Sejak semalam aku tidak bisa tidur dengan tenang, karena hari ini Pak Hadiantoro akan mengajakku ke suatu tempat yang dia rahasiakan, “Besok dandan yang cantik, ya. Gak perlu terlalu menor, aku sudah suka dengan wajahmu yang memiliki karakter itu, cukup memulas make up natural saja, besok kamu akan aku buat merasakan jadi ratu seharian.” Mengingat-ingat isi pesan itu, “Jadi ratu seharian” membuatku benar-benar sukses membuatku menebak-nebak apa yang akan dilakukan Pak Hadiantoro terhadapku dan kemana dia akan membawa kami. Tapi sejak semalam juga Mas Subagja seperti orang yang diam-diam sedang menyelidikiku, rencananya untuk ke luar kota katanya dibatalkan oleh kantor dan dipindahkan ke minggu depan, “Aku gak jadi dinas ke luar kota, jadwalnya dipindahkan ke minggu depan.” Begitu ucapnya tadi dan aku lagi-lagi hanya mengangguk, tapi kemudian tiba-tiba Mas Subagja melakukan hal yang tidak biasa, dia meminjam handphoneku, “Aku pinjam handphonemu, donk. Ini aku kelupaan isi pulsa.” Agak heran juga, karena biasanya dia tidak pernah peduli dengan handphoneku, dia tidak pernah ambil pusing sama barang-barang pribadiku, tapi hari ini dia berbeda, dan karena memang aku tidak pernah menyimpan apa pun, bahkan chat yang dikirimkan Pak Hadiantoro selalu langsung aku hapus setelah aku baca, maka dengan santai saja aku memberikan handphoneku, “Nih, Mas.” Lalu aku ke kamar Jingga untuk menemaninya bermain, karena waktuku bermain bersama anak semata wayangku ini memang benar-benar sedikit, jadi sebisa mungkin jika ada waktu luang maka aku usahakan untuk menemaninya, sekedar ngobrol tentang sekolahnya, tentang teman-teman di kelasnya, atau bahkan sekedar ngobrol jajanan apa yang dia beli hari ini, “Bu, hari Minggu nanti, jadi kita jalan-jalan?” aku hampir melupakan ini, aku mengangguk, “Iya, jadi.” Sambil meneruskan obrolanku sama Jingga, sambil otakku juga berpikir apakah aku akan mengajak Mas Subagja ke acara gathering kantor hari Minggu besok, di satu sisi karena ini gathering kantor otomatis semua anggota keluarga diperbolehkan ikut, tapi di sisi lain aku juga tidak mau orang di kantor tau mengenai perangai suamiku yang kurang baik ketika berinteraksi denganku, aku khawatir Mas Subagja tidak bisa menempatkan dirinya, bisa saja dia tiba-tiba ngomong yang aneh mengenai pekerjaanku atau mengenai dia yang sebenarnya tidak mengizinkanku bekerja, hal-hal seperti ini akan mengganggu pekerjaanku, tapi kalo aku gak memberitahunya dan dia tau belakangan setelah acara selesai juga rasanya gak mungkin, dia pasti bakal marah besar, entah mau ikut atau tidak, sepertinya memang sebaiknya aku memberitahu Mas Subagja. Jingga yang sejak tadi berceloteh perlahan mulai berkurang intensitas bicaranya, aku bisa melihat dia mulai kelelahan dan mengantuk, “Jingga tidur, ya. Ibu mau keluar, mau beresin sayuran untuk sarapan besok.” Dan setelahnya aku keluar, masih menemukan Mas Subagja yang duduk di teras depan, memegang handphoneku. Aku bergegas ke depan, “Mas, hari Minggu besok di kantor ada acara gathering, aku rencananya mau ngajak Jingga sekalian dia jalan-jalan, rasanya dia udah lama juga gak keluar rumah. Mas mau ikut?” satu menit, dua menit, lima menit kemudian Mas Subagja tidak mengeluarkan sepatah kata pun, tapi wajahnya menatapku, aku yang keheranan bertanya, “Ada apa, Mas?” dan akhirnya dia bicara angkat suara juga, “Itu tadi kamu ngajak aku ikut atau sekedar memberitahu seolah-olah kamu gak bersedia atau gak senang kalo aku ikut, takut, ya, kamu ketahuan selingkuh dan main dengan orang di kantormu?” aku membelalakan mata, isi otak lelaki ini gak jauh-jauh dari perselingkuhan dan pengkhianatan, “Aku sudah menahan sabar sejak kemarin hari pertama aku baru masuk kamu sudah menuduhku macam-macam, sekarang, sudah beberapa bulan aku bekerja di situ, kamu masih juga menuduhku seperti itu, Mas. Kalo pun memang aku selingkuh dengan teman kerjaku atau dengan salah satu karyawan di sana atau bahkan dengan bosku sekalipun, memang apa salahnya? Toh kamu juga selama ini udah gak pernah lagi peduli sama aku. Kamu pulang ke rumah ini hanya sebagai tempat singgah saja, pagi kamu pergi dan kita hanya bertemu sebentar, malam hari aku sudah di atas tempat tidur dan kamu baru pulang, setelah mandi pun kamu langsung tertidur, pernikahan macam apa yang kamu tawarkan ke aku jika kamu sendiri melakukan hal seperti itu?” Aku bisa melihat kilatan marah di matanya, “Perempuan kalo dikasih hati itu kayak kamu, gaji gak seberapa, baru kerja beberapa bulan aja sudah berani membantah dan melawan suami.” Aku tersenyum sinis, “Aku tidak akan seperti ini kalo kamu tidak memulai duluan, Mas. Siapa yang menyimpan bangkai busuk perselingkuhan? Siapa yang memulai menabuh genderang perang perselingkuhan? Aku? JELAS BUKAN, SEMUA INI KAMU YANG MEMULAI!” aku menatap matanya ketika bicara seperti itu, “Dan apakah salah, kalo sekarang aku jadi lihai melakukannya karena berguru dan belajar padamu, suamiku sendiri?” dengan telak aku mengatakan hal tersebut, dia mendecih, “Perempuan gak tau diri. Lelaki mana yang mau sama kamu, kalo pun ada, standarmu pasti rendah, siapa lelaki itu, pasti temanmu juga, kan, sesama OB pegawai rendahan. Cocok, memang, OB selingkuh dengan OB akan menghasilkan hubungan yang busuk dan aromanya sangat bau, seperti baunya sampah-sampah yang kalian kumpulkan dan kalian bersihkan.” Aku tidak bisa menahan lagi hinaannya, Mas Subagja benar-benar sudah keterlaluan, aku mengambil gelas kopi yang berada di depannya, melemparkannya ke dinding yang ada di belakangnya, “Mulai hari ini, urus saja urusan kita masing-masing, kamu urus hidupmu yang penuh drama itu dan aku akan mengurus hidupku dan hidup Jingga. Tidak perlu kamu khawatir akan keberlangsungan hidup Jingga, semua keperluan hidup dan biaya sekolahnya akan aku urus. Bukan karena aku hebat atau karena sekarang aku sudah memiliki pekerjaan, bukan. Aku yakin seperti ini karena aku percaya, Tuhan akan melindungiku dan Jingga, Tuhan yang akan mengurusku, alih-alih menyerahkan hidupku dan Jingga di tanganmu lebih baik aku berdiri di atas kakiku sendiri, toh selama ini uang dan nafkah darimu juga tidak pernah cukup bahkan sekedar untuk memenuhi kebutuhan Jingga, aku juga yang harus putar otak mengirit semua pengeluaran di rumah ini, sementara di luar sana kamu dengan bebas menghambur-hamburkan uang untuk gundikmu itu, apa pernah kamu memikirkan aku dan Jingga, HAH?” kesabaranku habis, tidak mau lagi aku tunduk di bawah kendalinya. Melihat aku yang sudah seperti kerasukan setan, melihat aku yang mungkin tidak pernah dia bayangkan ada pada posisi ini, Mas Subagja memilih untuk melemparkan handphoneku yang sejak tadi dipegangnya, “Oke, kalo memang maumu seperti itu, kita urus hidup kita masing-masing, jangan pernah lagi kamu meributkan mengenai dengan wanita mana aku sedang dekat, jangan lagi kamu meributkan tentang uang belanja yang gak pernah cukup, karena aku tidak akan pernah menambah jumlahnya, toh sekarang kamu juga udah kerja, berarti kamu udah gak terlalu memerlukan uang dari aku, kan?” aku memungut handphoneku yang untung saja termasuk handphone yang tahan dan bandel, tanpa melihatnya lagi aku langsung masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam, terserah dia mau tidur di mana aku tidak peduli, mulai malam ini kami akan menjalani hidup kami masing-masing, tanggung jawabku adalah Jingga, selebihnya bukan urusanku. Tidak berapa lama ada pesan masuk di handphoneku, “Udah tidur apa belum calon ratu sehariku?” iya, pesan itu datangnya tepat ketika handphone ini sudah kembali berada di tanganku, kesal dan marah yang tadi menguasai diriku lenyap entah kemana berganti dengan senyuman dan aku yang sedang tersipu karena dipanggil seperti itu, “Aku baru aja masuk kamar, Pak. Barusan beres menemani anak buat pekerjaan rumah dari sekolahnya dan menemani dia bermain karena kalo tidak malam begini saya gak ada waktu untuk berinteraksi sama dia.” Tidak berapa lama masuk lagi pesan jawaban, “Wah, Ibu hebat. Bisa bagi waktu antara bekerja dan keluarga. Sebentar lagi ibu hebat ini juga harus membagi waktunya untuk seseorang lainnya, loh.” Ada emotikon senyum malu di akhir pesan, aku tau seseorang yang dimaksud Pak Hadiantoro ini adalah dirinya sendiri, tapi demi tidak mau berakhirnya obrolan kami malam ini dengan cepat, aku mengirimkan pesan yang berisi seolah-olah aku tidak paham dengan siapa seseorang yang dimaksud tersebut, “Seseorang ini siapa, ya, maksudnya, Pak?” beberapa menit aku menunggu pesan tersebut, hampir sepuluh menit kemudian pesan dari Pak Hadiantoro baru masuk, “Kamu kenapa sih, masih panggil aku Bapak, kita kan sudah sepakat, kalo di kantor aku atasanmu tapi di luar kantor kamu panggil aku Mas Hadi, iya, kan?” aku bisa membaca ada nada marah di ketikannya, lalu secepatnya aku membalas, “Iya, Mas Hadi, maaf, aku masih sering lupa dan belum terbiasa.” Dan seketika kemudian pesan balasan datang, “Harus dibiasakan, karena mulai sekarang kita akan lebih sering berduaan saja dan lebih sering berkirim pesan, aku gak mau kamu masih kaku saja seperti ini.” Dan begitulah kami menghabiskan malam itu dengan ngobrol ngalor ngidul sampai lupa waktu dan aku tertidur tanpa sadar dengan masih memegang handphone di tanganku dan terkejut ketika mendengar suara azan subuh yang sayup-sayup terdengar.