Hari ini aku sengaja pergi ke kantor dengan waktu yang kembali normal, abudemen kantor yang biasa menjemputku juga sudah kembali normal, meskipun Mas Subagja sejak semalam tidak pulang dan tidak ada kabar berita, aku tidak peduli, aku menjalani aktivitas dan kehidupanku seperti biasa. Sesampai di kantor, aku juga menjalankan kegiatanku seperti biasa, walaupun setelah memasak sarapan, aku dipanggil ke ruangan Mas Hadi, untuk kembali menjalankan tugasku, memuaskannya di ranjang, “Jangan beranjak dari sini sebelum aku membolehkanmu untuk pergi.” Dan begitulah, aku menyerahkan diriku di atas ranjang di bawah kekuasaan Mas Hadi selama lebih dari tiga jam. Sekitar jam setengah sebelas aku diperbolehkannya untuk keluar dari ruangan tersebut, setelah sebelumnya Mas Hadi kembali memberiku uang. “Ini lima juta untukmu, kamu enak banget hari ini. Semakin ke sini kamu semakin nikmat aku rasa. Jangan ada yang boleh menyentuh tubuhmu, ya, kecuali aku.” Begitu ucapan Mas Hadi dan aku hanya mengangguk. Ketika keluar dari ruangan Mas Hadi, aku langsung bergegas ke dapur untuk memasak makan siang buat karyawan kantor ini, jika kalian bertanya apakah mereka melihatku keluar dari ruangan Mas Hadi dengan tatapan aneh, apakah mereka menggunjingkanku ketika aku terlihat lebih lama di ruangan Mas Hadi, jawabannya tidak. Mereka bersikap seperti biasa saja, aku menduga, kelakuan Mas Hadi yang seperti ini, yang mengajak tidur perempuan di dalam ruang kamar yang ada di balik ruang kerjanya adalah hal wajar, jadi karyawan yang ada di sini seperti tutup mata, tidak ada kabar atau selentingan apa pun yang aku dengar, sejak hari pertama aku mulai melayani Mas Hadi di ranjang. Karena Mas Hadi pergi untuk ke luar kota, jadi hari ini aku pulang pada jam normal seperti biasanya. Tidak ada kejadian yang istimewa di kantor hari ini, kecuali tadi pagi, ketika aku menghabiskan waktu bersama Mas Hadi, terkadang ada sisi-sisi di setiap inci tubuhku yang memang merasakan rindu untuk dijamah oleh tangan lembut Mas Hadi, aku mencoba untuk tidak melibatkan hati pada hubungan kami tapi itu sulit, tetap saja aku merasa bahagia ketika bersamanya dan sedih ketika tau dia akan lama berada di luar kota. Aku memutuskan untuk memasak makanan yang enak buat Jingga hari ini, aku berencana untuk belanja dulu di pasar ketika pulang nanti, jadi aku meminta untuk diturunkan saja di depan warung Mpok Leha hari ini. “Mpok Leha, assalamualaikum.” Ucapku ketika sampai di depan warungnya, dengan wajah yang cerah ceria, dia menyambutku, “Eh, mamanya Jingga, tumben pulang masih keliatan matahari, biasanya lembur terus, ya?” aku mengangguk, mungkin Mpok Leha memperhatikan bahwa beberapa hari belakangan ini aku memang lebih sering pulang mendekati magrib, “Iya, Mpok. Namanya juga kerja, Mpok, ngikut yang di kantor, kalo yang di kantor belum pada pulang, ya, saya belum bisa pulang. Soalnya tugas saya kan beberes kantor.” Aku bisa melihat Mpok Leha mengangguk-anggukan kepalanya, “Mau beli apa ini?” tanyanya yang kemudian aku jawab dengan beberapa bahan masakan yang ingin aku beli, “Minta ayam setengah ekor, kecap satu bungkus, kentang setengah kilo, sayur asem satu bungkus, tempe dua papan, sama tepung kriuknya dua bungkus, Mpok.” Aku akan memasak semur ayam dan menggoreng tempe malam ini, sementara besok aku akan masak sayur asem dan buat sambel tempe asem manis, “Wah, Jingga makan enak, nih malem. Tapi, dia udah pulang apa belum, ya? soalnya tadi Mpok lihat dia balik lagi ke arah sekolahan waktu hampir sampai ke depan warung Mpok sini, kayaknya dia ngobrol sama perempuan gitu, mungkin itu saudara kalian, ya?” aku mengernyitkan dahi, Jingga belum pulang sekolah? Aku agak deg-degan juga, khawatir Jingga kenapa-kenapa, soalnya beberapa hari ini dia bertemu dan ngobrol dengan orang asing, setelah membayar belanjaanku, aku kemudian berjalan menuju ke rumah, setengah berlari, untuk memastikan bahwa Jingga sudah ada di rumah, ini sudah hampir setengah enam, jika Jingga ada di rumah, harusnya lampu teras ini sudah hidup, tapi aku masih berpikiran positif, berharap kekhawatiranku tidak terjadi, mungkin Jingga ketiduran atau lupa menghidupkan lampu. Setelah membuka gerbang depan, aku mengetuk pintu, tidak ada jawaban sama sekali dari dalam, lalu merogoh kunci rumah di tempat yang biasa aku menaruh kunci, deg, hatiku mencelos, kuncinya masih ada di sana, berarti Jingga tidak ada di rumah, dengan kalut aku membuka pintu, beberapa kali kuncinya meleset seperti tidak masuk ke dalam lubangnya, membuatku semakin tidak karuan, setelah masuk ke dalam rumah aku meneriakkan nama Jingga, memanggilnya, berharap dia ada di dalam yang padahal itu tidak mungkin terjadi, dalam keadaan kalut aku mengambil handphoneku, menghubungi wali kelas Jingga, “Selamat sore Bu Aini, apa Jingga memang masih ada kegiatan di sekolah?” Bu Aini yang aku telepon mengatakan tidak, “Jingga pulang sekolah seperti biasa, kok, Bu. Memangnya kenapa, Bu?” aku mulai menangis, dengan kalut aku bilang ke Bu Aini bahwa Jingga belum pulang, “Jingga tidak ada di rumah, Bu. Dia belum pulang, boleh bantu saya untuk minta nomor telepon teman-temannya Jingga, Bu, barangkali Jingga main ke rumah salah satu di antara mereka.” Setelah mengucapkan akan mengirim nomor telepon orang tua teman-temannya Jingga, aku menelepon Mas Subagja, “Mas, Mas di mana. Jingga belum pulang, dia gak ada di rumah, barusan aku sampe rumah dia gak ada di rumah, Mas, Jingga gak ada di rumah, Mas.” Dan tangisku pecah, aku meraung, Mas Subagja yang mendengarku menangis, hanya bilang dengan santainya, “Palingan dia main ke rumah temannya, sama seperti kamu yang sering main dan mampir dulu ke tempat lain setelah pulang kerja, gak langsung pulang ke rumah.” Aku tidak membalas lagi ucapannya, aku benar-benar kesal, maka aku langsung menutup telepon tersebut, bergegas ke rumah Pak RT, “Pak, tolong bantu saya. Jingga tidak ada di rumah, saya sudah mencoba menelepon wali kelasnya untuk menanyakan apakah ada kegiatan tambahan di sekolah, tapi ternyata gak ada, Pak. Saya juga udah menelepon beberapa teman sekelas Jingga, mereka bilang Jingga tidak ada bersama mereka, tolong saya, Pak.” Aku tidak bisa berhenti lagi menangis, Bu RT yang melihatku seperti itu memelukku, mencoba menenangkanku, “Tenang dulu, Bu. Mungkin Jingga memang sedang main ke rumah temannya yang lain. Nanti kita coba cari, ya. Ibu tenang dulu.” Aku benar-benar tidak bisa tenang, jika terjadi sesuatu sama Jingga, ini adalah kesalahanku. Bu RT memberiku minum, lalu mengajakku untuk salat magrib, beberapa tetangga yang mendengar tangisanku datang bermunculan ke rumah Pak RT, “Tadi saya lihat Jingga, loh, jalan ke arah rumah. Tapi memang balik lagi ke arah sekolahan dengan perempuan yang gak jauhlah, umurnya dari Ibu. Saya pikir itu tantenya, soalnya Jingga terlihat ngobrol dengan perempuan itu.” Hatiku benar-benar seperti sedang diremas, siapa perempuan yang merek bilang ini, aku tidak punya adik yang tinggal di dekat sini, saudaraku juga tidak ada yang akrab dengan Jingga, aku menangis lagi, “Tolong cari anak saya, Pak, tolong.” Lalu Pak RT memutuskan untuk melaporkan hal ini ke polisi, aku tidak bisa berhenti memikirkan ke mana Jingga, kenapa aku sampai lalai menjaganya, seharunya kemarin aku bertanya dengan jelas, siapa orang yang bertanya ke dia itu, yang mengajaknya bicara. Pak RT, Bu RT, dan aku naik mobil mereka menuju ke kantor polisi bersama satu orang saksi tadi yang terakhir melihat Jingga. Sepanjang perjalanan aku tidak bisa mengendalikan air mataku, air mata ini turun seperti tidak mau berhenti.