Handphoneku berdering ketika aku sedang membereskan rumah, aku tidak tau ini nomor siapa, tapi karena mengingat aku sedang menunggu lamaran pekerjaan di mana yang akan memanggilku dan akan menerimaku sebagai pegawai mereka, “Selamat siang, benar ini dengan Bu Lastri?” aku yang merasa namaku disebut langsung membenarkan ucapan si penelepon, “Betul, Bu. Dengan siapa, ya, ini?” yang di seberang sana menjelaskan bahwa mereka dari perusahaan kontraktor, “Saya Anita, dari perusahaan kontraktor, di depan saya ada lamaran atas nama Ibu, apakah Ibu berminat untuk datang wawancara besok, sekitar jam sembilan pagi ke kantor kami?” aku hampir terlonjak kesenangan, tapi kemudian menyadari, khawatir ini seperti lowongan kerja yang kemarin, belum apa-apa aku sudah diminta untuk membayarkan sejumlah uang dengan embel-embel pemeriksaan kesehatan, psikotes, dan lain-lain, maka aku memastikan dulu hal tersebut, “Maaf, Bu, sebelumnya saya mau bertanya apakah akan ada tes-tes lain yang harus saya ikuti, apakah ada biaya yang harus saya keluarkan, apakah saya harus menjualkan barang agar mendapat pekerjaan di tempat Ibu?” penelepon di seberang sana tertawa, “Tenang aja, Bu Lastri, ini kantor beneran, kok, bukan kantor abu-abu yang suka menarik uang dari orang yang kesusahan.” Setelah memastikan hal tersebut, aku akhirnya menyetujui untuk datang wawancara besok. Aku semangat membereskan pekerjaan rumah hari ini, senang mendapat telepon dari kantor yang termasuk bonafit dan terpercaya. Ketika sudah hampir jam sebelas siang aku jalan ke sekolah untuk menjemput Jingga dari sekolahnya. Langkahku terasa sangat ringan, banyak harapan baru menumpuk di dadaku, banyak juga rencana baru yang aku buat untuk hidupku dan Jingga. Ketika sampai di sekolah Jingga, Bu Guru Aini menghampiriku, “Mamanya Jingga, saya boleh pesen rolade telornya, ya. buat lusa, saya titip seratus ribu, ya, Bu.” Aku mengangguk, “Bisa Bu Aini, insyaallah nanti saya buatkan, ya. Mau dianter ke sekolah atau gimana, Bu?” Bu Aini mengangguk, “Iya, Bu. Lusa sekalian dianter aja sambil jemput Jingga.” Setelah mengambil uang dari Bu Aini, bertepatan dengan bel sekolah Jingga berbunyi. Tidak berapa lama aku bisa melihat Jingga keluar dari kelas dengan bahagia dan senang, hari ini Allah baik banget, banyak kabar baik yang aku terima. Sesampainya di dekat rumah, aku mampir sebentar ke warung Mpok Leha, “Mpok Leha, mau beli donk.” Dengan suaranya yang khas, nyaring, ceria, “Eh, mamanya Jingga, mau beli ape nih. Roman-romannye hari ini bahagia bener. Ketiban duren montong nih, kayaknye.” Aku tertawa, “Alhamdulillah aje, Mpok. Tapi utang saya mah belom bisa dibayar, gak apa-apa, ya, Mpok.” Dia mengibaskan tangannya ke arahku, “Halah, kayak sama siapa aje, udeh berkali-kali diomongin, sama saya mah biasa aja.” Aku mengangguk, “Iye, Mpok. Makasih, ya. Hari ini mau beli telor setengah kilo, tahu dua bungkus, daon bawang dua rebu …” dan aku menyebutkan lagi semua kebutuhan yang aku perlukan untuk membuat pesanan rolade telur punya Bu Aini. Setelah selesai dan membayar, aku dan Jingga meneruskan perjalanan kami yang tinggal sebentar lagi untuk sampai ke rumah. Sesampainya di rumah, tidak seperti biasanya, Jingga langsung minta makan siang, “Bu, aku boleh langsung makan, kan? Janji setelah ini aku bakal langsung mengerjakan pekerjaan rumahku. Boleh, ya, Bu.” Aku mengangguk, “Boleh, kok, Nak. Tapi salin baju dulu, ya. bersih-bersih badan dulu, nanti kalo udah selesai Jingga langsung duduk di sini, ya, Ibu tunggu.” Sambil menunggu Jingga bebersih dan salin baju aku menghangatkan sayur dan lauk pauk untuk makan siangnya. Jingga yang menyendokkan sayur tumis kangkung kesukaannya banyak-banyak ke piring berhenti sejenak dan bertanya kepadaku, “Bu, Jingga boleh, kan, makan tumis kangkungnya sebanyak ini, untuk Bapak dan Ibu nanti masih ada, kan, Bu?” aku mengangguk, “Iya, makan sebanyak yang Jingga mau, Nak. Yang banyak, ya, makannya.” Dan selanjutnya aku melihat adegan Jingga yang makan dengan lahap, aku bersyukur juga atas anak ini, dia tidak pernah cerewet tentang masakan yang aku sajikan, semua sayur, lauk yang aku masak akan dia habiskan tanpa protes sedikit pun, bahkan ketika aku hanya membuatkannya telor orak arik dia juga memakannya dengan lahap.
Keesokan paginya, setelah mengantarkan Jingga ke depan untuk dia berangkat ke sekolah, aku juga sudah membereskan pekerjaan rumahku, masak, dan menyiapkan baju kerja Mas Subagja, aku berpamitan padanya, bahwa hari ini aku mau pergi, untuk menghadiri interview, “Hari ini aku pamit ya, Mas, ada panggilan kerja.” Seperti biasa, dia tidak meng-iya-kan tapi tidak juga melarangku, “Hati-hati, ya, Bu. Aku tidak bisa melarangmu, karena jika aku melarangmu, kamu akan mengancam akan pergi dari rumah, aku hanya bisa berpesan, hati-hati, ya. Jangan dipaksa, memang sekarang aku belum bisa membahagiakan dan membuatmu sering belanja kebutuhanmu, dan mencukupimu, tapi sekedar makan dan untuk tempat berlindung di rumah ini kan insyaallah cukup.” Aku hanya mengangguk, ucapannya sok manis, padahal dia sendiri yang menjadi pemicu aku melakukan ini. Kalo saja kemarin dia tidak berselingkuh sama perempuan itu, hari ini aku akan tetap menjadi istri yang nurut sama dia, yang gak akan pernah berpikir macam-macam sampai bersikeras mencari pekerjaan, karena peselingkuhannya itu yang menjadikanku ingin mengubah hidupku agar aku tidak diremehkan lagi.
Jam delapan tepat aku keluar dari rumah, lalu menyetop angkot yang kebetulan tidak lama datang ketika aku baru sampai di depan gang. Tujuanku kali ini memakan waktu yang lumayan lama, sekitar empat puluh lima menit perjalanan dan harus dua kali ganti angkot. Uang di kantong hanya tersisa dua puluh ribu, sisa dari membelanjakan semua keperluan untuk membuat pesanan Bu Aini, guru Jingga di sekolah. Setelah memakan cukup banyak waktu, dengan peluh yang menetes, bermodalkan pesan yang dikirimkan ke handphoneku kemarin oleh perwakilan dari kantor yang akan meng-interview-ku hari ini, aku mencari alamat tersebut. Cukup lama aku bolak balik bertanya ke beberapa orang, ternyata kantornya terletak di sebuah perumahan. Tepat jam sembilan aku sampai di depan kantornya, terlihat beberapa motor terparkir di depannya dan dua buah mobil. Aku mengetuk pintu depan yang langsung disambut dengan seorang lelaki paruh baya yang ramah sekali, “Iya, Bu. Cari siapa, ya?” aku membalas senyum tersebut, “Saya kemarin ditelepon sama salah satu karyawan di sini, mengabarkan bahwa hari ini saya akan ada wawancara di kantor ini.” Bapak tadi dengan ramah mempersilahkanku untuk masuk, “O … iya. Silakan masuk, Bu. Duduk dulu, ya, di sini. Tunggu sebentar.” Tidak lama si bapak masuk, terdengar dari dalam, mungkin mereka sedang membahas apa, ada ucapan dari salah satunya bertanya, “Cantik, gak?” lalu hening. Aku tidak mau ambil pusing mereka sedang membicarakan apa, yang penting aku dapat pekerjaan di sini. Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, muncul perempuan muda yang menyapaku, “Bu Lastri, ya. Saya Ica, yang kemaring nelepon Ibu, mari ikut saya, Bu.” Lalu aku mengikuti Ica ini ke sebuah ruangan yang di dalamnya ada seseorang yang jauh lebih muda dari bapak pertama tadi yang aku temui, “Silakan masuk, Bu. Silakan duduk, santai saja.” Sesantai-santainya aku duduk, tetap saja merasa gugup dan bingung, kedua telapak tanganku berkeringat, “Saya Darto, Bu. Kepala cabang kontraktor yang ada di Bandar Lampung. Kantor kami kebetulan berpusat di Jogjakarta. Kami di sini hanya ketika ada proyek saja, kebetulan untuk sampai satu tahun ke depan kami ada proyek di kota ini, jadi kami butuh orang. Oiya, Ibu sudah menikah, ya? sebenarnya yang kami butuhkan di kantor ini semacam OB saja, yang bisa bantu bersih-bersih dan masak di sini.” Aku mengangguk, tidak ada masalah, yang penting gajinya, tapi karena aku sungkan, aku belum berani menanyakan hal ini, kemudian si bapak ini meneruskan ucapannya, “Pagi jam delapan Ibu sudah ada di sini, kantor masuk jam sembilan pagi, jadi sebelum kantor beraktivitas, saya harap Ibu sudah membereskan kantor, membuatkan minum untuk semua karyawan, dan membuat sarapan. Sarapan yang sederhana saja, seperti nasi goreng atau roti bakar. Makan siang, nanti menunya akan dibuatkan sama anak-anak, Ibu bisa masak apa aja?” aku mengangguk, “Insyaallah saya bisa masak menu apa saja, Pak. Di rumah juga saya terbiasa masak dan beberes.” Dengan jawaban yang meyakinkan aku mencoba untuk menjawab dengan penuh yakin. Setelahnya si bapak ini melanjutkan ucapannya, “Kalo jam kerja dan pekerjaan yang akan Ibu kerjakan sudah tidak ada masalah dan tidak ada pertanyaan, sekarang kita ngobrolin urusan gaji, ni, Bu. Karena kantor kami bukan kantor pemerintah, termasuk kantor swasta, jadi gaji yang saya tawarkan juga gak besar, Bu. Angka ini sudah saya pertimbangkan dengan jarak rumah Ibu ke kantor kita. Nanti Ibu akan dijemput sama abudemen kantor, jadi Ibu tidak perlu keluar uang untuk ongkos, sarapan dan makan siang juga Ibu ikut makan di sini. Saya menawarkan gaji satu juta lima ratus ribu rupiah, bagaimana, Bu?” aku mencoba menimbang sebenarnya tidak ada ruginya juga sih, aku coba. Toh belum tau kalo gak dicoba, tapi aku ingin menegosiasi gajiku, “Terima kasih, Pak Darti atas tawarannya, saya senang sekali dapat kesempatan untuk interview di sini. Sebenarnya untuk pekerjaan dan jam kerja insyaallah tidak ada masalah, hanya saja jika diperbolehkan, saya mau nego mengenai gaji, Pak. Sekiranya bisa gajinya ditambahkan sedikit lagi, Pak. Saya mengajukan satu juta delapan ratus ribu, bagaimana, Pak?” Pak Darto di depanku tampak berpikir sejenak, tidak lama kemudian dia mengangguk, “Boleh, deh. Kita coba dulu selama tiga bulan, ya, Bu. Jika dalam waktu tiga bulan saya rasa performa Ibu tidak bagus atau kurang sesuai dengan yang saya harapkan maka ada dua pilihan gaji yang akan dikurangi atau Ibu yang kita selesaikan masa trainingnya dan tidak kita lanjutkan kontrak kerjanya, bagaimana?” tanpa menunda lagi, aku langsung mengangguk, “Baik, Pak. Saya setuju.” Setelahnya Ica yang tadi mengantarkanku ke ruangan ini masuk dengan membawa dua lembar kertas untuk aku tanda tangani, “Ini surat perjanjian kerja, satu untuk arsip Ibu, satu untuk arsip kami. Dibaca dulu, ya, Bu, sebelum ditanda tangani. Kalo kantor lembur, Ibu bisa ikut lembur, kan?” aku mengangguk. Setelah membaca kontrak kerja tersebut, aku langsung menandatanganinya, “Besok Ibu sudah mulai kerja, ya. Sesuai dengan yang tadi sudah saya jelaskan, ya, Bu.” Dan setelahnya aku pulang, hampir terbang rasanya, benar-benar bahagia sekali aku hari ini, tidak putus-putusnya mengucap syukur.