali kelas Jingga masuk ke dalam ruangan, kami yang sedang mengobrol akhirnya menghentikan obrolan kami dan mendengarkan penjelasan dari wali kelas ini, “Sekolah kita akan mengadakan bazar untuk anak-anak di kelas empat, kelas lima, dan kelas enam. Bazar akan diadakan hari Senin sampai dengan hari Rabu minggu depan, karena ini sudah hari Jumat, saya berharap, besok, melalui anak-anak saya bisa mendapatkan informasi barang dan makanan apa saja yang akan dijual masing-masing murid. Karena saya tidak mau ada makanan atau barang yang sama yang di jual dalam satu kelas ini, untuk menghindari saingan yang tidak sehat. Jadi saya harapkan besok Ibu dan Bapak sudah menyerahkan kertas ini kembali ke saya melalui anak-anak.” Wali kelas tersebut mengedarkan selebaran kertas untuk kami para orang tua isi. Sekitar satu jam kemudian, rapat wali murid dibubarkan, informasi yang aku dapat bahwa semua boleh dijual di bazar ini, makanan, pena, pensil, kerajinan tangan, hanya saja yang aman, dan harganya tidak lebih dari lima ribu rupiah per barang atau per potong kuenya, “Selain mengajarkan anak berwirausaha dan mandiri, bazar ini juga akan mengajarkan anak agar bisa mendapatkan barang dengan harga minim tapi kualitas bagus.” Begitu ucap dari wali kelas Jingga. Dalam perjalanan pulang menuju ke rumah kami, aku dan Jingga berjalan bersisian, ramai teman-teman Jingga yang membeli berbagai macam jajanan yang ada di depan sekolah, aku bisa melihat bahwa Jingga menginginkannya, tapi anak baik ini tidak pernah mengucap untuk meminta apa pun, “Ngga, mau jajan apa, pilih ya, Ibu yang traktir.” Seketika wajahnya berbinar, tapi kemudian redup lagi sambil menunduk dan menggeleng, “Gak usah, Bu. Hari ini jatah jajan Jingga kan udah Ibu kasih, buat besok lagi aja uangnya, untuk jajan Jingga ke sekolah besok.” Di balik gelengan kepalanya itu, aku tau kalo dia menginginkannya, “Jingga, kalo Ibu nawarin, berarti Ibu memang pegang uang lebih, tadi kebetulan Ibu dapat rezeki sedikit, yuk, Jingga mau jajan apa, Ibu yang traktir.” Jingga melihat ke arahku sekali lagi untuk memastikan apa yang dia dengar, “Beneran, Bu?” aku mengangguk dengan yakin, “Betul, donk.” Uang di dompetku sisa lima belas ribu untuk belanja besok, tapi demi melihat Jingga yang ingin makan ini, aku sisihkan sedikit untuk dia. Buat belanja besok, ya, lihat besok saja nanti belanja gimana. Jajanan yang dipilih Jingga punhanya burger seharga dua ribu rupiah, burger ala kadarnya tapi dia makan dengan lahapnya, “Ibu mau cobain, ya, biar Jingga suapin.” Aku mengangguk, menggigit sedikit untuk menghargai tawarannya, “Enak, kan, Bu? Jingga udah lama banget mau nyoba burger ini, tapi kalo uang jajan yang Ibu kasih Jingga beliin ini, Jingga gak bisa jajan sampe istirahat ke dua, akhirnya Jingga tahan aja deh.” Dan begitulah celoteh Jingga, mengantarkan dan mewarnai perjalanan kami hingga tidak terasa kami sampai juga kami di depan gerbang rumah. Ketika aku dan Jingga sudah masuk ke dalam, Jingga sudah masuk ke kamarnya dan mengerjakan pekerjaan rumah yang dibawa dari sekolahnya, aku mengambil buku untuk mencatat dan menghitung bahan-bahan yang aku butuhkan untuk membuat rolade telur yang nanti akan dijual di bazar yang diadakan di sekolah Jingga, hanya itu makanan yang sekarang ini terpikir olehku, selain memang sudah terbukti enak, buatnya juga tidak terlalu sulit, dan bahan-bahannya juga tidak mahal. Setelahnya terjumlahlah biaya sekitar seratus lima puluh ribu uang yang harus aku dapatkan, bukan mau berlebih-lebihan, tapi makanan yang dijual juga ada minimalnya, jadi tidak bisa hanya menjual sepuluh rolade saja misalnya, “Yang penting pastikan, selama bazar masih berlangsung makanan dan dagangan masih ada, jadi tidak ada stand yang habis dan pulang duluan.” Begitu pesan wali kelas Jingga. Satu-satunya jalan yang terlintas di kepalaku adalah ngutang lagi di warung Mpok Leha, padahal utang kemarin aja masih ada sisa. Tapi, ini jalan yang paling memungkinkan untukku mewujudkan Jingga agar bisa ikut bazar. Aku lalu mengeluarkan kertas selebaran tadi yang diberikan oleh wali kelas Jingga, kemudian aku isi, nama Jingga, namaku, dan barang atau makanan yang akan kami jual, “Bismillahirrahmanirrahim. Semoga ini bisa jadi jalan adanya tambahan uang untuk belanja.” Setelah selesai aku mengetuk pintu kamar Jingga dan menyerahkan selebaran tersebut ke Jingga, “Ini selebarannya disimpan di dalam tas. Besok jangan lupa dikasih ke wali kelas Jingga, ya, Nak.” Dia mengangguk, mengambil kertas itu dari tanganku, dan memasukkannya ke dalam tas, sekali lagi aku mengingatkan ke Jingga, “Jangan sampe lupa, ya, Nak.” Dan setelah memastikan hal tersebut, aku keluar, untuk mencari lagi lowongan pekerjaan yang mungkin saja ini hari keberuntunganku dan kutemukan hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN