Ibu 17

1325 Kata
Aku terbangun dengan keadaan tubuh yang sangat lelah, menyadari ada seseorang yang berada di sebelahku sedang tertidur dengan dengkuran halus dan napas yang teratur, melihat Mas Hadi dengan wajahnya yang tampan, masih sering tidak percaya, aku yang jelek ini, aku yang sering di hina oleh Mas Subagja sebagai istri yang bau bawang dan tidak pandai memuaskan suami di ranjang, tidak bisa membuat mata suami senang dengan pemandangan yang dilihatnya, justru bisa membuat seorang pria mengeluarkan uang jutaan rupiah demi bisa tidur denganku. “Ngelamunin apa, hayo?” aku terkejut ketika Mas Hadi membuyarkan lamunanku, rupanya dia sudah bangun, “Gak ngelamunin apa-apa, Mas.” Kemudian dia menarikku masuk ke dalam pelukannya, “Uang yang Mas kasih, kurang, ya?” aku menggeleng, tapi kemudian dia mengambil handphonenya, dan mengetikkan uang sejumlah sepuluh juta lima ratus ribu rupiah dan mentransfernya ke aku, “Itu udah aku transfer lagi, ya. Beliin baju yang cantik, ya. Beliin juga makanan yang enak untuk Jingga.” Aku mengangguk, tapi kemudian terlonjak demi melihat jam yang ada di handphone Mas Hadi, “Ini udah jam tujuh malam, Mas. Harusnya aku sudah pulang dari tadi, aduh, bagaimana ini, Jingga di rumah sendirian.” Kemudian bergegas masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhku, lalu berpakaian yang rapi, setelahnya kemudian keluar, “Mas Hadi kalo masih lama di sini, aku duluan saja, ya. Gak apa-apa.” dia tidak berkata apa-apa, ya, aku sih sebenarnya yang tidak memberikan dia kesempatan untuk bicara, karena setelahnya aku langsung menuju ke pintu keluar, “Aku keluar dari sini gimana, Mas?” dia bergeming dan hanya memandangku dari atas tempat tidur, aku yang mulai kalut, agak kesal, “Mas, ayo, donk. Bantuin aku.” Lalu dia tertawa, bangkit dari ranjang, dan nyamperin aku di depan pintu, lalu memelukku, “Sejujurnya aku kecewa, harus berpisah seperti ini denganmu, aku masih mau melanjutkan urusan kita di ranjang.” Aku diam, aku benar-benar khawatir akan keadaan Jingga, “Mas, tolong …” tapi kemudian, demi melihatku yang sudah bingung dan kalut, Mas Hadi mengajariku untuk keluar dari kamar ini, dan mengantarkanku sampai ke depan lift yang masih ada di bagian dalam kamar ini, “Besok jangan datang terlambat, ya. Aku mau menghabiskan waktu denganmu sebelum aku berangkat ke Jogja besok siang.” Aku mengangguk cepat, lalu melesat menuju ke lantai satu hotel ini, untuk kemudian berlari menuju ke gerbang depan hotel dan menunggu angkot di sana. Sambil menunggu angkot yang tidak kunjung datang, aku teringat handphoneku yang sejak pagi tadi aku matikan suaranya. Benar saja, ada sekitar dua puluh lima kali panggilan tidak terjawab dan sepuluh pesan dari Mas Subagja. Dari nada dan ketikan pesannya aku bisa merasakan kemarahan yang luar biasa, tapi bukan itu yang aku pedulikan, Jingga yang aku khawatirkan. Bagaimana makan malamnya, bagaimana pekerjaan rumahnya, dan tepat ketika aku mulai kesal karena tidak ada satu pun angkot yang lewat, ada satu motor yang berhenti di depanku, “Mau ngojek, Mbak?” tanpa pikir panjang aku meng-iya-kan, “Ke Sukarame, berapa?” lalu si tukang ojek menyebutkan angka, “Lima puluh ribu.” Angka yang tidak masuk akal, jika saja aku tidak terburu-buru, maka aku akan menawarnya habis-habisan atau bahkan menolaknya, tapi karena ini urgent dan genting, maka tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk, “Agak cepat, ya. Saya buru-buru.” Kemudian si tukang ojek memberikan helmnya kepadaku, dan ketika aku sudah duduk di atas motor, dia segera melajukan motornya. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu setengah jam atau lebih, bisa ditempuh dengan waktu dua puluh menit saja, sesuai dengan permintaanku tadi, bahwa aku sedang buru-buru. Setelah sampai di depan gang, aku mengeluarkan uang untuk membayar ojek tadi, lalu bergegas melesat setengah berlari menuju ke rumah. Aku bisa melihat lampu teras sudah hidup, gerbang pun masih digembok, berarti aman Jingga di rumah. Kemudian aku masuk menggunakan kunci cadangan yang memang aku bawa, lelu mengunci gerbangnya kembali, dan mengetuk pintu. Terlihat wajah Jingga yang seperti sedih melihatku, ketika pintu sudah dibuka, dia menghambur ke pelukanku, “Ibu, malem banget pulangnya. Bapak juga gak pulang-pulang dari tadi Jingga tungguin.” Dan pecahlah air matanya, rupanya Mas Subagja juga belum pulang, terus ngapain tadi dia ngirim pesan seperti itu ke aku, seolah-olah hanya aku yang melakukan kesalahan. Ketika sedang menangkan Jingga, handphoneku berdering, Mas Subagja memanggil, “Kenapa, Mas?” dan yang di ujung sana merepet gak karu-karuan, “Kamu kemana aja sih, dari tadi aku coba telepon, aku kirimin pesan juga gak kamu balas. Sudah lupa kamu sama tugasmu ngurus rumah dan Jingga, ini sudah jam berapa dan kamu gak juga memberi saya kabar apakah kamu sudah di rumah atau belum?” aku heran, kok Mas Subagja bisa tau aku belum di rumah tapi dia sendiri tidak ada di rumah, “Aku sudah di rumah kok, dari tadi.” Aku bisa mendengarnya mendekus kasar, “Jangan bohong kamu, tadi sore jam enam aku pulang kamu masih belom ada di rumah.” Oo … rupanya dia sudah pulang, terus kemana dia sekarang, bukannya nungguin Jingga, padahal dia tau aku sedang tidak di rumah, “Loh, kamu udah pulang toh. Terus kamu sekarang ada di mana? Tau aku belum pulang, tau Jingga di rumah sendirian, kok kamu malah pergi, aneh.” Rupanya ucapanku barusan membuatnya berang, “Gak usah ngurusin aku ada di mana, sekarang urusin Jingga. Besok-besok jangan harap lagi kamu bisa pulang selarut ini, aku gak akan tinggal diam melihat kamu sudah seenaknya saja berlaku seperti ini. Lupa pada janji awalmu, kalo kamu kerja, Jingga tidak akan terbengkalai, rumah tetap akan kamu urus.” Dan bla bla bla bla, aku tidak mendengarkan lagi ucapannya, “Ya, sudah. Aku mau mau masak makan malam dulu buat Jingga.” Dan sambungan telepon aku matikan. Ngapain ngedengerin manusia itu, dia melarangku untuk keluar sampai larut malam, tapi dia sendiri sekarang justru sedang ada di luar, bahkan mungkin dengan perempuan lain yang entah yang mana lagi. Setelahnya, aku bergegas ke dapur dan memasak nasi goreng juga telur dadar untuk Jingga, hanya lima belas menit, nasi goreng tersebut sudah siap untuk dimakan, aku memanggil Jingga yang ada di kamar untu makan, “Jingga, makan dulu, Nak. Ini Ibu buat nasi goreng.” Dan tidak lama dia keluar, lalu duduk, dan mulai menyendokkan nasi goreng tersebut dengan lahap. Setelah selesai Jingga makan, dia kembali masuk ke kamarnya dan aku mencuci piring juga membereskan rumah yang sejak pagi belum sempat aku rapihkan, lalu mandi, dan masuk ke kamar Jingga untuk sekedar ngobrol dengannya. Ketika masuk ke kamarnya, aku melihat dia sedang menggambar sesuatu, aku bertanya mengenai gambar-gambar tersebut, “Ini Jingga sedang di kelas, ya?” dia mengangguk, lalu menceritakan isi gambar tersebut, kemudian aku melihat-lihat gambar yang lain, lalu tertarik pada tiga lembar gambar yang terlihat seperti seorang anak perempuan yang sedang berjalan lalu berhenti karena berbincang dengan seseorang, “Ini Jingga ya?” dia mengangguk, lalu menceritakan isi gambar tersebut, “Iya, Bu, itu Jingga. Kemarin ada tante yang bertanya ke Jingga di mana rumah Bu Ina, di sekitar sini gak ada, kan, Bu, yang namanya Bu Ina, jadi Jingga jawab aja gak ada. Terus tadi juga ada bapak-bapak yang nanya di mana rumah Pak RT, karena Jingga gak tau, jadi Jingga bilang aja, coba tanya sama Mpok Leha, terus Jingga tunjukin deh warung Mpok Leha.” Aku mengangguk-anguk, walaupun aku merasakan ada sesuatu yang ganjal, tapi karena aku melihat Jingga juga tidak kenapa-napa, dan tidak ada yang aneh sama dia, jadi aku menganggap, kejadian ini biasa saja. Lalu sekali lagi menegaskan ke Jingga jika ada yang bertanya atau menegurnya atau menawarkan apa saja untuknya, tolak, “Tapi Jingga harus hati-hati, ya, Nak. Kalo ada orang yang tidak dikenal dan nanya-nanya kayak tadi, baiknya Jingga langsung lari aja, gak usah dijawab. Ibu khawatir Jingga kenapa-napa.” Dia mengangguk, sambil tersenyum bilang, “Tenang aja, Bu. Jingga kan jagoan, kalo ada apa-apa, Jingga tinggal teriak saja.” Kemudian kami tertawa bersama, hanya dia, Jingga, alasanku bertahan pada hidup. Jika tidak ada dia, mungkin sekarang aku sudah menyerah pada hidup dan mengakhirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN