Ketika azan subuh berkumandang aku memutuskan untuk langsung ke kamar mandi dan mengambil air wudu, ketika membuka pintu kamar aku bisa melihat Mas Subagja masih tertidur di sofa yang ada di depan televisi, dan aku acuhkan. Dia toh, yang semalam bilang kalo mulai sekarang kami akan mengurus hidup kami masing-masing, mau dia tidur, mau dia salat, mau dia kesiangan, bukan urusanku lagi. Sekitar pukul lima subuh, selesai salat aku langsung ke dapur, dan aku bisa melihat Mas Subagja terlonjak kaget karena dia kesiangan salat subuh, dengan misuh-misuh melihat aku yang sudah sibuk berada di dapur, “Kenapa aku gak dibangunin salat subuh, sih. Kan aku jadi gak bisa salat subuh di masjid.” Aku diam, mengacuhkan ucapannya, “Bu, kenapa aku ngomong gak dijawab, sih?” aku menghentikan kegiatanku di depan kompor, “Kamu yang bilang semalam kalo kita urus saja urusan hidup kita masing-masing, aku dan Jingga akan mengurus hidup kami dan kamu akan mengurus hidupmu sendiri, sekedar mengingatkan saja kalo-kalo mungkin kamu lupa.” Aku melihat dia melotot, tapi aku tidak peduli, setelah bicara seperti itu aku kembali meneruskan aktivitasku membuat sarapan, ketika sedang fokus menggoreng telur, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangku, aku yang terkejut menjerit, “Apaan sih. Gak usah pegang-pegang deh.” Lalu dengan refleks dan secara paksa melepaskan tangan Mas Subagja yang rupanya memeluk pinggangku, bukannya dilepaskan dia justru merapatkan tubuhnya ke tubuhku, “Masih subuh, enakan kita masuk kamar lagi, nih. Buat adik yuk, untuk Jingga. Siapa tau, kalo kamu hamil lagi, kamu bisa lebih cantik dari sekarang, aku juga udah kangen.” Dasar lelaki yang isi kepalanya hanya m***m saja, lupa rupanya dia kalo semalam dia sendiri yang bilang tidak akan lagi mau berurusan sama aku, “Tidak. Aku sudah mengambil keputusan semalam dan begitu juga kamu, Mas. Kita akan urus hidup kita masing-masing, maka jangan lagi kamu punya pikiran untuk melakukan hal tersebut sama aku, karena aku jelas-jelas tidak akan pernah melayani kamu lagi di ranjang. Silakan kamu minta saja jatah untuk urusan kebutuhan biologismu itu sama perempuan yang jadi gundikmu selama ini, aku tidak akan peduli lagi.” Dengan kasar akhirnya dia melepaskan tangannya dari tubuhku. Impas, kan. Biar dia juga merasakan bagaimana rasanya penolakan. Aku melihat dia dengan enggan masuk ke kamar mandi dan aku kembali meneruskan urusanku di dapur, setelahnya sepuluh menit kemudian aku ke kamar Jingga dan melihatnya sudah duduk di kursi belajar. Kebiasaan Jingga adalah mengulang lagi pelajaran kemarin ketika waktu subuh seperti ini setelah salat subuh, “Kalo udah selesai, Jingga mandi, ya. Ibu udah buatin sarapan roti panggang untuk Jingga.” Dia mengangguk dan aku keluar dari kamar Jingga menuju ke kamarku untuk mencari beberapa pasang baju yang mau aku coba untuk aku putuskan hari ini mau pakai yang mana, karena hari ini hari yang cukup istimewa, aku tidak mau berpenampilan biasa-biasa saja. Meskipun memang baju-bajuku tidak mahal, tapi sejak memiliki gaji dari bekerja dan beberapa kali dikasih uang sama Mas Hadi aku membeli beberapa potong pakaian yang pantas, yang enak dan indah dipandang mata. Sekitar setengah jam kemudian, pintu kamarku diketuk, ada suara Jingga di sana, “Bu, Jingga udah siap-siap mau berangkat sekolah.” Aku melihat ke jam yang ada di dinding sudah setengah tujuh rupanya, maka dengan cepat memutuskan baju mana yang akan aku pakai, lalu menyimpan semua barang-barang yang aku perlukan dan yang akan aku bawa ke dalam satu tas besar, lalu memindahkannya ke kamar Jingga, karena aku tau jam-jam segini adalah jamnya Mas Subagja akan mempersiapkan kebutuhan kerjanya, tas, baju, dan alat-alat kantor. Ketika membuka pintu, Jingga sudah tersenyum menyambutku, “Loh, Ibu mau ke mana, kok bawa tas gede gitu?” mungkin dia penasaran melihat tasku ini, “Gak ke mana-mana. Ini baju yang mau Ibu pake buat kerja, mau dititip di kamar Jingga, boleh, kan?” dia mengangguk, “Sekalian aja, Bu, Ibu pindahin semua baju Ibu jadi Ibu tidur sama Jingga aja di kamar Jingga, bolehkan, Pak?” Jingga dengan tiba-tiba bertanya seperti itu, Mas Subagja yang mendapat pertanyaan mendadak hanya mengangguk, Jingga melompat kegirangan, ‘Hore, jadi mulai nanti malam Ibu tidur sama Jingga, ya, Bu. Asik, nanti bacain Jingga cerita, ya, Bu.” Aku mengangguk, ada benarnya juga, ide yang bagus juga kalo aku tidur aja sama Jingga di kamarnya, jadi aku tidak perlu ketemu dengan Mas Subagja terlalu sering. Setelah menaruh tas di kamar Jingga, aku berjalan mengiringi Jingga sampai ke gerbang depan, “Hati-hati, ya, Nak. Jangan lupa, ya, seperti biasa, pulang sekolah langsung pulang, masuk rumah, dan kunci rumahnya. Kalo ada yang ngetok pintu gak usah dibukakan, kecuali Bapak atau Ibu, jangan pernah idupin kompor, makan siang untuk Jingga bakal Ibu siapin di meja makan, jajanan untuk Jingga juga udah Ibu tarok di laci meja belajar Jingga.” Setelah mencium tanganku dan aku mencium keningnya, Jingga akan melangkah berjalan ke arah sekolahnya dan aku akan menunggunya sampai bayangan gadis kecilku itu menghilang di pengkolan depan. Kenapa aku berani membiarkan Jingga untuk pergi dan pulang sekolah sendiri, karena jarak dari rumah kami ke sekolah Jingga tidak jauh, hanya sekiat sepuluh menit berjalan kaki santai, dan sepanjang perjalanan ke sekolah itu juga banyak rumah teman-temannya yang dilewati, banyak juga dari mereka yang akhirnya bergerombol dan berangkat ke sekolah barengan. Ketika sudah tidak lagi melihat bayangan Jingga, aku berbalik masuk ke dalam rumah, dan berpapasan dengan Mas Subagja di depan pintu, tumben banget jam segini dia udah rapi dan bersiap keluar rumah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung menuju ke garasi dan menghidupkan sepeda motornya lalu berangkat tanpa pamit kepadaku dan tanpa sempat aku bicara apa-apa ke dia. Tidak mau ambil pusing dengan keadaan ini, aku bergegas untuk masuk, dan berganti pakaian, ketika sedang memasang pengait rok di pinggangku, handphoneku berdering, panggilan dari Mas Hadi masuk, “Iya, Mas. Aku lagi siap-siap nih, Mas udah di mana?” yang di seberang sana terkekeh, “Udah gak sabar banget, ya, ketemu sama Mas. Ini Mas sudah hampir sampai di dekat gang rumahmu, kalo udah selesai lekas ke depan gang, ya, biar kita bisa langsung jalan, biar tetanggamu yang kepo-kepo itu gak sempet bergorsip.” Aku yang gentian tertawa, “Lah, biarkan saja, Mas. Aku sudah kebal terhadap omongan mereka. Sebentar lagi aku selesai, tinggal kunci pintu aja. Tunggu, ya, Mas.” Dan aku bergegas untuk menyelesaikan memakai pakaianku, lalu memastikan kompor mati, tidak ada colokan listrik yang terpasang, dan keluar lalu mengunci pintu dan menaruh kunci tersebut di bawah pot putih, tempat biasa aku menyembunyikan kunci yang Jingga dan Mas Subagja juga tau. Lalu melesat jalan menuju ke depan gang. Benar saja perkiraanku, ibu-ibu yang lagi belanja di warung Mpok Leha, usil nanyain aku, “Wah, sekarang antar jemput kantornya pake mobil mewah, ya, mamanya Jingga.” Aku hanya tersenyum, lalu permisi ke mereka, “Mari, ibu-ibu.” Dan ketika sampai di depan gang, aku sudah bisa melihat mobil Mas Hadi terparkir di sana, “Pas banget sih, kamu datang.” Dan aku langsung duduk di sebelah Mas Hadi dan dia langsung tancap gas. Sepanjang perjalanan dia tidak melepaskan genggaman tangannya dari tanganku, “Mas, aku ini jelek loh kalo dibandingkan dengan perempuan yang berada di sekelilingmu, bahkan bagaikan langit ke tujuh dan kerak bumi jika dibandingkan dengan istrimu, apa sih, Mas, yang bikin kamu sampe seperti ini ke aku? Kamu hanya iseng aja, ya, sama aku?” dia tertawa, “Hubungan kita ini kan kamu sudah tau, memang tidak akan beranjak ke mana-mana, kita hanya akan menikmatinya saja sampai waktu yang akan memberi tanda bahwa kita harus berpisah.” Ada sakit yang lumayan terasa di sudut hati, dari ucapannya Mas Hadi memang tidak pernah serius dengan hubungan kami ini, “Jangan murung gitu, donk. Sekarang ini yang penting kita nikmati aja setiap detiknya, ya. Toh aku juga gak akan ke mana-mana, toh kamu juga memang butuh aku dan uangku, biarkan hubungan ini berjalan sebatas hubungan romantis dan bisnis, jangan terlalu diambil pusing. Kita nikmati saja.” Lalu dia mendaratkan kecupannya di bibirku, aku yang terkejut dengan rasa manis dari bibirnya yang sudah beberapa kali mendarat di bibirku langsung merasa seperti tersengat. “Sayang, cardiganmu dibuka aja, donk. Aku mau lihat bahumu yang cantik itu, lagian di dalam mobil ini kan tidak ada yang melihat …” dan tanpa menunggu persetujuanku, dengan satu tangannya berada di kemudi dan tangan satunya lagi sudah berhasil meloloskan cardigan yang aku pakai untuk menutupi baju lengan pendek yang aku pakai di dalamnya, “Nah, kalo begini kan cantik. Sayang, aku tuh kangen banget tau sama kamu, apalagi si dia nih, udah dari semalam gelisah nungguin disentuh sama kamu,” ucap Mas Hadi mengarahkan pandangannya ke bagian bawah tubuhnya yang sensitif itu, aku terbelalak, “Masa sekarang, Mas. Ini masih di mobil, loh.” Dia mengangguk, “Iya, sekarang, aku udah nahan dari semalam, sayang …” kemudian dia menyelipkan lembaran merah yang tebal ke dalam tasku, aku meliriknya, itu uang, iya, aku bisa pastikan itu uang, “Nanti aku tambahin lagi, sekarang, hayok, donk, sayang …” masih dengan posisi seperti tadi, satu tangannya berada di balik kemudi dan satu tangannya lagi mengelus lembut kepalaku dan mengarahkannya ke sana, ke bagian itu, tidak ada pilihan lain, uang sudah diangsurkan ke dalam tasku, tandanya sekarang aku memang harus bekerja, selanjutnya aku hanya bisa mendengar napas Mas Hadi yang berat, aku tidak mau memikirkan apa-apa kecuali fokus dengan tugasku.