Ibu 12

1245 Kata
Sesampainya di rumah, aku disambut muka asam Mas Subagja, “Baru hari pertama aja udah pulang jam segini, gimana nanti kalo udah lama, bisa ada lembur, bisa ada kerjaan lain.” Aku diam tidak menyahutinya, hanya mengucapkan salam, lalu masuk ke dalam rumah. Mungkin karena melihat aku membawa dua bungkus besar, dia penasaran apa isinya, dia bertanya lagi apa yang aku bawa ini, “Itu plastik besar sampe dua buntalan begitu, apa isinya? Jangan bilang bosmu yang beliin kamu, ini baru hari pertama kerja, loh. Masa iya, baru hari pertama kerja kamu udah dikasih bermacam-macam ini. Tadi pagi kamu bilang bakal diantar jemput pake motor, kok pagi tadi dijemput pake motor tadi pulangnya diantar pake mobil?” merepet aja ini lelaki, kayak mulut perempuan. Aku yang capek tidak menanggapinya, hanya bilang, “Kebetulan lewat dengan arah jalan pulang bos. Itu tadi bosku yang nganterin, ini hadiah dari dia karena hari ini aku ikut lembur.” Setelahnya aku menuju ke kamar Jingga, sesampainya di depan pintu, aku mengetuk pintunya, walaupun pintu kamarnya tidak pernah dikunci tapi aku selalu membiasakannya untuk mengetuk pintu ke kamar atau di rumah siapa pun, biar tidak jadi kebiasaan buka pintu kamar sembarang tanpa izin yang punya kamar atau yang punya rumah. “Nak, Ibu udah pulang. Ibu buka pintunya, ya.” tanpa menunggu lama, dia langsung membuka pintu kamarnya dan menghambur ke pelukanku, “Ibu sore banget pulangnya. Dari tadi Bapak gak ngomong sama sekali, Jingga takut Bapak marah, makanya Jingga diam aja di kamar dari habis pulang sekolah dan Bapak pulang kerja tadi.” Aku memeluknya, selalu ada pengalaman menarik untuk yang pertama kalinya, dalam hal ini, Jingga yang pertama kali aku tinggal agak lama, lebih lama dari biasanya, lebih tepatnya, jadi demi menenangkannya, aku membelai rambutnya dan menanyakan bagaimana kabarnya hari ini, “Gak apa-apa. Bapak begitu karena Bapak khawatir sama Ibu. Oh iya, gimana pekerjaan rumahnya hari ini? Tadi di sekolah, gimana, Nak?” dia tersenyum, “Pekerjaan rumahnya udah aku kerjakan dari sepulang sekolah tadi, Bu. Di sekolah, ya, seperti itu aja, gak ada yang istimewa.” Lalu aku menunjukkan dua bungkus plastik besar ke hadapannya, “Kalo di sekolah Jingga gak ada yang istimewa, semoga isi bungkusan ini bisa membuat Jingga jadi istimewa.” Demi melihat apa yang aku bawa, matanya berbinar, lalu membuka satu per satu isi yang ada di dalamnya, “Wah … Ibu, ini banyak banget. Ibu dapet uang banyak, ya? tapi ini baru hari pertama Ibu kerja, kan, memangnya langsung dapet uang, ya, Bu?” aku menggeleng, sambil mengambil satu bungkus cokelat dan membukakannya, lalu menyuapkan ke mulutnya, “Ini hadiah dari bos Ibu karena hari ini Ibu ikut lembur di kantor. Doakan Ibu, ya, biar Ibu dapet uang banyak, biar bisa beli yang seperti ini lebih banyak, ya.” Jingga mengangguk sambil mulutnya mengunyah, “Ini semua untuk Jingga, ya, Bu?” aku mengangguk, “Boleh, kok. Tapi makannya gak boleh tiap hari, ya. Diselang seling, nanti kalo kebanyakan makan jajanan begini juga, giginya Jingga cepat rusak.” dia mengangguk. Setelah selesai aku ngobrol sama Jingga, sekitar lima belas menit kemudian aku pamit ke Jingga untuk keluar karena aku mau mandi dan membersihkan badan. Ketika aku keluar dari kamar, Mas Subagja sudah menungguku di depan kamar Jingga, “Kamu jangan kasih dia angina surga. Jangan sering-sering menjanjikan hal-hal yang seperti ini, nanti ketika dia sudah banyak berharap kamu malah gak bawa pulang apa-apa. lagian, kamu itu kerja di perusahaan apa? besok pagi biar aku yang nganter kamu dulu. Biar aku tau kantormu, nanti kalo ada apa-apa, aku bisa langsung menjemputmu ke kantormu, minimal aku tau kantormu.” Aku menggeleng, “Kamu gak perlu tau itu, umurku ini sudah banyak, aku bisa menjaga diriku sendiri, kamu gak perlu mengkhawatirkanku sampai sebegitunya.” Aku berlalu dari hadapannya. Rupanya dia tidak puas dengan jawabanku, dia mencegatku yang mau masuk ke dalam kamar mandi, “Jangan anggap remeh ucapanku. Hari gini, kalo ada orang yang baiknya kebangetan begitu, kamu patut mencurigai, jangan polos-polos banget jadi orang. Bisa jadi kamu dimanfaatkan untuk hal-hal buruk, kamu itu perempuan, Bu. Jangan sampai perangaimu yang lembut justru jadi santapan orang jahat, nanti …” belum selesai dia, Mas Subagja ngomong, aku memotong ucapannya, “Hanya karena kamu jahat, hanya karena perangaimu yang seperti itu, gak berarti semua orang yang baik, tidak berarti semua lelaki yang baik terhadap perempuan lain itu ada maunya. Jangan suka mengukur bajumu di badan orang lain, tidak akan pernah sama. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa yang aku kerjakan, aku bisa jaga diri, hati-hati saja dengan urusanmu, jangan sampai perselingkuhanmu itu masih kamu lakukan. Kemarin aku tidak meneruskan semuanya karena aku masih mikirin kamu, tapi kalo sekali lagi aku pergokin kamu masih sama gundikmu itu, aku tidak akan segan-segan melaporkan kalian ke kantor kalian, juga ke polisi, tuduhan perselingkuhan. Camkan.” Aku bisa melihat wajahnya terkesiap, pucat, aku tidak peduli. Setelahnya aku menutup pintu, bukan, membanting pintu di depan wajahnya yang lebih tepatnya. Aku mengambil waktu cukup lama di kamar mandi, padahal biasanya aku mandi hanya lima sampai sepuluh menit, entah kenapa, belakangan ini, kamar mandi selalu jadi tempat nyaman untukku bersembunyi dari hiruk pikuk, jika sedang tidak nyaman dengan hatiku, aku ke kamar mandi, gak ngapa-ngapain, hanya berdiam diri saja. Seperti sekarang, sebenarnya aku sudah berpakaian lengkap, tidak ada lagi juga yang aku kerjakan, hanya saja, membayangkan akan bersitegang lagi sama Mas Subagja membuatku enggan untuk keluar. Setelah menenangkan diri, ketika hatiku sudah enakan, akhirnya aku beranjak keluar dari kamar mandi ini, dan benar saja dugaanku, Mas Subagja sudah duduk di situ, di kursi makan yang memang berdekatan dan berhadap-hadapan dengan kamar mandi, “Besok aku dapet tugas ke luar kota, tiga hari.” Aku mengangguk, “Kok cuma mengangguk begitu, gimana sama Jingga? Aku gak di rumah, kamu kerja.” Aku menarik napas panjang, “Jingga itu udah gede, Mas. Udah kelas empat sekolah dasar. Dia sudah bisa jaga diri sendiri, lagian di rumah ini juga aman. Nanti aku usahakan pulang tepat waktu jadi sampai di rumah tidak terlalu kesorean. Sudah, tenang saja. Serahkan aja semua sama aku, toh selama ini, berhari-hari kamu pergi ke luar kota, yang katanya untuk kerja, kamu gak peduli juga sama aku dan Jingga, kok sekarang saat aku kerja kamu malah repot banget, Mas.” Dia menatap mataku, mungkin mencari alasan apa yang membuat aku jadi berani melawan semua ucapanku. “Jangan sombong kamu, baru juga sehari kerja kamu udah berani seperti ini ke aku. Aku ini suamimu, Bu. Jangan sampe kita bertengkar terus karena hal-hal seperti ini.” Aku hanya diam. Tidak menanggapi ucapannya. Aku tidak mau bertengkar, memutuskan untuk masuk ke kamar dan segera tidur agar besok bisa bangun pagi dan tidak terlambat masuk kerja. Fokusku sekarang hanya untuk membesarkan dan membiayai sekolah Jingga, bukan sombong, tapi memang aku mencari pekerjaan ini sengaja untuk berdiri di atas kakiku sendiri, aku tidak mau bergantung dan menggantungkan hidupku terhadap Mas Subagja, perselingkuhannya kemarin itu memang sudah aku maafkan tapi jujur saja tidak bisa aku lupakan. Hal ini yang terus saja terngiang dan selalu dalam ingatanku, betapa buruknya Mas Subagja menilaiku dan membicarakanku di depan gundiknya itu, sampai perempuan itu berani datang ke sini dan memintaku untuk berpisah dengan Mas Subagja. Kejadian seperti ini bukan yang pertama kalinya, tapi sudah beberapa kali terjadi, aku yang tadinya tidak mau ambil pusing, karena selama ini hanya sebatas pesan atau telepon saja, aku tidak menghiraukannya, tapi kejadian Diana kemarin, perempuan itu sampe berani datang ke sini, itu yang membuatku tidak habis pikir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN