Sudah masuk bulan ke tiga aku bekerja di sini, orang-orang di sini juga baik, tidak cerewet, dan selalu bilang langsung ke aku seandainya ada pekerjaanku yang kurang cocok dengan mereka atau ada hal-hal yang mereka rasa kurang pas, bukan seperti di tempat lain yang suka membicarakan orang lain di belakang tapi manis di depan. Jingga juga sekarang sudah terbiasa dengan keadaan ini, anak perempuanku yang hebat itu tidak pernah mengeluh sedikit pun, ketika bazar kemarin pun, tanpa aku damping, dia sudah bisa berjualan sendiri, dibantu sama wali kelasnya, aku hanya mengantarkannya sampai ke depan kelas dan menata rolade telur yang jadi jualanku hari itu, sisanya dia sendiri yang menjalankan, hebatnya lagi semua rolade tersebut habis tak bersisa, “Ibu buat lagi, donk, roladenya, biar nanti Jingga bisa jualin ke temen-temen Jingga di sekolah.” Begitu permintaannya ketika aku memberikan sedikit uang jajan sebagai hasil keuntungan dari yang didapatkan, aku hanya mengangguk, “Nanti kalo Ibu ada waktu, kita buat lagi, ya, biar bisa dijualkan sama Jingga.” Dan begitulah, nilainya di sekolah juga tidak turun, aku selalu berkomunikasi dengan wali kelas Jingga, dan jika ada sesuatu hal yang harus dibicarakan, wali kelas Jingga juga langsung menghubungiku. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya, utang di warung Mpok Leha perlahan bisa aku angsur, “Sekarang lu same laki lu pade kerja, ye. Enak, ya, alhamdulillah. Jadi bisa dikit-dikit bantu lakilu.” Begitu ucapan Mpok Leha pertama kali ketika aku melunasi semua sisa-sisa utangku di warungnya, aku hanya mengangguk, “Alhamdulillah aja, Mpok, ada rejekinya. Tapi ntar kalo aku mau ambil barang lagi, masih boleh, kan, Mpok?” dia mengangguk, “Ya boleh. Kapan pernah sih gue ngelarang ato gak ngebolehin lu ngutang di mari. Selama gue masih idup, khusus buat lu, mau ngutang apa aja, kapan aja, boleh, gak usah sungkan sama gue. Lu udah gue anggep adek sendiri. Makanya gue juga bisa ngomong ceplas ceplos begini ke lu, kalo sama orang laen mah, ogah gue punya urusan, pusing kepala gue, ribet.” Aku tertawa melihat tingkah Mpok Leha, benar-benar orang unik, ajaib, dan langka. Padahal aku dan Mpok Leha ini hanya kenal di sini, tapi baiknya ke aku dan Jingga gak usah ditanya.
Hari ini, Pak Adil bilang bahwa hari minggu nanti akan ada acara semacam gathering karyawan dan keluarga dari kantorku dan rencananya akan pergi ke Lembah Hijau, salah satu objek wisata tadinya aku tidak mau ikut, ingin memanfaatkan waktu ini untuk istirahat di rumah saja bareng Jingga, tapi Pak Bos langsung yang memintaku untuk ikut, “Bu Lastri, nanti ajak anaknya, ya, ikut gathering. Kita kumpul di sini jam sembilan pagi, nanti ada bus yang disediakan sama kantor, makan, jajanan, minum, dan uang masuk ke tempat wisata udah dikasih sama kantor, kalian cukup bawa badan dan keluarga aja, gak usah repot-repot bawa apa-apa.” karena sudah dibilang seperti itu, mau gak mau aku ikut juga. Setelah sampai di rumah, aku langsung menyampaikan kabar ini ke Jingga, “Hari Minggu besok di kantor Ibu ada acara, kita mau ke Bumi Kedaton, Jingga mau ikut?” tanpa memberi jawaban apa-apa, Jingga langsung menghambur ke pelukanku, “Ibu ini beneran, kan? Beneran, kan, Bu?” dari tawa bahagia berubah jadi derai air mata mengalir di pipinya, aku yang keheranan bertanya dia kenapa, “Loh, kenapa, Nak. Tadi ketawa, jingkrak-jingkrak, kok sekarang malah nangis, kenapa, Nak?” dia menggeleng, sambil kembali tertawa, isak tangisnya kini bercampur dengan tawa, “Jingga bahagia banget, Bu. Hari ini, Jingga tuh mendengar kalo Arum dan keluarganya bakal naek kereta api ke Palembang. Jingga bilang sama Allah, Jingga tanya, ya Allah kapan, ya, Jingga bisa jalan-jalan kayak Arum, sama Ibu dan Bapak. Makanya Jingga seneng banget, Bu.” Aku ikut meneteskan air mata, memang momen seperti ini langka sekali terjadi di kehidupan kami, sekedar bisa makan tiga kali sehari saja sudah bersyukur banget sama Allah, apalagi kalo sampe diberikan izin untuk pergi jalan-jalan ke objek wisata, ini adalah hadiah buat aku dan Jingga, tapi kemudian Jingga bertanya, “Yang ikut hanya aku dan Ibu saja? Memangnya Bapak gak boleh ikut sama kantor Ibu?” aku menggeleng, “Ibu, Jingga, dan Bapak. Tapi itu juga kalo Bapak mau, kalo gak mau, gak apa-apa, kan, Nak, kalo kita pergi berdua saja?” ada sebersit murung tergambar di wajah Jingga, tapi kemudian digantikan dengan senyum bahagia, “Ya, gak apa-apa, deh. Mungkin Bapak harus lembur bekerja di kantor, ya, Bu.” Aku mengangguk, anak yang pengertian sekali, walaupun entah Mas Subagja beneran lembur karena urusan kantor atau lembur untuk memuaskan semua keinginannya, aku sudah tidak mau ambil peduli lagi. Belakangan ini, aku sempat beberapa kali memergoki Mas Subagja kembali dengan kebiasaannya dulu, senyam-senyum melihat handphonenya, dan akan segera menutupnya ketika kepergok olehku. Saking kesal melihat dia seperti itu, aku sampai bicara ke dia, “Aku sudah mengalah berkali-kali, ya, Pak, sama kamu. Kalo sampai aku masih menemukan kamu selingkuh atau memiliki hubungan dengan wanita lain, jangan salahkan kalo aku juga akan mengikuti jejakmu, jangan salahkan kalo aku juga mencari bahagiaku di luar sana yang tidak aku dapatkan dari kamu.” Mendengar apa yang baru saja aku katakana, dia terlonjak, “Kamu itu kalo ngomong suka sembarangan, maksudmu kamu mau selingkuh juga kalo aku selingkuh, iya?” dengan enteng, aku menganggukkan kepalaku, “Iya, buat apa aku setia, tapi suamiku sendiri tidak pernah peduli lagi sama aku dan anakku.” Dia mendecih, “Halah, perempuan kayak kamu, gak pandai merawat diri, bisanya hanya nyusahin suami, mana bisa menarik hati lelaki lain, harusnya kamu beruntung aku ini masih bertahan denganmu. Kalo tidak, sudah lama sekali aku tidak akan ada di sini lagi.” Aku tidak membalasnya lagi, aku diam tapi hati kecilku bilang, “Akan aku buktikan bahwa aku bisa jadi permata di tangan yang tepat.” Demi mengingat hal tersebut aku menundukkan kepala, ada sakit di relung hati yang tidak bisa aku ungkapkan, Jingga yang melihat hal ini bertanya, ada apa denganku, “Ibu, kenapa kok Ibu tiba-tiba diam gitu, dadanya sakit, Bu, kok dipegangin begitu? Jingga ambilin minum, ya, Bu. Ibu gak kenapa-kenapa, kan?” ucapan penuh kekhawatiran meluncur deras dari mulut anak perempuanku ini, aku menggeleng, lalu membuka tanganku untuk bisa menjangkau tubuhnya dalam pelukanku, “Gak apa-apa, Nak. Ibu gak kenapa-kenapa, Ibu sehat, d**a Ibu juga baik-baik saja, Jingga tenang aja ya.” setelah cukup menenangkan Jingga, aku berjalan ke meja makan, dan menarik kursinya untuk bisa duduk di situ, aku mengeluarkan handphone dari sakuku, deringnya dari tadi berbunyi menandakan ada pesan masuk beberapa kali, “Udah sampai di rumah, belum?” Pesan lain yang masuk adalah, “Aku selipkan uang lima ratu ribu tadi aku tarok di kantong celana bagian belakangmu. Terima kasih, ya, atas hari ini, sudah lama aku tidak merasakan nikmatnya berselancar keringat seperti tadi.” Aku hanya membalas pesan itu dengan kata singkat, “Aku juga dengan senang hati mau melakukannya lagi.” Pesan itu aku dapatkan dari Pak Bos. Iya, sejak awal bulan kemarin dia seperti menaruh perhatian lebih terhadapku, aku yang awalnya diminta membersihkan meja kerja dan kamar yang ada di ruangannya lambat laun menjadi penghuni ranjang tersebut, aku sering diminta untuk lembur menemaninya bekerja, sambil dia bekerja, aku membereskan juga urusanku yang lain dengan tubuhnya, iya, kalian tidak salah membaca, selain jadi OB di kantornya aku juga jadi OB pribadi untuk tubuh bosku. Jangan hakimi aku, kalian ingat bagaimana ucapan suamiku terhadapku, dia yang menghinaku bahwa tidak akan ada lelaki manapun yang mau sama aku karena tubuhku yang bau, karena aku tidak pandai make up, karena aku tidak memiliki tubuh memikat, maka dengan ini aku membuktikan bahwa tubuhku wangi, tubuhku ada yang menginginkannya, bahkan tubuhku ini juga bisa membuat bosku sendiri tergila-gila, dia rela mengeluarkan kocek untuk sekedar membuatku berada satu ranjang dengannya. Bahkan besok pagi, dia menyuruhku untuk izin dan tidak masuk kerja karena dia berjanji akan membawaku jalan-jalan dan membeli apa saja yang aku inginkan, “Besok bilang ke Pak Adil gak usah jemput, nanti kamu aku yang jemput. Suamimu gak akan tau urusan ini, tenang saja, aku sudah mengaturnya.” Maka tadi aku sudah mengirim pesan ke sekretaris kantor untuk izin dan ke Pak Adil. Banyak pesan yang dia kirim ke handphoneku sekedar untuk mengingatkan kemesraan kami. Selain memang loyal, sudah beberapa juta uang dari koceknya sendiri dia keluarkan untuk diberikan kepadaku, dia juga tidak jarang membelikan banyak makanan dan jajanan untuk Jingga, Mas Subagja yang melihat ini, mungkin cemburu entah curiga, selalu saja ikut campur urusanku, “Mana ada lelaki yang baik sama perempuan, sampe mau keluar uang begini banyak tanpa ada embel-embel apa pun, jangan berulah, kamu, ya. Aku ini suamimu dan kamu istriku, setiap kegiatan dan tindakan yang kamu lakukan juga keputusan apa pun harus berdasarkan izinku, tanpa izinku jangan coba kamu berani berbuat macam-macam di luar sana, aku punya banyak mata yang bisa melaporkan apa saja yang sedang kamu perbuat.” Begitu ancamannya untukku tapi tidak aku hiraukan, bosku jelas saja lebih hebat dan jauh lebih berkuasa dari dia, berani-beraninya dia mengancamku. Kalo di rumah dia bisa menghargai, mencintaiku tanpa membandingkan aku dengan orang lain, seperti apa yang aku lakukan terhadapnya, aku juga gak akan berani macam-macam, tapi ini semua aku lakukan karena dia yang menghinaku terang-terangan di depan wajahku, dan aku tidak akan tinggal diam karena ini, ini adalah balasanku atas keangkuhan sikapnya merasa paling benar, yang merasa bahwa dia adalah makhluk yang paling harus dihormati.