Ibu 20

1645 Kata
Aku gak tau gimana akhirnya bisa tertidur setelah menangis tidak berhenti semalaman. Dan sampai pagi ini juga aku belum menerima kabar dari polisi maupun dari orang-orang yang kami mintakan bantuan, Mas Subagja yang sejak semalam pergi juga tidak menampakkan batang hidungnya sampai aku berangkat kerja. Dijemput sama Pak Agus, tidak ada semangatku untuk bekerja. Hari ini juga tidak ada Mas Hadi di kantor, selesai masak aku memutuskan untuk duduk di belakang bangunan ini, ada seperti gazebo kecil, angin yang semilir, udara dan cuaca yang redup membuat hatiku sedikit ringan, kalo saja kemarin aku bertanya seperti apa wajah dan ciri-ciri orang yang mengajak Jingga bicara, mungkin sekarang kejelasan keberadaan Jingga bisa aku ketahui bahkan mungkin jika aku lebih perhatian dan tidak pulang larut, semalam, Jingga tidak akan hilang jejak seperti ini, “Jingga belum ada kabar, ya, Bu Lastri?” Pak Agus menghampiri dan bertanya ketika melihatku sedang duduk di sini, aku menganggukkan kepala, “Iya, Pak. Tolong bantu doakan, ya, Pak, biar ada kejelasan.” Setelah berbincang sebentar, panggilan telepon dari Mas Hadi masuk, “Di mana?” hanya seperti itu pertanyaannya, pun dengan nada yang tidak biasa, aku yang keheranan tapi tidak mau bertanya lebih lanjut, hanya menjawab, “Di kantor, kenapa?” yang di ujung telepon bilang, “Aku curiga, hilangnya anakmu ada kaitannya dengan istriku?” aku menegakkan dudukku, apa maksudnya ini, “Maksudnya apa?” pertanyaan yang bermakna sangat banyak dan luas, “Nanti aku jelaskan, setelah selesai urusanku di sini, aku akan langsung menghubungimu lagi, sementara aku juga masih menunggu laporan dari orang suruhanku.” Aku hanya mengangguk, “Tolong jangan lama-lama, jelaskan lebih detail, jangan buat aku kebingungan seperti ini.” Mas Hadi bilang, “Iya, nanti aku jelaskan lebih lanjut. Kalo ada telepon atau orang yang tidak dikenal menghampirimu dan bertanya mengenai hubungan kita, jawab kita tidak ada hubungan apa-apa kecuali aku bosmu dan kamu adalah karyawan di kantorku.” Aku meng-iya-kan. Toh kenyataannya memang seperti itu, “Dan kalo istriku menghubungimu, samakan jawaban kita, kemarin kamu tidak masuk karena ada urusan keluarga. Tidak usah panjang lebar menjawabnya, setelah itu langsung matikan saja sambungan teleponnya, paham?” lagi-lagi aku mengangguk, yang jelas saja hal tersebut tidak bisa dilihat oleh Mas hadi. Ketika semua sudah selesai makan siang, aku membereskan semua piring-piring kotor dan menyapu lagi seluruh ruangan ketika mereka sedang ada di ruang makan, ini memang sudah jadi rutinitasku, dan benar saja, mungkin Mas Hadi sudah mengetahui bahwa istrinya akan mampir ke kantor, tidak berapa lama ketika aku selesai membersihkan ruangan kerja semua karyawan, seorang perempuan dengan baju terusan di atas lutut, make up yang lumayan tebal, lalu tas yang ditentengnya terlihat sangat mahal, menggunakan sepatu high heels dan berkacamata hitam, dengan tubuh yang semampai dan kulit yang mulus yang berhasil ditampilkan dengan sempurna oleh baju terusan yang dipakainya, seorang karyawan menyapanya, “Bu, selamat siang. Kami baru selesai makan siang. Mari saya antar ke ruangan.” Dia hanya menganggukkan kepala singkat, tanpa menengok kanan dan kiri langsung menuju ke ruangan Mas Hadi. Tidak berapa lama, karyawan yang tadi mengantarkan istri Mas Hadi tersebut keluar lagi dan menghampiriku, “Bu Lastri, Ibu minta diambilin air putih dengan es batu tiga biji aja, di gelas yang ini.” Si karyawan nunjukin aku sebuah gelas yang memang sejak awal aku di sini, tidak ada yang mau memakainya, rupanya ini milik istri bos, jadi karyawan-karyawan di sini tidak ada yang mau memakai, aku mengangguk, “Jangan lama-lama, ya, Bu Lastri, bu bos gak mau nunggu lama-lama dan gak suka sesuatu yang lelet.” Aku kembali menganggukkan kepala, lalu bergegas menaruh sapu yang sejak tadi masih aku pegang, dan mengambil gelas lalu memasukkan es batu dan air sesuai perintah. Setelah selesai menyiapkan air dan es batu, aku membawa gelas tersebut dengan nampan yang ada seperti biasa menuju ke ruangan Mas Hadi, pintu aku ketuk sebelum masuk dan pada ketukan ketiga dari dalam terdengar suara yang menyuruhku masuk, “Iya, masuk.” Ketika aku masuk dan menaruh gelas tadi di meja, wanita di depanku ini menatapku lurus, dengan tatapan mata tajam, aku yang memang posisinya hanya seorang karyawan rendahan di kantor ini lantas menundukkan kepalaku dalam-dalam, “Kenapa menundukkan kepala seperti itu, biasanya kalo berduaan dengan Mas Hadi justru kamu yang menantangnya, kan?” aku diam, tidak menjawab, “Lastri, namamu?” berasa ditanya, aku menganggukkan kepala, “Lihat aku.” Ucapnya dengan suara yang agak keras membuatku tersentak dan otomatis mendongakkan kepalaku ke arahnya, “Iya, Bu.” Dia menatapku tajam, aku tidak suka dengan kondisi seperti ini, tapi di sisi lain aku juga sadar aku salah, “Sudah berapa lama kalian berhubungan?” aku mencoba mencari jawaban agar terkesan tidak berbohong, “Saya masuk ke kantor ini sudah sekitar lima bulan, sejak pertama masuk ke sini saya sudah bertemu dengan Pak Hadiantoro, jadi sejak itu saya berinteraksi dengan beliau.” Aku bisa melihat senyum sini di wajah perempuan yang berada di depanku ini, “Pintar juga, kamu. Maksud pertanyaanku adalah, sudah sejak kapan kamu ditiduri oleh suamiku, hah? Jawab, jangan berkelit dengan mulut busukmu itu.” Aku merasa seperti gundik Mas Subagja yang kemarin aku pergoki selingkuh dengannya, posisi tersebut sekarang malah aku yang merasakan perasaan terpojok ini, “Maaf, Bu. Saya tidak pernah melakukan apa pun dengan Pak Hadiantoro, saya berhubungan dengan beliau sebatas pimpinan dan anak buah, saya sekedar OB di sini, Bu, tidak mungkin saya berani melakukan apa pun dengan pimpinan saya.” Aku melihat wajah istri Pak Hadi mengeras, “Masih mau berkelit, kamu? Bagaimana kalo aku menunjukkan bukti-bukti bahwa kamu memang suka diajak tidur dan beberapa kali menginap di hotel berdua dengan suamiku?” aku diam, tidak bisa berkutik, karena bisa saja apa yang diucapkan perempuan ini benar, tapi aku juga tidak mau menunjukkan kalo aku ketakukan jika perselingkuhan kami terbongkar. “Saya tetap pada jawaban saya, Bu, bahwa saya tidak ada hubungan lebih dari sekedar pimpinan dan OB.” Dia tertawa, tawanya mengerikan, aku seperti mendengar tawa nenek lampir di depanku, “Perempuan murah, sudah ketauan salah, tidak pernah mau menerima jika kebusukanmu aku bongkar, HAH?” aku bergeming, tidak menanggapi perkataan suami Mas Hadi ini, tidak berapa lama, pintu ruangan dibuka, Mas Hadi masuk dengan jalan yang tegap, menghampiri istrinya dan mengecupnya, “Kamu ke kantor kok mendadak begini, sih. Aku sampai harus langsung ke sini dari Kotabumi, biar bisa langsung ketemu kamu. Aku kangen banget, loh, sama kamu, sayang.” Aku muak melihat adegan di depanku, biasanya aku yang ada di pelukan Mas Hadi, tapi sekarang aku disadarkan oleh keadaan, bahwa Mas Hadi memang milik orang lain, “Saya pamit keluar dulu, Pak, Bu.” Tapi kemudian istri Mas Hadi mencegahku, “Tidak perlu keluar, tunggu di sini, kamu harus lihat bagaimana caraku membuat suamiku mengerang nikmat, diam di situ, di tempatmu berdiri sekarang, dan tonton.” Aku menggeleng, “Biar saya keluar aja, Pak, Bu.” Lalu memutar badan dan ketika tanganku baru mencapai gagang pintu ruangan dan mau memutarnya, tanganku dipegang, “Jangan berani-beraninya kamu keluar dari ruangan ini tanpa seizinku, atau anakmu akan aku jual dan kujadikan mesin pencari uang paling muda.” Hatiku seperti merosot ke perut, aku mengurungkan niatku untuk membuka pintu, dan memutar tubuhku menghadapi perempuan ini, “Maksudnya, Anda yang menculik anak saya?” dia menggeleng, “Tidak, dia ikut dengan sukarela ketika aku menawarkannya untuk membelikan buku-buku bacaan yang dia suka. Dan dia juga aku traktir makan, wajar, anak miskin seperti itu ditawari makanan tidak akan pernah menolak, sama seperti kamu, ditawari tubuh pria yang sudah beristri pun kamu lahap asal menghasilkan uang, ya, kan?” aku terdiam, aku akan melakukan apa pun asalkan Jingga kembali ke dalam pelukanku, “Tolong kembalikan anakku, jangan sakiti dia.” Lagi-lagi perempuan ini menggelengkan kepalanya, “Tenang saja, anakmu aman di tanganku, asalkan kamu menuruti semua keinginanku.” Aku diam. Lalu dimulailah adegan demi adegan dewasa di depan mataku, Mas Hadi seperti menutup mata dan tidak menganggap kehadiranku, terdengar deru napas dari kedua manusia yang sedang memadu kasih di depanku ini, aku beberapa kali memalingkan wajahku ke arah lain agar bisa menghindari pemandangan di depan mataku ini. Sekitar setengah jam berlalu, mereka menyudahi tingkah polah mereka ini dengan keduanya saling melepaskan diri, “Bagaimana, sayang, enakan aku atau perempuan ini?” Mas Hadi tidak menjawab, dia hanya bangkit mengambil pakaiannya yang terserak di lantai, dan masuk ke kamar mandi, sementara perempuan ini menatapku dan bicara, “Kamu, masih mau berurusan sama aku atau dengan kejadian anakmu aku sembunyikan ini, kamu sudah cukup jera?” aku menunduk, menarik napas panjang, dan menjawab, “Kembalikan anakku, aku akan resign dari kantor ini, dan tidak akan lagi berurusan dengan kalian lagi.” Dia tertawa terbahak-bahak, “Tunggu saja di rumah, nanti aka nada yang mengantarkan dia pulang.” Aku mengangguk, ketika mau membalik badanku, ada sesuatu yang jatuh di kakiku, “Ambil uang itu, sebagai pesangon pemberhentian kerjamu dari kantor ini, dan ingat, jangan coba-coba lagi kamu menghubungi suamiku. Kemarin, hanya anakmu yang aku ambil, jika besok kamu masih berani merecoki hubunganku dengan suamiku lagi, tidak hanya anakmu, suamimu, bahkan hidupmu akan aku bikin hancur, akan aku buat kalian menderita selamanya seumur hidup kalian, PAHAM?” aku mengabaikan amplop coklat yang tadi dilempar ke arahku, “AMBIL AMPLOP ITU, INI PERINTAH!” perempuan itu menjerit ke arahku dan mau gak mau akhirnya aku mengambil amplop ini lalu keluar secepat kilat dari ruangan ini. Setelahnya aku langsung menuju ke tempat di mana tasku aku simpan, dan pamit ke mereka yang ada di ruangan, “Semuanya, saya pamit, ya, per hari ini saya resign. Maaf atas kesalahan saya yang selama ini saya perbuat.” Dan tanpa menunggu respon mereka aku langsung keluar dari kantor itu, berjalan ke depan untuk menunggu angkot, aku bisa melihat Pak Agus seperti ingin bicara sesuatu tapi aku abaikan, aku sudah tidak mau lagi berurusan dengan mereka semua yang ada di sini, secepatnya sampai di rumah untuk menunggu Jingga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN