Ibu 16

1415 Kata
Selesai aku menjalankan tugasku tadi di sepanjang perjalanan Mas Hadi menyetir, lima belas menit lamanya aku berkutat dengan bagian bawah tubuhnya itu, dan setelah dia melepaskan lenguhan panjang yang disertai meluapnya cairan kepuasannya, aku harus membersihkannya sementara dia sudah tersenyum dan bercerita lagi setelah tadi selama lima belas menit kami diam dalam hening, aku yang diam, sebenarnya sementara Mas Hadi mengeluarkan lenguhan-lenguhan panjang dan sibuk meneriakkan namaku, “Istriku tidak pernah mau melakukan yang seperti ini terhadap barangku,” begitu ucapnya ketika aku selesai tadi, aku hanya diam, membersihkan mulut dan rambutku dengan tisu yang memang sudah disediakan khusus oleh Mas Hadi, “Kamu memang perempuan hebat, suamimu pasti puas sama kamu, karena kamu pintar. Tidak hanya pintar memberikan kepuasan dengan yang itu, tapi juga dengan mulutmu, seperti yang barusan.” Aku tersanjung mendengarnya, tapi juga merasa sedih. Iya, sedih, karena yang memujiku seperti ini justru orang lain yang rela mengeluarkan uang demi mendapatkan sesuatu seperti ini dariku, sementara suamiku, yang bisa melakukannya setiap malam denganku, gratis, karena aku memang istrinya, dia justru memilih menghabiskan waktunya dengan perempuan lain, di atas ranjang perempuan lain, dan di rumah perempuan yang justru bukan aku, “Terima kasih, Mas. Tapi kalo boleh jujur, Mas adalah orang pertama yang menyanjungku seperti ini, suamiku malah bilang aku ini perempuan yang gak bisa apa-apa, gak bisa memberikan kepuasan terhadapnya, aku ini bau …” aku menggantungkan kalimat yang baru saja aku ucapkan karena tanpa aku sadari ada bulir-bulir air mata yang jatuh, dan dengan sigap Mas Hadi mengambil tisu yang ada di dekatnya, lalu menghapuskan air mataku dengan sangat lembut menggunakan tisu tersebut, “Masa, sih, suamimu sampai seperti itu?” aku mengangguk pelan, “Kenapa sampai aku berani berbuat begini, kenapa sampai aku menyambut Mas Hadi, ini karena memang aku ingin membuktikan pada diriku sendiri kalo aku tidak sejelek dan sehina apa yang dituduhkan oleh suamiku terhadapku.” Dengan pelan dan lembut sekali, Mas Hadi mengusap punggungku untuk menenangkanku, kemudian mengecup keningku, “Aku memang hanya menginginkan hubungan ini sebatas hubungan yang saling membutuhkan saja, tapi jujur, aku tidak pernah merasa ada yang kurang darimu, perangaimu yang sopan, tindak tandukmu yang lembut, tidak pernah bicara tinggi, aku justru menemukan ketenangan lain ketika bersamamu, dengan istriku, aku merasa seperti aku ini tidak ada harganya, dia selalu bicara kasar, bernada tinggi jika berinteraksi denganku, jadi ketika mendengar kamu bicara, mendengar kamu meneriakkan namaku ketika kita berhubungan, aku merasa bangga dan merasa dihargai sebagai seorang pria.” Aku mengangguk mencoba memahami apa yang barusan Mas Hadi sampaikan, aku menarik benang kesimpulan bahwa kami di rumah adalah dua orang yang tidak mendapatkan penghargaan dan perangai yang baik dari pasangan kami masing-masing, terlepas dari hubungan ini yang salah, karena kami sudah memiliki istri dan suami di rumah, ketika kami bersama kami saling merasa dihargai, merasa saling dimiliki, dan merasa saling dibutuhkan, ini adalah kebutuhan mendasar kami sebagai manusia, terlepas dari kebutuhan uang, kebutuhan biologis, keberadaan kami yang diakui dan dihargai jauh lebih penting dari itu semua. Kami terjebak dalam pikiran kami masing-masing, karena terbukti, selama sepuluh menit mobil berjalan, baik aku maupun Mas Hadi saling diam. Keheningan terpecah ketika mobil Mas Hadi memasuki pelataran parkir sebuah hotel besar, di daerah pinggiran kota, “Mas, apa gak ada yang akan mengenalimu di sini? Ini hotel termasuk hotel mewah yang pasti banyak didatangi orang-orang kaya sekelasmu.” Aku agak khawatir juga ketika harus masuk ke hotel ini dengan Mas Hadi, tapi kemudian dia meyakinkanku, “Tenang aja, sayang. Ini parkiran eksklusif langsung mengarah ke lift yang menuju ke kamar kita langsung, jadi kita tidak perlu melewati lobi dan bertemu banyak orang.” Aku mengangguk, dia pasti lebih tau mengenai hal ini, terbersit juga di hatiku, pasti sudah banyak wanita yang dia bawa ke hotel ini untuk menemani dan memuaskannya, “Pasti aku bukan satu-satunya perempuan yang kamu bawa ke hotel ini untuk memuaskanmu, ya, Mas?” iseng aku bertanya seperti itu, “Yap. Tepat sekali. Tapi sejak enam bulan ini, kamu adalah wanita pertama setelah sekian purnama aku tidak menjalin hubungan dengan siapa pun kecuali dengan istriku yang menyedihkan itu.” Dia menjawil hidungku, “Mas kalo ngerayu emang paling pinter.” Dia tertawa, “Justru karena rayuanku ini, kan, kamu terjebak cinta lokasi sama aku, ngaku, deh.” Tidak bisa dipungkiri, aku mengangguk, lalu tertawa bersamanya, “Siap-siap, ya. Hari ini kamu akan aku mangsa, kamu tidak akan aku biarkan turun dari ranjang sedetik pun, sampai kita pulang nanti.” Begitu ucapannya yang kemudian membuatku merasakan panas, dingin, dan deg-degan. Mas Hadi selalu mampu membuatku merasa seperti perempuan yang baru mengenal cinta pertama, setiap bicara dan ngobrol dengannya, ada saja ulahnya yang membuatku merasa bahwa aku ini perempuan istimewa dan perempuan satu-satunya yang mampu membuatnya bahagia. Kami berjalan masuk ke dalam lift dalam keadaan menempel satu sama lain, tubuh kami seperti tidak mau dipisahkan, kecupan-kecupan kecil yang Mas Hadi hadiahkan untukku, di bibir, di kening, di pipi, lalu dia juga mencium telapak tanganku, membuatku semakin penasaran, akan hal yang mau dia lakukan terhadap tubuhku, aroma tubuhnya yang membuat indra penciumanku senang, membuatku jatuh cinta dan tergila-gila dibuatnya, “Aku sudah pesankan sarapan, nanti begitu sampai di kamar kita makan dulu, ya. Setelah tadi pelepasan yang nikmat itu, aku kok jadi merasa lapar banget, ya.” begitu bisik Mas Hadi di telingaku, aku tersenyum tersipu. Sesampainya di kamar, benar saja apa yang tadi Mas Hadi bilang, bahwa dia sudah menyiapkan sarapan untuk kami, ada dua troli makanan yang sudah ada menyambut kami dengan aroma yang cukup harum membuat perutku juga jadi keroncongan, “Kamu makan duluan, aku mau ke kamar mandi dulu, ya. Habiskan sarapannya, ingat, setelah ini kamu akan bekerja keras,” ucap Mas Hadi sambil mengerlingkan sebelah matanya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi, aku mengambil tempat duduk yang mengarah ke jendela kamar yang pemandangannya mengarah ke pemandangan laut yang luat biasa indah, aku makan dengan lahap, tapi tetap santai menikmatinya, sambil bicara pada diriku sendiri, andai saja aku bisa merasakan keistimewaan seperti ini setiap hari, aku bisa mengajak Jingga ke hotel seperti ini, memberinya makan makanan yang nikmat seperti ini, aku jadi teringat kepadanya, melihat jam yang ada di dinding kamar hotel, masih menunjukkan pukul sembilan pagi, Jingga pasti masih belajar di dalam kelasnya, “Nanti Jingga pasti Ibu bawa ke hotel begini, ya, Nak. Jingga boleh makan apa saja yang Jingga mau.” Gumamku yang rupanya didengar oleh Mas Hadi, “Nanti aku pesankan kamar untukmu dan Jingga menginap ya, dua atau tiga malam, cukup?” ucapnya sambil memeluk dan menciumi leherku, aku menggeliat kegelian, “Gak usah, Mas. Biar aku nabung aja, dari hasil gaji dan uang yang Mas kasih. Aku gak mau ngerepotin Mas.” Dia menggeleng, “Gak ngerepotin, kok. Kalo hanya nginap di sini barang dua sampai tiga malam tidak jadi masalah. Gimana sarapannya, enak makanannya?” Mas Hadi bertanya sambil melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ke kursi yang ada di sebelahku, lalu mulai menyantap makanannya, “Enak, Mas. Makasih, ya, udah dipilihin sarapan yang enak begini. Aku belum pernah makan makanan yang enak seperti ini lagi, semenjak sepuluh tahun yang lalu.” Tatapanku nanar, mengingat kembali bersitan kenangan ketika keluargaku berada di puncak kesuksesan. Tapi Mas Hadi tidak rupanya tidak ingin membiarkanku melamun dan larut dalam kesedihan, dia memutar kursi yang aku gunakan menatap ke arahnya, “Kalo lagi sama aku, kamu gak boleh menampakkan wajah murung begini. Aku hanya ingin melihat senyum manismu, desahan suaramu, dan juga teriakanmu memanggil namaku, paham?” ucapnya dengan wajah yang serius, aku mengangguk. Lalu setelahnya, Mas Hadi bertanya apakah aku sudah selesai dengan sarapanku, “Makannya udah habis? Udah selesai sarapannya?” aku mengangguk, kemudian dia mengangkat tubuhku, “Sekarang giliranku menikmati sarapanku yang kedua, bukan, yang ketiga, yang pertama di mobil tadi, yang kedua barusan ini, dan ini yang ketiga …” lalu membawaku ke atas ranjang dan menaruh tubuhku di atas kasur yang empuk, dan Mas Hadi memulai pekerjaannya dengan tubuhku. Aku bisa merasakan hembusan napasnya memburu setiap kali dia menjelajahi tubuhku seinci demi seinci. Ketika hampir saja Mas Hadi membuatku tidak mengenakan pakaian sehelai pun, suara handphoneku membuatnya berhenti, “Matikan saja handphonemu. Aku terganggu.” Dia mengambil tasku, lalu menyerahkannya untuk aku mengambil handphoneku lalu mematikan suaranya, “Sudah kamu pastikan, ya, tidak ada lagi suara-suara yang akan mengganggu kita?” aku mengangguk, “Karena setelah ini aku akan memastikan hanya ada suara kita berdua yang terdengar.” Dan dia kembali dengan kegiatannya yang tertunda lagi, membawaku terbang merasakan nikmat yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN