Saat makan malam, aku menceritakan ke Mas Subagja bahwa aku mendapatkan pekerjaan dan mulai besok akan langsung masuk kerja, “Aku sudah diterima bekerja di sebuah kantor kontraktor, besok diminta untuk langsung bekerja, sebagai OB, hanya beres-beres dan masak sarapan juga makan siang untuk orang kantor.” Tidak ada reaksi dari suamiku itu, dia hanya menyendokkan makan malamnya seperti biasa, justru Jingga yang bertanya, “Nanti kalo Ibu kerja, pulang sekolah Jingga dijemput sama siapa?” aku menjawab ucapannya, “Jingga bisa pulang sendiri, kan. Seperti biasa kalo Ibu lagi antar dagangan, kunci rumah juga nanti Ibu tarok di tempat biasa, Jingga pasti bisa. Anak Ibu sudah besar, Ibu kerja juga untuk nambahin uang jajan Jingga, ya. Insyaallah nanti Jingga bisa beli burger seperti yang kemarin itu.” Aku melihat binar di mata Jingga lalu anggukan yang penuh semangat, tapi tidak dengan suamiku, akhirnya dia buka suara juga, “Jam berapa pulangnya, terus udah kamu itung apa belum ongkos pulang pergi, makan siangmu, memangnya sepadan dengan jam kerjamu dan gajinya? Udah bagus di rumah aja ngurus Jingga, pake acara mau kerja segala.” Dia misuh-misuh tapi tidak aku pedulikan, “Gak ngeluarin ongkos sama sekali, pagi dijemput pulang juga diantar, sarapan dan makan siang juga ditanggung di sana, tenang saja, semua sudah aku perhitungkan.” Tidak ada lagi kalimat yang keluar dari mulutnya. Aku sudah tidak peduli lagi, sejak kepercayaanku dicoreng olehnya dengan jalan selingkuh, rasanya jika bukan karena Jingga aku sudah minta dia untuk menceraikanku, buat apa aku tidur dengan lelaki yang tubuhnya sudah dijamah oleh perempuan lain, yang bahkan sudah berkali-kali mereka terlibat hubungan layaknya suami istri tersebut. Hanya karena Jingga aku masih mempertahankan rumah tangga ini, tidak lebih. Bahkan tidur malam saja aku rela untuk menjauh dari sisinya, sudah tidak ada lagi romantisme atau kehangatan yang aku harapkan, jika lelaki ini mengajak berhubungan pun, aku melakukannya sebatas untuk menjalankan kewajibanku, tidak lebih, tidak ada lagi percikan cinta dan kasih sayang yang aku rasakan.
Setelah salat subuh, biasanya aku masih mengambil waktu untuk berbaring sebentar sampai jam setengah enam pagi, baru memulai aktivitas. Tapi karena hari ini adalah hari pertama aku bekerja, maka aku bergegas bangun dan membuatkan sarapan untuk Jingga dan Mas Subagja, karena Pak Adil, supir yang mengantar jemputku sudah janji akan sampai di rumahku tepat pukul tujuh pagi, “Selamat malam Bu Lastri, saya Pak Adil, saya yang akan menjemput dan mengantar Ibu pulang, besok pagi sudah stand by di depan rumah jam tujuh pagi, ya, Bu. Biar kita tidak kesiangan sampai di kantor.” Jadilah pagi ini aku bergegas, lebih baik aku yang menunggu daripada ditunggu oleh orang lain, aku tidak ingin kesan pertama pada hari pertama kerja jadi buruk karena aku terlambat. Aku memasak nasi goreng hari ini, sesuai permintaan Mas Subagja, dia ingin makan nasi pagi ini karena katanya pekerjaan hari ini akan banyak banget, maka setelah membuat bumbu, lalu memasaknya, aku juga menyeduhkan kopi dan teh. Jam di dinding menunjukkan pukul enam pagi, aku langsung membangunkan Jingga, menyuruhnya mandi, dan bersiap untuk berangkat ke sekolah, setelah itu membangunkan Mas Subagja, dan bergegas mandi, setengah jam kemudian Jingga sudah duduk dan mengambil nasinya di meja makan, aku juga sudah melihat Mas Subagja yang sudah bangun walaupun belum mandi, dan aku mengambil sedikit nasi goreng dan menuangkan teh hangat untukku, sekedar mengisi perut, “Ini rumah siapa yang mau beresin kalo kamu kerja, lihat itu, ruang tamu debunya banyak banget.” Aku dengan tenang menjawab, “Aku yang aku mengurusnya, kamu tenang aja. Taruh saja semua piring kotor, gelas, dan baju kalian di tempat seperti biasanya, lagian Mas, selama ini kamu gak pernah peduli sama debu di ruang tamu, kok sekarang malah openan banget. Wislah, aku berangkat dulu, doain lancar ya, pekerjaanku. Jingga, ingat pesan Ibu, ya, kalo di rumah sendirian langsung masuk dan kunci pintu, jangan bukakan pintu untuk siapa pun kecuali Bapak atau Ibu yang datang, paham, ya.” dia mengangguk, jam tujuh kurang lima menit aku sudah menunggu di depan gang, dan tidak berapa lama Pak Adil datang. Sesuai kesepakatan kemarin aku akan dijemput menggunakan motor. Aku bisa melihat beberapa tetangga seperti penasaran dengan orang yang menjemputku karena tidak biasanya aku pergi dijemput seperti ini. Perjalanan yang memang cukup panjang dan memakan waktu empat puluh lima menit, belum lagi ditambah macet mengular karena jalanan yang kami lewati adalah jalan protokol di mana area sekolah, kampus, dan perkantoran yang kami lewati, beberapa lampu lalu lintas yang tiba-tiba merah memaksa kami harus berhenti. Sesampainya di kantor, Pak Adil yang membuka pintu gerbang juga pintu kantor, “Ini dapurnya, ya, Bu. Silakan dipakai saja apa yang dibutuhkan, di dalam kulkas ini ada keperluan untuk masak, bahan makanan, bumbu, juga ayam, ikan, telur, tahu, dan tempe. Setiap minggu nanti Bu Lastri diminta untuk mencatat apa saja bahan makanan dan isi kulkas yang habis. Ada lima orang staf yang sarapan dan makan siang, ditambah saya dan Bu Lastri, jadi masak saja untuk tujuh sampai delapan orang. Biasanya bos kalo datang jarang mau makan di kantor, dia bakal ngajak kita makan di luar. Kerjanya di sini santai aja, Bu, tapi kalo ada bos, usahakan untuk pegang kerjaan, ya. Jangan sampai terlihat Ibu tidak ada kerjaan.” Aku menganggukkan kepala, “Kalo ada yang mau ditanya, tanyain aja ke saya atau ke staf di sini, gak apa-apa. Ini list minuman pagi, Mbak Ica dan Mas Rafat minum kopi itu takarannya sudah ditulis, sementara Mas Ageng, Pak Santos mereka minum teh, takaran gulanya juga sudah di situ, untuk Mas Arga dia minum s**u putih, itu susunya. Saya mah ngopi aja, gak perlu takaran pasti, yang penting jangan terlalu manis.” Aku mencoba mengingat semua informasi ini, agar nanti tidak ada kesalahan dalam membuat makanan dan minuman untuk staf di sini. Aku mulai untuk membuat sarapan terlebih dahulu, karena untuk minuman akan aku buat dadakan ketika para staf sudah sampai di kantor. Yang penting aku sudah memasukkan semua takaran yang diminta ke gelas masing-masing yang juga sudah ada namanya.
Setengah sembilan, sudah ada staf yang datang, lalu saling bermunculan susul menyusul dengan staf yang lain, “Wah, masih panas nih, kopinya. Keren Bu Lastri, ini baru bener, kopi dan minuman diseduh kalo orangnya udah dateng. Pertahankan, Bu, ke-kerenan-nya.” Aku tersenyum mendapat pujian tersebut. Setelahnya aku menyapu halaman dan juga menyikat kamar mandi agar jika dipakai selalu bersih. Tidak terasa waktu berlalu hari ini, ketika sedang besiap-siap mau pulang, bos besar yang tadi dibilang sama Pak Adil datang, “Mana pegawai baru yang kemarin katanya mulai bekerja hari ini?” aku yang merasa dipanggil langsung menunjuk tanganku, “Saya, Pak.” Dengan wajah kaku, dia memintaku untuk mengikutinya ke ruangan, “Ke ruangan saya sekarang.” Aku kemudian mengangguk. ketika sudah sampai di dalam ruangan tersebut, pak bos menyuruhku untuk duduk, “Duduk Bu, siapa namanya?” aku kemudian memperkenalkan diri, “Saya Lastri, Pak.” Dia mengangguk, “Saya Hadiantoro. Kalo ada saya di sini, kewajiban kamu adalah langsung masuk ke ruangan saya dan menunggu apa instruksi saya selanjutnya, paham? Sekarang, coba kamu lihat sepertinya isi di dalam kulkas saya itu sudah banyak yang kosong, apa saja, catat. Kamu bisa baca dan tulis, kan?” aku mengangguk, sebenarnya job desc ini tidak diberitahukan kepadaku kemarin, tapi ya, sudah, toh tidak ada yang aneh-aneh juga. Setelah selesai mencatat aku memberikan catatan tersebut ke Pak Hadiantoro, “Tanganmu mulus juga, untuk ukuran seorang ibu rumah tangga, berapa anakmu?” aku menjawab dengan wajah tertunduk, “Satu orang, Pak. Masih duduk di kelas empat sekolah dasar.” Seumur hidupku menikah, baru sekali ini ada lelaki yang memujiku, bahkan sekedar dibilang tanganku mulus saja aku merasa dihargai, “Ini uang jajan untuk anakmu. Besok saya ke sini lagi, kamu biasa jam berapa datang?” aku menjelaskan bahwa tadi pagi aku dijemput jam tujuh pagi di rumah, “Tadi pagi saya dijemput jam tujuh pagi sama Pak Agil, sampai di sini sekitar jam delapan kurang lima menit, Pak.” Dia mengangguk lagi, “Ingat ucapan saya tadi, kalo saya di sini, prioritas yang harus kamu dahulukan untuk dilayani adalah saya, paham? Sekarang coba kamu berdiri di depan saya sini, lalu berputar.” Aku agak keheranan juga dengan apa yang diminta Pak Hadiantoro ini, tapi demi memenuhi perintahnya, aku melakukan saja, “Oke, cukup. Tubuhmu juga terawat, tidak bau badan. Bagus, selalu mandi dan wangi jika mau ke kantor ini, saya gak suka melihat perempuan yang bau dan kucel, paham?” lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk. “Oke, kamu boleh keluar.” Setelahnya aku keluar diikuti oleh Pak Hadiantoro, “Bagus juga pilihan lu, oke nih.” Begitu ucap Pak Hadiantoro entah kepada siapa aku tidak berani melihat dan entah apa juga yang mereka bicarakan aku tidak paham. Setelah jam lima sore, satu per satu staf di kantor ini mulai pulang, Pak Hadiantoro pulang paling terakhir sekitar jam setengah enam, “Pak Bos kalo udah ke sini emang suka pulang sore gini.” Tidak berapa lama Pak Adil dipanggil, “Pak Adil, pulang saja duluan. Biar nanti Bu Lastri diantar pulang sama supir saya, saya masih butuh dia untuk membereskan ruangan saya.” Tidak ada pilihan lain, Pak Adil pamit pulang duluan. Setelahnya, lima menit kemudian Pak Hadiantoro memanggilku ke ruangannya, “Bereskan ini, nanti saya antar kamu pulang.” Aku lagi-lagi mengangguk. Sekitar lima belas menit kemudian pekerjaanku selesai, aku memeriksa lagi semua listrik, kompor, dan mengunci semua ruangan, “Hayok saya antar pulang.” Awalnya aku ingin menolak, biarlah aku minta jemput Mas Subagja, tapi pasti dia bakal merepet kalo diminta tolong begini, jadilah dengan perasaan yang tidak enak aku naik ke mobil Pak Hadiantoro, mobilnya bagus banget, aku belum pernah melihat mobil ini. Di dalam mobil, tidak ada percakapan terjadi, hanya saja kami sempat berhenti di sebuah mini market, entah apa yang dibeli Pak Hadiantoro, yang pasti aku melihat dua bungkusan besar ditentengnya. Perjalanan yang memang jauh, ditambah aku yang sungkan, terasa banget perjalanan pulang ini sangat panjang bagiku, ketika sampai di ujung gang rumahku, Pak Hadiantoro memanggilku, “Ini untuk anakmu, besok jangan terlambat.” Aku terbelalak, “Pak, ini banyak banget.” Tidak ada jawaban sama sekali, jadi aku langsung mengambil saja bungkusan itu, mengucapkan terima kasih, dan segera melesat berjalan menuju ke rumahku. Hari ini rezeki uang dan juga jajanan untuk Jingga yang melimpah yang Allah berikan untukku.