Ibu 23

1655 Kata
Ketika aku sedang memasak, Pak RT dan dua orang polisi satu orang pria dan satunya wanita datang bersamaan dengan Mas Subagja, “Bu, Pak RT dan polisi ingin meminta keterangan dari Jingga, mengenai apa yang terjadi kemarin, aku atau kamu yang mau nemenin?” aku langsung menyahuti, “Biar aku saja.” Lalu bergegas mematikan kompor dan mencuci tanganku dan menghampiri Pak RT juga kedua orang polisi tadi, “Sebentar saya ngomong dulu ke Jingga, ya, Pak, Bu. Biar dia gak kaget.” mereka setuju lalu aku masuk ke kamar Jingga, “Nak, di depan ada Pak RT dan bapak juga ibu polisi. Jingga gak perlu takut, mereka ke sini karena mereka orang baik, terbukti sejak Jingga pergi dan menghilang kemarin Pak RT dan polisi-polisi itu bantuin Ibu sama Bapak untuk nyariin kamu. Jadi nanti, kalo ditanya atau disuruh menceritakan apa pun yang terjadi sama Jingga ketika diculik itu, ceritakan semua, ya, Nak. Jangan ada yang Jingga tutup-tutupi.” Aku bisa melihat wajah Jingga seperti ketakutan, “Ibu akan nemenin Jingga, ya. Jadi gak usah takut.” Setelah berdiskusi dan ngobrol sama Jingga di kamar, akhirnya Jingga setuju untuk diinterogasi dan dimintai keterangan, “Jingga mau dimintai keterangan, tapi izinkan saya untuk menemani dia, ya, Pak, Bu. Saya khawatir Jingga takut.” Dan mereka memberikan izin itu. Ketika masuk ke kamar Jingga, Pak RT memperkenalkan bapak dan ibu polisi yang ada, lalu polisi wanita yang terlihat lebih pelan suaranya dan bisa membuat Jingga nyaman bicara, menanyakan bagaimana kejadian kemarin, kemana Jingga dibawa, berapa orang yang Jingga ingat yang ada di tempat itu, lalu apa saja yang dilakukan orang-orang di situ, “Jingga gak tau itu di mana, karena setelah dibawa dari depan gang sana, mata Jingga kemudian ditutup. Jingga juga gak tau ada berapa orang, yang pasti ketika Jingga dimasukkan ke dalam satu ruangan, yang banyak mainan, juga ranjang yang empuk, ada satu orang wanita yang agak lebih tua dari Ibu selalu menemani Jingga bermain, selalu nyuapin Jingga makan.“ dan masih banyak lagi keterangan yang diminta polisi ke Jingga. Setelah hampir satu jam, Pak RT, bapak dan ibu polisi akhirnya menuntaskan kunjungannya, “Kami menganggap kasus ini kasus penculikan dengan motif dendam. Jika memang Bu Lastri ingin saya menjebloskan pelakunya ke penjara, karena bukti sudah kuat, kami akan minta surat penangkapan.” Aku menggeleng keras, “Tidak usah, Pak. Cukup selesai di sini saja, tolong tutup kasusnya.” Dan hanya sekitar sepuluh menit setelahnya pak RT, dan bapak juga ibu polisi tersebut pamit. Setelah mereka pergi, aku kembali menyelesaikan urusan masak memasakku. Sekitar satu setengah jam kemudian, aku berjibaku di dapur, di depan kompor, selesai juga masakanku, dan aku memanggil Jingga yang ada di kamarnya, “Jingga, makan siang dulu, yuk. Ibu udah selesai masaknya, nih.” Ketika siang sudah datang, masakanku juga sudah beres semua, tidak berapa lama, Jingga keluar, “Ibu masak apa?” pertanyaan yang beberapa hari kemarin sempat hilang, suara yang aku rindukan kini sudah kembali, dengan bersemangat Jingga duduk di tempatnya seperti biasa, dan kursi yang beberapa waktu kemarin sempat kosong juga sudah terisi lagi, “Ibu masak ayam goreng, tumis toge, dan sayur asem. Jingga suka, kan?” dia mengangguk, aku mengambil piring kosong, mengisinya dengan nasi, dan mengangsurkan piring tersebut ke tangan Jingga, “Ayamnya hanya boleh dimakan satu potong, kan, Bu, Jingga boleh pilih, ya?” aku menggeleng, “Makan sebanyak yang Jingga suka, mau bagian yang manapun, boleh Jingga pilih.” Dia bertepuk tangan gembira, matanya yang berbinar menatapku, mencari keseriusan di dalamnya, “Ini Ibu gak lagi bercanda, kan?” aku menggeleng, “Enggak, donk. Ibu serius banget, ambil semua yang mau Jingga makan, ya.” dan tanpa menunggu lama, Jingga langsung melahap masakan yang aku buat khusus untuknya, namun tiba-tiba, di tengah suapan demi suapan yang sedang Jingga lakukan, pada suapan yang ini, tangannya berhenti di udara, lalu menaruh lagi nasi yang hampir masuk ke dalam suapan mulutnya, “Bu, Bapak pergi lagi, ya? Bapak gak mau makan sama Jingga dan Ibu lagi, ya, sekarang. Memangnya kantor Bapak sekarang masih sering lembur-lembur gitu, ya, Bu?” aku mengangguk, “Di kantor Bapak memang sedang banyak kerjaan, Bapak juga masih sering lembur. Gak apa-apa, ya, Nak. Bapak kerja kan untuk kita juga, nanti kalo Bapak ada waktu buat makan bareng sama kita, pasti Bapak akan duduk di sini lagi seperti kemarin-kemarin.” Jingga mengangguk, tapi tidak berapa lama kemudian, Mas Subagja masuk ke rumah dengan menenteng dua plastik besar, yang aku gak tau isinya apa. setelahnya dia menaruh plastik tersebut dan duduk di sebelahku, “Ini ada jajanan untuk Jingga dan Ibu. Jingga boleh pilih mau yang mana, sisanya biar Ibu yang simpan, ya. Nanti Jingga minta ke Ibu langsung kalo mau jajanan yang lain.” Anakku, anak baik yang tidak pernah berpikir aneh-aneh apalagi sampai membenci bapaknya, tidak. Jingga anak yang baik, berapa kali pun bapaknya menyakiti dan mengecewakannya, dia selalu menyambut Mas Subagja dengan suka cita, “Beneran, Pak, ini buat Jingga?” Mas Subagja mengangguk, “Bener, donk. Tapi disimpan di Ibu, ya.” Jingga mengangguk, “Makasih, ya, Pak.” Aku kemudian berbasa-basi menawarkan Mas Subagja makan, “Mau makan, Pak?” dia mengangguk, tapi belum sempat aku mengambilkan nasi untuknya, dia sudah mengambil piring duluan dan mencentong nasi ke piringnya, “Ibu makan aja, biar Bapak ambil sendiri.” Ini tidak seperti kebiasaannya, biasanya dia tidak akan makan sampai nasi, lauk pauk, bahkan air minumnya tersedia di hadapan, semua harus disajikan, semua harus disediakan, baru mau mulai makan. Entah dia memang sudah benar-benar insaf atau ini hanya lakon pura-pura yang sedang dia mainkan demi meredam kekesalanku terhadapnya, lelaki di depanku ini manipulatif dan pintar memutar balikkan fakta. Dia bisa berubah seratus delapan puluh derajat, hanya karena demi meloloskan apa yang menjadi keinginan dan kehendaknya, dia bisa berbohong, bisa meyakinkan kebohongannya itu adalah betulan dan fakta, aku sudah hidup belasan tahun dengan lelaki yang ada di depanku ini, jadi aku sudah paham betul apa yang dia inginkan. Sikapnya yang berubah baik seperti ini, mungkin untuk orang lain yang melihatnya akan bahagia, karena berpikir lelaki ini sudah berubah menjadi lebih baik, tapi aku, aku yang sudah sangat paham kondisinya, tidak akan dengan mudahnya percaya begitu saja, aku yang sudah tau akal bulusnya akan bertindak dan berbicara lebih hati-hati lagi agar tidak terjebak. Kami makan dalam keadaan tenang dan damai, aku berusaha untuk bersabar dan tidak membuat perkara dengan Mas Subagja, biarlah sehari ini aku akan memilih lebih banyak diam dan mengikuti saja alur permainan Mas Subagja, demi Jingga. Setelah selesai makan, Jingga memilih jajanan yang tadi dibelikan bapaknya, “Dua saja, Bu. Sisanya buat besok, besok lagi, besoknya lagi, besoknya lagi, ya.” aku tertawa melihat ekspresinya yang lucu, “Kalo habis, nanti Bapak belikan lagi, tenang aja.” Lalu setelahnya Jingga pamit masuk ke kamar dan beristirahat. Meninggalkan aku dan Mas Subagja berdua aku mencuci piring dan membereskan bekas kami makan barusan, “Bu, kalo sudah selesai ke sini, ya, aku mau bicara.” Aku diam tidak menanggapi ucapannya, sengaja aku menunda dan tidak segera menyelesaikan pekerjaanku, aku sudah muak dengan Mas Subagja, kemudian tidak berapa lama handphonenya berdering, tidak seperti biasanya, dia mengangkat telepon tersebut di dekatku, biasanya ketika handphonenya berdering, dia akan segera menjauh, baru mau menerima telepon itu, “Iya, saya ada di rumah. Besok pagi, ya, Pak, saya bereskan. Baik.” Entah siapa yang dia ajak bicara, aku juga gak peduli, “Bu, mau aku bantu?” rupanya dia sudah agak lama menunggu, maka segera aku menyelesaikan pekerjaanku, mengelap tanganku yang basah, dan duduk di depannya, “Ada apa? gak usah banyak basa-basi, langsung saja.” Dia menarik napas panjang, lalu mulai membuka mulutnya, “Mulai besok aku akan bekerja berangkat pukul delapan pagi dan pulang sudah sampai di rumah paling lambat pukul enam sore. Uang gajiku sudah aku alihkan ke kamu, nomor rekeningku yang aku daftarkan untuk pembayaran gaji sudah aku ganti dengan nomor rekeningmu, aku minta tolong jaga Jingga, aku tau mungkin sekarang kamu masih kesal, kecewa, marah sama aku, toh kita sama-sama punya kesalahan. Iya, aku sudah mengakui, semua kejadian ini terjadi karena aku yang memulai duluan. Kamu tidak akan bekerja jika aku bisa mencukupi kebutuhanmu dan Jingga, kamu tidak akan tidur dengan bosmu dengan iming-iming uang, jika aku tidak memulai dulu berselingkuh dengan Diana, tapi toh kita punya kesalahan masing-masing. Hari ini, aku meminta maaf, jika harus sujud di kakimu pun, akan aku lakukan, tapi tolong maafkan aku. Hari ini juga aku meminta kita memulai lagi semuanya dari awal, gajiku silakan kamu kelola, aku hanya minta untuk sekedar bensin dan beli jajan saja, mengenai hubunganku dengan Diana, aku sudah tidak ada lagi hubungan dengan dia atau dengan perempuan manapun.” Aku menarik napas panjang, mendengar ucapannya serasa mendengar orang yang meminta maaf tapi tidak tulus, dia seperti mengungkit kejadian aku dengan Mas Hadi yang jelas-jelas pemicu dan alasan semua ini terjadi adalah dia, mengakui kesalahan tapi mengungkit kesalahan orang lain. Tapi aku juga memikirkan keadaan Jingga, jika aku masih memaksa untuk marah dan tidak mau memberikan kesempatan ke Mas Subagja, keadaan akan semakin tidak baik untuk Jingga, “Baik. Mari kita mulai semuanya dari awal. Tapi aku minta waktu, untuk kembali bisa b******u dan menjalankan peranku sebagai istri melayanimu di ranjang, aku tidak bisa dalam waktu dekat ini. Bayanganku akan kamu yang tidur di dalam pelukan Diana dan mengerang karena kalian tidur bersama itu sangat menyakitkan untukku. Tidak usah bicara dan menyalahkanku menjalin hubungan dengan bosku, toh aku tidak akan melakukan semua itu jika bukan kamu yang memulai duluan.” Dia mengangguk, “Silakan ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan untuk menenangkan dirimu dan membuat dirimu nyaman, aku akan menunggu. Jingga yang harus jadi prioritas, tidak usah buat sarapan jika kamu lelah, yang penting aku mohon, minta tolong sama kamu untuk antar dan jemput Jingga, ya. jangan sampai kejadian kemarin terjadi lagi.” Aku mengangguk, “Atur saja yang bisa kamu atur.” Begitu ucapku, lalu kembali meneruskan pekerjaanku yang belum selesai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN