Tangisanku tidak mereda juga setelah setengah jam berlalu, aku masih meringkuk di depan kompor di dapur sama dengan posisi tadi ketika aku mendengar nada telepon terputus dari nomor Mas Hadi. Di sisi lain, dari sudut mataku, aku bisa melihat Mas Subagja membereskan pecahan gelas yang tadi aku banting, “Jangan bergerak, biar aku sapu dulu ini pecahan belingnya.” Begitu ucapnya, seolah ucapan pedulinya itu mampu meluluhkan hatiku yang sudah kadung kesal. Tidak berapa lama, karena sudah kelelahan, aku memutuskan untuk pergi ke kamar Jingga, menutup pintunya, dan menguncinya dari dalam. Aku ingin berlama-lama dalam keheningan ini, aku lelah dengan hiruk pikuk dunia yang kejam ini. Ketika akan merebahkan tubuhku di kasur, terasa ada yang mengganjal di saku bagian sebelah kanan jaket yang kupakai sejak tadi aku pulang dari kantor, bekas kantorku lebih tepatnya, ketika aku merogoh sakuku untuk mengambil dan melihat apa yang mengganjal itu, ternyata amplop cokelat yang tadi dilempar oleh istri Mas Hadi dan dipaksanya aku untuk mengambilnya, aku membuka amplop tersebut kemudian menghitung uang yang ada di dalamnya, sepuluh juta. Sebanyak itu uang yang berani perempuan itu keluarkan untuk memisahkan aku dengan suaminya, yah, aku sih tidak munafik, uang ini akan aku gunakan untuk hal yang penting. Karena lelah menangis, mataku jadi berat dan ngantuk sekali, maka aku putuskan untuk memejamkan mataku sebentar, terasa nyaman sekali tidur di ranjang ini, memeluk guling yang biasa Jingga pakai untuk tidur, aroma sarung bantal dan sarung gulingnya masih ada aroma tubuh Jingga, “Nak, pulang. Ibu janji Ibu gak akan meninggalkan Jingga lagi sendirian.” Setelah bicara seperti itu, aku kehilangan kesadaran dan tidur dalam posisi yang nyenyak. Tapi tiba-tiba, nyawaku serasa ditarik paksa dari ragaku ketika aku mendengar ketukan di pintu kamar, “Bu …” aku mencoba untuk memastikan lagi suara yang aku dengar ini, “Ibu … Ini Jingga.” Mendengar namanya, aku langsung bangun dari tempat tidurku secepat mungkin mencapai ke pintu, dan membuka kuncinya, benar, yang ada di depan pintu sekarang adalah Jingga, anakku yang sejak beberapa hari kemarin tidak ada di rumah, “Jingga, Nak. Ya Allah, terima kasih.” Aku memeluk tubuhnya, menyiumi kepalanya, mengusap rambutnya, “Jingga kemana aja, kenapa Jingga ninggalin Ibu, Jingga kok mau ikut sama orang yang gak dikenal itu, Nak? Kenapa Jingga gak nurut sama yang Ibu omongin?” anak di depanku ini bergeming, dia tidak menyahuti ucapanku, aku tersadar kemudian, mungkin dia kelelahan, mungkin dia butuh istirahat, “Jingga gak kenapa-kenapa, kan? Jingga gak diapa-apain, kan sama orang, badan Jingga gak ada yang disakiti atau disentuh, kan, Nak?” Jingga menggeleng, “Gak, Bu. Jingga baik-baik aja. Maafkan Jingga, ya, Bu. Kemarin Jingga gak nurut sama Ibu, kemarin itu pulang sekolah harusnya Jingga langsung aja pulang ke rumah, dan gak usah mau ketika diajak dan dijanjikan untuk dibelikan boneka dan mainan yang banyak, maafkan Jingga, Bu.” Jingga terisak, saking keras tangisannya, aku bisa melihat pundaknya terguncang hebat, aku memeluknya, kejadian ini pasti membuatnya kebingungan, “Gak apa-apa, Nak. Jingga tenang dulu, ya. Biar Ibu masakin Jingga sop ayam kesukaan Jingga, sekarang Jingga mandi dan istirahat dulu, ya.” dia memelukku, menangis lagi, “Ibu, emangnya gak bisa, ya, Ibu berhenti dari tempat kerja Ibu, biar bisa antar jemput Jingga lagi seperti kemarin, Jingga beneran takut, Bu, kalo-kalo orang yang kemarin datang lagi, memang sih, Jingga dikasih makan yang enak-enak, dikasih mainan, dikasih jajanan yang banyak, tapi tetap saja, di rumah itu gak ada yang Jingga kenal, Jingga takut.” Aku memeluknya erat, untuk memberikan kenyamanan dan memastikan bahwa dia akan baik-baik saja, “Iya, Ibu janji bakal nemenin Jingga lagi, Ibu bakal antar dan jemput Jingga lagi seperti kemarin, Ibu sudah memutuskan untuk berhenti bekerja, Jingga jangan takut lagi, ya.” dia melihat ke arahku dengan matanya yang berbinar dia loncat-loncat kegirangan, “Beneran, Bu, Ibu udah berhenti bekerja, serius?” aku menganggukan kepalaku, “Iya, beneran. Ibu gak mau lagi kehilangan Jingga seperti kemarin, kalo hanya mau cari uang aja, Ibu bisa jualan, kan. Apalagi sekarang Ibu udah ada modal, di sekolah juga banyak, kan, yang suka pesan rolade telur buatan Ibu, itu akan Ibu jadikan usaha untuk nambah-nambah penghasilan, jadi Jingga sekarang tidak perlu khawatir, ya. Jingga melompat-lompat dengan gembira, wajahnya kembali ceria. Lalu Mas Subagja datang dan seketika wajah Jingga kembali redup, “Jingga, maafkan Bapak, ya.” Jingga yang diajak bicara sama bapaknya sendiri malah memilih untuk memelukku dengan erat, seperti melihat hantu saja dia ketika melihat bapaknya, “Nak, maafkan Bapak. Selama ini mungkin Jingga sering melihat Bapak jahat sama Ibu, Bapak sering membentak Ibu, maafkan Bapak, Nak. Bapak banyak salah sama kamu dan Ibu, mulai hari ini Bapak janji tidak akan lagi memperlakukan kalian dengan buruk, Bapak akan pulang tepat waktu dan mengurangi waktu lembur, kalo hari libur Bapak usahakan ada di rumah, nemenin Jingga main, kecuali memang Bapak harus lembur dari kantor.” Jingga bergeming, dia mempererat genggaman tangannya di pelukanku, Mas Subagja rupanya belum selesai dengan ucapannya, dia kembali melanjutkan omongannya, “Bu, ini janjiku, tolong pegang. Sekali lagi aku menyakiti kamu atau Jingga, aku bersedia angkat kaki dan pergi dari rumah ini, aku bersedia kamu usir dari rumah ini. Tolong pegang kata-kataku, tolong percaya sama aku sekali ini saja, aku sudah lelah bertengkar terus sama kamu.” Aku tidak menjawab, menyuruh Jingga untuk masuk ke kamarnya, “Jingga masuk ke kamar, bersih-bersih badan, dan istirahat, ya. Ibu mau masak, nanti kalo semua makanan udah siap, Jingga Ibu panggil.” Dia mengangguk lalu masuk ke dalam kamar, Mas Subagja seperti mau protes, tapi kemudian aku memberikannya tatapan tajam, dan dia memilih untuk diam. Setelah Jingga masuk ke dalam kamar, aku pergi ke dapur, dan benar dugaanku, Mas Subagja mengikutiku, “Bu, tolong percaya sama aku kali ini, aku sudah tidak sanggup untuk bermusuhan dan ribut terus sama kamu, aku …” aku melihat ke arahnya, “Siapa yang memulai semua ini, siapa yang memilih berselingkuh dan meninggalkan aku, istri yang bau, jelek, dan tidak sedap dipandang mata ini, siapa yang lebih sering lembur dan tinggal di rumah perempuan lain, ketimbang main dan dekat dengan anaknya sendiri, SIAPA?” tanyaku setengah berteriak di depan mukanya, Mas Subagja menundukkan kepalanya, “Aku, Bu. Itu kesalahanku dan hari ini aku berjanji akan mengubah semua perangaiku, aku berjanji akan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah sama kamu dan Jingga, aku janji …” aku memutus omongannya, “Tidak usah berjanji banyak hal, nanti di akhirat janjimu itu akan dimintakan pertanggung jawabannya ketika kamu tidak bisa menepatinya, maka hukuman Allah akan menantimu. Diam dan buktikan saja, aku dan Jingga sudah muak melihat tingkahmu, kamu gak liat anakmu tadi, ketika melihatmu dia seperti melihat orang lain, bukan seperti melihat Bapak, itu semua karena ulahmu, sekarang aku mau masak, jadi tidak usah menggangguku, silakan urus saja urusanmu yang lain.” Dia mengangguk, “Aku ke depan, ya.” aku melengos, tidak menanggapi ucapannya, terserah dia mau ke mana dia mau ngapain, toh selama ini juga dia tidak pernah bilang ketika mau pergi, ketika mau mengerjakan apa, rumah ini dibuatnya seperti kos-kosan, datang ketika lelah dari kantor atau berselingkuh dan pergi seperti tidak ada beban sama sekali, jangankan menghabiskan waktu dengan Jingga, anak kandungnya itu, bahkan sekedar untuk menanyakan keadaan Jingga saja sudah tidak sempat lagi, sudah seperti itu, dia masih mengharapkan agar Jingga bisa bersikap seperti biasa, bersikap seolah-olah hubungan bapak dan anak yang dijalankan normal seperti bapak dan anak pada umumnya, memang benar-benar gak tau diri lelaki ini. Setelah Mas Subagja berlalu dari pandanganku, aku memulai masak, sesekali aku menengok ke dalam kamar Jingga, aku melihatnya tertidur pulas, wajah yang beberapa hari ini hilang dari pandanganku, kini sudah kembali, suara yang beberapa hari ini sangat rindu untuk aku dengar kini bisa aku dengar lagi, tapi tiba-tiba aku teringat polisi yang masih mencari Jingga, mereka harus diberi tau kalo Jingga sudah pulang ke rumah, maka aku memanggil Mas Subagja, “Mas …” tidak sampai hitungan menit, dia sudah ada di depan mataku, tidak seperti biasanya, mau jerit-jerit manggil dia juga dia gak bakal nongol, “Kenapa, Bu? Apa yang bisa aku bantu?” dengan senyumnya itu, aku memasang wajah lempeng, “Ituloh, polisi yang cari Jingga kan belum tau kalo Jingga udah pulang, kamu kabarin mereka, gih, ke Pak RT juga, kabarkan kalo Jingga udah pulang dengan selamat, ke Mpok Leha jangan lupa.” Hanya sekali anggukan kepala, Mas Subagja sudah melesat pergi dan aku meneruskan untuk memasak. Selang sepuluh menit kemudian, dari luar terdengar suara Mpok Leha memanggilku, “Mamanya Jingga, assalamualaikum,” aku memastikan komporku tidak menyala terlalu besar, lalu bergegas ke depan untuk nyamperin Mpok Leha yang kepalanya nongol di gerbang, “Iya, Mpok, masuk ke sini, Mpok,” dia menggeleng, “Kagak, udah aye di sini aje. Tadi ketemu bapaknya Jingga, ngabarin kalo Jingga udah pulang, beneran?” aku tersenyum, “Bener, Mpok. Sekitar satu jam yang lalu.” Terlihat senyum cerah mengembang di wajah Mpok Leha, “Alhamdulillah. Sehat-sehat, kan dia, gak diapa-apain, kan, sama yang nyulik?” aku mengangguk, “Sehat, Mpok. Jingga gak kenapa-kenapa.” Dia mengelus d**a, “Syukurlah. Tapi, mamanya Jingga, ini mah saran aye aje, ye. Nanti kalo udah tenang, Jingga dibawa ke bidan ato dokter, diperiksain, kasian kalo dia kenapa-kenapa, ini bukannya aye ngedoain Jingga kenapa-kenapa, ya, untuk jaga-jaga aja, antisipasi. Semoga dia beneran gak kenapa-kenapa.” Aku mengangguk, sambil berpikir, betul juga apa yang dikatakan Mpok Leha. Dan setelahnya, Mpok Leha pamitan, “Ya ude, aye balik dulu ke warung, gak ada yang jaga. Tadi aye tinggal warung, langsung ke sini, waktu dapet kabar Jingga udah balik.” Aku mengucapkan terima kasih, “Iya, Mpok. Makasih, ya.” dan Mpok Leha berlalu dari pandangan, kemudian aku kembali masuk ke dalam untuk meneruskan kegiatan memasakku di dapur.