Terasa jauh sekali jarak yang harus aku tempuh, biasanya terasa ringan saja pergi ke kantor dari rumah ataupun sebaliknya, tapi tidak kali ini, aku benar-benar tidak sabar sampai ke rumah, menunggu buah hatiku pulang dengan selamat, rindu aku melihat senyumnya, mendengar celotehannya, lalu lintas memang padat seperti biasanya, tapi kali ini padatnya lalu lintas seperti ingin kuterabas saja, ingin aku langsung bisa terbang dan segera sampai ke rumah. Dua puluh menit perjalanan serasa dua ratus tahun aku lalui, ketika sudah sampai di depan gang, aku bergegas turun dari angkot, membayar ongkosnya, dan jalan tergesa-gesa langsung menuju rumah, aku berharap suara yang aku rindukan terdengar lagi, senyuman yang hangat itu akan menyambutku pulang, tapi aku hanya bisa menelan pil pahit kenyataan, gembok rumah masih rapat terkunci, tidak ada tanda-tanda Jingga sudah sampai di rumah. Tidak berapa lama, aku bisa mendengar suara motor Mas Subagja, aku yang malas berdebat dengannya, langsung mengambil kunci, membuka pagar, dan langsung masuk ke dalam rumah, iya, rumah masih se-sepi ini, kepada siapa harusnya aku bertanya, Mas Hadi, iya, Mas Hadi saja yang aku hubungi, untuk menanyakan kemana dan di mana keberadaan Jingga, kenapa sampai sekarang anakku itu belum sampai juga di rumah seperti yang dijanjikan oleh istrinya yang aneh itu, jadi tanpa berpikir lama lagi, segera saja aku memencet nomor Mas Hadi yang ada di handphoneku, ketika menunggu panggilanku ke Mas Hadi diangkat, aku baru menyadari bahwa sungguh miris melihatnya, melihat handphone yang masih saja aku pakai, handphone jadul yang sudah ketinggalan jaman, lalu nada sambung terdengar, satu menit, dua menit, nada panggilan berdering terus terdengar, tetapi panggilan teleponku satu pun tidak ada yang diangkat. Kesal, aku membanting handphone bulukan itu ke kursi, “Dasar perempuan pembohong.” Tidak lama, aku bisa mendengar langkah kaki Mas Subagja mendekat, “Bu …” panggilnya, tapi aku tidak ambil peduli pada lelaki yang di depanku ini, “Bu …” sekali lagi dia memanggilku, karena merasa risih, akhirnya aku menyahuti juga ucapannya, “Ada apa?” kemudian dia mendekat ke arahku, “Bu, maafkan aku.” Tangan kanannya berusaha mengambil telapak tangan kiriku yang sedang menarik rok yang aku pakai dan membiarkan bahan-bahannya sedikit demi sedikit mrupul, berharap tidak jadi robek ini rok ketika aku menariknya kasar, tapi karena kesalku yang sudah sangat membuncah, tanganku yang dia coba genggam itu aku kepalkan, dan tangannya yang masih berusaha membawa tanganku ke genggaman tangannya aku kibaskan agar dia sadar bahwa aku tidak mau dipegang. Ketika aku sedang diam, dia juga diam, dia meneruskan ucapannya, “Ini semua adalah kesalahanku, semua masalah ini terjadi karena aku, ujung pangkal pada setiap kejadian ini adalah aku, Jingga yang menghilang, kamu yang seharusnya bisa menjaganya harus ikut bekerja karena aku tidak mampu menafkahimu, mencukupi kebutuhan kalian berdua, kamu yang berselingkuh di belakangku karena kamu juga kesal dan marah terhadapku, semua, semua kejadian ini karena ulahku, yang menyebabkan kalian kesusahan, maafkan aku, Bu.” Aku mengernyitkan dahi, lelaki di depanku ini seperti sedang berlakon, memainkan ludruk yang terlihat lucu sekali, aku yang sudah benar-benar malas mendengar omong kosongnya yang sudah berkali-kali dia ucapkan, yang sudah ribuan kali dia keluarkan dari mulut busuknya itu, aku sudah tidak mempan lagi dia bohongi, jangankan mempercayai ucapannya bahkan mendengar napasnya aku sudah tidak sudi sebenarnya, aku tidak menanggapi apa lagi buka suara untuk menyahuti ucapannya, aku hanya diam. “Aku janji, Bu, tidak akan lagi menelantarkan kalian, aku akan semakin giat bekerja, aku mohon padamu, tolong resign saja dari kantormu yang sekarang, aku akan mengerjakan dua bahkan tiga pekerjaan sekaligus untuk membahagiakan kamu dan Jingga, mencukupi kebutuhan kalian, tolong nurut sama aku, Bu, kali ini aja.” Aku bergeming, “Aku juga berjanji tidak akan lagi berhubungan dengan perempuan manapun …” belum selesai dia mengucapkan ucapannya, aku berdecih keras, ucapan dan rayuan apa lagi ini yang sedang dia ucapkan, “Tolong jawab ucapanku, Bu. Aku …” ucapannya aku potong ketika aku teringat harus menelepon Mas Hadi, lima menit kemudian, setelah aku berusaha untuk menghubungi Mas Hadi, panggilanku ke dua belas dan pada dering ke empat baru teleponnya diangkat, dari suaranya terdengar suara perempuan yang aku sangat meyakini ini adalah suara istri Mas Dani, “Masih berani juga kamu mengganggu suami saya, uang yang saya kasih ke kamu, kamu sudah ambil, tadi juga kamu sudah sepakat dan berjanji tidak akan lagi mengganggu suamiku, kenapa sekarang malah kamu yang jual murah harga diri dan tubuhmu, hah? Tidak takut, uang yang kamu hasilkan itu haram, kamu itu, pake kerudung, bicara sok sopan, tapi rupanya bagian bawah tubuhmu itu benar-benar sudah gatal akut, ya, sudah tidak bisa lagi kau tutupi untuk sekedar menyelamatkan harga dirimu? Kamu obral semua, sampai suamiku aja tergoda, padahal melihatmu saja, jujur saja, ya, sebagai sesama perempuan aku merasa sangat tidak berselera, berarti ada yang salah dengan tubuhmu, aku curiga, jangan-jangan kamu memang punya susuk tersembunyi, yang orang lain gak tau.” aku mendekus kasar, “Dengar, ya. Aku memang orang miskin, tapi harta yang aku miliki adalah hasil halal, tidak ada unsur mudaratnya sekaligus.” Yang di seberang sana tertawa, “Yakin kamu, tidak pernah menerima uang atau hadiah dari bonusan ketika kamu menemui dan menggoda suamiku di hotel?” aku benar-benar sudah habis kesabaran, perempuan ini semakin lama semakin ngelantur, “Dengar, perempuan aneh, aku menelepon Mas Hadi bukan karena ingin menggodanya lagi, aku ingin bicara langsung kepadamu, aku mau menanyakan di mana keberadaan anakku, kenapa sampai sekarang dia belum juga sampai di rumah, ketika aku pulang, dia belum ada di rumah? Di mana kamu sembunyikan dia, kita sudah menyetujui dan sepakat bahwa aku akan pergi dari hidup kalian dan kalian akan mengembalikan anakku, DI MANA DIA?” teriakku pada perempuan ini, “Tenang saja, tidak akan lama lagi kamu akan segera bertemu dengannya, bersabar saja.” Aku benar-benar kehabisan akal dan habis kesabaran, “Kalo kamu tidak segera mengembalikan Jingga, aku akan melaporkan kalian berdua ke polisi, aku punya semua bukti rekaman percakapan kita tadi, yang terucap jelas dari mulutmu kalo memang kamu yang menyembunyikannya.” Tiba-tiba terdengar bunyi nada telepon terputus, aku frustrasi, membanting handphoneku, membanting gelas yang berada di dekatku, dan menangis sejadi-jadinya. Melihat apa yang terjadi denganku, Mas Subagja mencoba mendekat, mungkin maksud hatinya mau menenangkanku, tapi kemudian aku menyuruhnya berhenti, “STOP. Jangan coba-coba kamu mendekatiku, aku muak sama kalian para lelaki, yang bisa dengan seenaknya menjebak kami dengan mulut manismu lalu kemudian kalian dengan entengnya meminta maaf dan merasa bahwa kesalahan kalian adalah kesalah yang ringan dan bisa dengan mudah dimaafkan, diam di tempatmu atau aku akan pergi juga dari rumah ini dan kamu tidak hanya kehilangan Jingga tapi juga kamu akan kehilangan aku.” Mendengar ucapanku tersebut, Mas Subagja benar-benar diam di tempatnya, tidak bergerak sama sekali, mungkin dia benar dengan ucapannya kali ini. Karena biasanya kalo dia masih dengan perangainya yang kemarin, ketika terjadi keributan seperti ini, dia memilih akan pergi dari rumah, tapi tidak kali ini, dia hanya duduk di kursi, memandangku dan melihatku saja dari kejauhan, sementara aku mencoba menangkan diriku sendiri di sudut ini.