Sesampainya di kantor polisi, Pak RT membuat laporan tentang anak hilang, beruntung polisi langsung bergerak cepat, karena Jingga memang masih di bawah umur. Aku ditanya mengenai kebiasaan Jingga di rumah, kegiatan sehari-hariku, lalu teringat cerita Jingga kemarin, yang dia ditanya mengenai rumah Pak RT dan juga sebuah rumah yang penghuninya memang tidak ada, “Kemarin Jingga sempat cerita kalo sudah dua hari ini ada dua orang yang menanyakan di mana rumah Pak RT dan rumah seseorang, Jingga yang tidak tau, langsung bilang bahwa dia tidak mengetahui rumah seseorang tersebut, sementara rumah Pak RT, dia menunjukkan arahnya. Sayangnya, karena saya pikir itu hal biasa, maka saya tidak bertanya lebih lanjut lagi siapa dan bagaimana ciri-ciri kedua orang tersebut, yang Jingga bilang kemarin dia hanya menyebutkan satu lelaki dan yang satu perempuan.” Kemudian polisi memintakan keterangan dari tetanggaku yang tadi ikut sama kami, “Perempuannya tidak jauh umurnya dari ibu ini, perawakannya lebih kurus sedikit, pake jilbab warna merah, tapi saya gak melihat jelas wajahnya. Tapi yang saya lihat sekilas, ada mirip dengan ibunya Jingga ini wajahnya.” Lalu polisi bertanya ke Pak RT apakah ada CCTV yang dipasang di area jalan yang dilalui oleh Jingga, “Apakah ada CCTV yang dipasang di sekitar area yang dilewati oleh Jingga, Pak?” Pak RT menjawab, “Ada, Pak. Tapi CCTV itu terintegrasi sama kelurahan, saya harus menghubungi orang kelurahan dulu, dan akan memakan waktu, karena petugas kelurahan tersebut rumahnya di Natar.” Polisi kemudian memerintahkan Pak RT menghubungi pegawai yang memegang kendali atas CCTV tersebut, “Kita ke rumah Bu Lastri, ya. Mungkin kami bisa mendapatkan petunjuk dari sana.” lalu kami bersama dengan empat orang polisi kembali ke rumahku. Masih tidak ada tanda-tanda Jingga kembali ke rumah. Aku masuk ke dalam, menunjukkan kamar Jingga, dan polisi wanita yang ikut meminta izin untuk membuka beberapa lemari dan barang-barang yang ada di situ, aku masih menangis, kepalaku sudah sakit sekali, kemana Jingga, kemana kamu, Nak? Ketika polisi sedang memeriksa barang-barang di kamar Jingga, suara keras dari arah luar menggema, suara Mas Subagja, “Kamu memang perempuan laknat, perempuan gak tau diri. Kemana anak perempuanku, HAH?” ucapannya diiringi dengan jambakannya di rambutku, aku merasakan sakit yang luar biasa, Bu RT dan Pak RT melerai kami, “Pak Subagja, kami sedang berusaha untuk mencari Jingga, sebaiknya Bapak jangan memperkeruh suasana.” Mas Subagja masih saja mengomel, “Ini yang aku takutkan, kamu sibuk kerja, sementara anakmu terlantar, kalo aja kamu gak ngotot kerja, kalo aja kamu gak sibuk selingkuh dengan bosmu dan sering pulang malam, Jingga gak bakal hilang seperti ini.” Aku tidak menjawab ucapannya, aku menyadari ini mungkin kesalahanku, tapi Mas Subagja juga tidak bisa merasa dirinya tidak bersalah, aku kerja dan keluar rumah karena dia tidak bisa membantuku menjaga Jingga, “Kamu selalu menuduhku seperti itu, kamu lupa, kalo aku kerja begini, kalo aku sampai harus keluar rumah seperti ini karena kamu gak becus jadi suami. Hutang kita di mana-mana, gajimu yang seharusnya utuh kamu kasih ke aku justru kamu habiskan untuk gundikmu dan sekarang kamu berkata dan bertindak seolah-olah hilangnya Jingga ini murni kesalahanku?” aku berteriak di depan mukanya, dia menampar wajahku, aku balas menendang perutnya, “Jangan kamu pikir kamu bisa menyakitiku lagi, ya, lelaki tidak tau diri. Kalo sampai ada apa-apa sama Jingga, kamu adalah orang yang paling pantas untuk menerima ganjarannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku, INGAT ITU!” dan setelah bicara seperti itu, pandanganku buram, kepalaku seperti dipukul palu, sakit luar biasa, dan tubuhku lemas sekali, aku kehilangan keseimbangan, dan terjatuh. Aku terbangun ketika ramai orang mencoba membuatku tersadar, sayup-sayup aku mendengar suara khas Mpok Leha, Bu RT, dan beberapa tetangga lainnya, lalu dengan mata yang berat, aku mencoba untuk membukanya, “Minum dulu teh angetnya, Bu.” Mpok Leha menyodorkan gelas berisi teh hangat, dan meminumnya, “Yang kuat, yang sabar. Insyaallah Jingga gak kenapa-kenapa, ya. Polisi lagi melihat CCTV yang ada di gang depan, mencoba untuk mengenali pelaku.” Aku mengangguk, lalu menangis lagi, apa yang akan aku lakukan jika hal-hal buruk terjadi sama Jingga, pikiranku sudah berkelana entah kemana, scenario-skenario paling buruk tergambar jelas di depan mata, aku tidak melihat berkeliling, dan tidak menemukan lelaki itu, “Bapaknya Jingga pergi entah ke mana. Biarin aja, lelaki seperti itu gak usah diurusin, kita fokus aja sekarang untuk nyari Jingga, ya. Saya di sini nemenin Ibu, sampe Jingga ketemu.” Mpok Leha kemudian memelukku, ada ketenangan sedikit di sana. sekitar setengah jam kemudian polisi yang tadi datang ke rumahku meminta untuk bicara denganku, “Jingga kami nyatakan diculik, tadi pukul dua belas lewat lima puluh delapan menit, ketika dalam perjalanan pulang dari sekolah.” Ini kabar yang aku takutkan, meskipun aku tau ini yang terjadi, tapi ketika mendengarnya barusan benar-benar membuatku takut kehilangan Jingga, “Dua orang yang ada di kamera CCTV teridentifikasi sebagai komplotan penculik anak yang memang sudah masuk daftar DPO kami.” Aku menangis sejadi-jadinya, bayangan Jingga dijual, Jingga diculik, dan disakiti benar-benar membuatku gila, bagaimana aku bisa menjalani hidupku tanpa Jingga, “Tolong bantu saya, tolong temukan anak saya, Pak, tolong.” Aku memohon kepada polisi-polisi yang ada di depanku ini, “Kami akan berusaha sebaik dan semaksimal mungkin untuk menemukannya, ini sudah jadi tugas kami. Kalo ada informasi sekecil apa pun yang Ibu ingat atau nanti mungkin Ibu temukan di kamar Jingga, tolong hubungi kami.” Polisi wanita ini memberiku kartu nama yang berisi nomor telepon, “Kami pamit dulu. Kami akan meneruskan pencarian ini, jika ada kabar lagi, saya akan langsung mengabarkan ke Ibu.” Aku mengangguk. Tidak berapa lama, polisi tersebut pergi, Pak RT dan Bu RT juga pamit untuk pulang, dan beberapa tetangga juga memilih untuk membubarkan diri, tinggal Mpok Leha dan Bu Astrid, tetangga sebelah rumahku ini yang tinggal, aku merasa tidak enak sama mereka, jadi aku bilang ke mereka jika mau pulang, gak apa-apa, “Mpok Leha, Bu Astrid, kalo mau pulang, gak apa-apa, Bu. Terima kasih udah nemenin saya.” Mpok Leha menggeleng, “Biar saya di sini aja, Bu Astrid monggo kalo mau pulang.” Dan setelah berbasa-basi sebentar, Bu Astrid pulang, tinggal aku dan Mpok Leha di rumah ini, sepi, tidak ada sepatah kata pun yang terdengar, “Mamanya Jingga, istirahat, ya. Udah malem.” Aku mengangguk, jam juga sudah menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit, “Saya pamit pulang, ya. Besok subuh saya ke sini lagi.” Aku mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih ke Mpok Leha. Setelah Mpok Leha pulang, aku mengunci pagar, dan masuk ke dalam. Tanpa melakukan apa pun, aku masuk ke kamar Jingga, duduk di kursinya belajarnya, tempat dia mengerjakan pekerjaan rumahnya, terlintas senyuman cantiknya ketika dia bercerita mengenai kegiatannya di sekolah, kemarin malam, dia masih ada di sini bersamaku, dia masih berceloteh tentang teman sekelasnya yang nakal, tentang Bu Aini yang memberinya hadiah karena nilai ulangannya paling besar di kelas, tapi malam ini, rumah ini sepi, sunyi, “Di mana kamu, Nak? Kenapa Jingga ninggalin Ibu, Nak? Ibu mau masakin Jingga ayam hari ini, tapi Jingga gak pulang. Jingga marah, ya, sama Ibu?’ ucapku pada foto Jingga yang ada di meja belajarnya sambil memegang piala juara kelasnya, senyum cantik yang selama ini aku abaikan, mala mini terlihat lebih indah dari biasanya, “Jingga pulang, Nak. Ibu janji gak akan ninggalin Jingga lagi, Ibu janji bakal nganterin Jingga ke sekolah dan bakal jemput Jingga dari sekolah, Ibu janji, Nak.” Tangisku pecah lagi, dadaku terasa sangat sesak, aku bisa mendengar suara isak tangisku sendiri.