Ibu 24

1105 Kata
Sudah tiga bulan berjalan sejak hari kepulangan Jingga ke rumah setelah tiga hari tidak ada kabar sama sekali, aku juga sudah meminta polisi dan Pak RT untuk tidak memperpanjang kasus ini, karena jika aku bikin panjang, Mas Hadi dan istrinya akan ikut terseret, hubunganku dengan Mas Hadi juga akan terbuka, dan keadaan bakal menjadi semakin runyam dan rumit. Sejak hari itu juga, Mas Hadi hanya satu kali menghubungiku, itu pun hanya melalui pesan singkat yang dia kirimkan, “Terima kasih atas nikmatnya tubuhmu kemarin, aku menyesal sebenarnya tidak dapat mereguk nikmat yang lebih banyak lagi darimu, aku sebenarnya ingin lebih lama berdua bersamamu, tapi ini sudah keburu ketahuan istriku. Nanti, kalo keadaan sudah tenang aku akan menghubungimu lagi, masih terdengar hembusan napasmu di telingaku, ketika terakhir kemarin kita menghabiskan waktu berdua. Oh iya, aku juga sudah mengirimkan uang lima juta rupiah ke rekeningmu, itu sebagai ucapan terima kasih dan perpisahan sementara dariku.” Ya, Mas Hadi masih juga mengirimkan uang ke aku, dia bilang perpisahan ini hanya sementara, tapi untukku ini adalah perpisahan yang selamanya, karena aku tidak mau lagi hal buruk terjadi terhadap Jingga. Dan sejak kemarin juga, aku secara resmi mulai menjual rolade telurku secara besar. Kalo kemarin aku menerima saja pesanan yang masuk, tanpa promosi, maka kali ini aku mencoba menekuni dengan serius usaha ini, aku mulai membuat brosur untuk aku sebarkan ke tempat-tempat ramai, aku juga menawarkan kerja sama dengan beberapa rumah makan yang ada di daerahku, perlahan, dua pesanan, tiga pesanan, sampai lima pesanan, aku terima setiap harinya, aku mengerjakannya dengan senang, memang uangnya tidak sebanyak kemarin, ketika aku masih menjalin hubungan dengan Mas Hadi, tapi uang yang aku terima sekarang terasa jauh lebih nikmat, Jingga juga tetap bisa aku kontrol, belum lagi urusan rumah juga tidak terbengkalai. Kalo Mas Subagja, dalam bulan berjalan ini dia memang menunjukkan sikap yang baik, hampir semua ucapannya terbukti, seperti gaji dia yang langsung ditransfer ke rekeningku, dia juga tidak terlihat menerima telepon secara sembunyi-sembunyi lagi, pulang kerja juga paling lambat maksimal pukul enam sudah di rumah, sudah jarang banget dia ke luar kota, hanya sesekali saja dia pulang pukul sembilan atau sepuluh malam, itu benar-benar karena masih kerja, ucapnya. Aku percaya saja, tidak ada yang berubah dari pandanganku terhadap Mas Subagja, kecurigaan dan cemburu yang masih juga merajai hatiku, hanya berkurang sedikit sekali, sisanya masih sama saja seperti kemarin-kemarin. Jingga semakin hari semakin membuatku bangga saja menjadi ibunya, kemarin, hari Senin dia pulang dengan membawa sertifikat penghargaan, “Ibu, liat, donk. Ini penghargaan Jingga dapet karena Jingga rajin membantu teman-teman di kelas.” Aku mengangguk, bangga, “Keren banget anak Ibu.” Lalu mengusap kepalanya, hari ini, dia pulang sekolah membawa piala, tertulis juara 1 lomba matematika, “Bu, Jingga dapet piala, tadi kan Jingga ikut lomba di SD Sawah Baru, hanya Jingga, Bu Aini, dan Arum yang ikut. Tapi Arum gak dapet juara, Bu. Hanya Jingga aja yang dapet juara, Jingga keren, ya, Bu.” Aku mengangguk lagi, Jingga, anak semata wayangku, bagaimana aku bisa kehilangan dia yang begitu baiknya, begitu cerdasnya, bahkan sekarang banyak prestasi yang dia torehkan dan bisa membuat aku juga Mas Subagja bangga. Ketika Mas Subagja pulang dari kantor, Jingga menghampiri bapaknya dan memamerkan piala yang tadi siang dia dapatkan, “Pak, lihat, hari ini Jingga dapet piala, Jingga menang lomba matematika.” Aku melihat Mas Subagja mengusap kepala Jingga dengan lembut, “Sepertinya Bapak harus membeli lemari baru nih.” Aku keheranan, begitu juga dengan Jingga, “Untuk apa, Mas? Baju-baju kita kan masih cukup di lemari pakaian yang lama, Jingga juga belum perlu lemari baru.” Aku melihat Mas Subagja menggelengkan kepalanya, “Bukan, bukan untuk lemari baju, tapi untuk lemari piala dan penghargaan Jingga, karena sepertinya anak Bapak ini bakal dapet piala lagi nih, sampe penuh nanti lemari pialanya.” Jingga yang mendengar hal tersebut meloncat kegirangan, “Betul, Pak, kita bakal beli lemari piala baru, ya. Beneran, kan?” Bapak menganggukkan kepalanya, “Malam ini, kita makan di luar, ya, Bu. Siap-siap, alhamdulillah Bapak dapet uang bonus, sekalian kita rayakan juga keberhasilan Jingga dapet juara pertama lomba matematika.” Tanpa dikomando, Jingga langsung menyerbu ke arah Mas Subagja, lalu memeluknya, “Bapak, terima kasih, Jingga senang sekali.” Mas Subagja mengangguk, “Sekarang Jingga ganti baju, ya. Bapak sama Ibu tunggu di sini.” Kemudian tanpa menunggu waktu lama, Jingga langsung masuk ke kamar, aku yang ditinggal berdua, menanyakan uang dari mana bonus yang didapat, “Mas, dapet uang itu darimana?” dia melihat ke arahku, “Ini uang bonus aku lembur kemarin, yang pulang jam sepuluh terus tiga hari berturut-turut. Lumayan dapat dua ratus ribu. Gak apa-apa, ya, uang bonus yang ini aku pake untuk traktir Jingga dan kamu.” Aku mengangguk, “Iya, gak apa-apa, Mas. Lagian uang gaji Mas kan di aku, insyaallah itu cukup. Kalo Mas perlu sesuatu, ngomong aja, Mas, uangnya ada kok, aku juga menyisihkan sedikit untuk tabungan setiap bulannya, gak apa-apa, ya, Mas.” Dia mengangguk, “kamu atur aja, Bu. Aku percaya sama kamu, kamu juga ganti baju donk, dandan tipis-tipis aja, biar seger.” Aku mengangguk, kemudian bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian, dan memakai make up sedikit agar tidak pucat. Lima belas menit kemudian kami sudah sampai di pasar malam yang ada di PKOR Way Halim, tempat ini memang selalu ramai kalo malam, ada saja hiburannya, mainan anak-anak, jajanan, sampai makanan berat, alat-alat rumah tangga, pecah belah, baju, sepatu, dan masih banyak lagi, ketika sampai, Mas Subagja menanyakan Jingga dia mau makan apa malam ini, “Jingga hari ini mau makan apa?” Jingga terdiam sebentar, mungkin karena dia tidak pernah diajak jalan-jalan seperti ini, dia bingung, “Terserah Bapak sama Ibu aja, Jingga ikut.” Mas Subagja terlihat menggeleng, “Gak bisa, donk, ini kan khusus untuk merayakan kemenangan Jingga, jadi Jingga yang harus memutuskan.” Kemudian dia berpikir lagi, “Ehm … boleh, gak, Pak, Bu, Jingga makan bakso, tapi Jingga juga butuh sepatu untuk sekolah, Pak. Kalo memang uangnya gak cukup, Jingga minta sepatu aja, Pak, Bu.” Mas Subagja mengangguk, “Boleh semua. Bapak akan traktir Jingga sama Ibu makan bakso, nanti kita cari juga sepatu untuk sekolah Jingga, ya, Nak.” aku bisa melihat mata Jingga yang berbinar, hampir menangis, “Beneran, Pak, Bu?” aku dan Mas Subagja mengangguk, lalu kami bisa melihat Jingga turun dari motor dan jingkrak-jingkrak kesenengan, Mas Subagja menggenggam tanganku dan berbisik, “Gak apa-apa, ya, Bu. Uangnya habis malam ini, biar Jingga senang, besok aku cari uang lagi untuk kalian.” Aku mengangguk dan tanpa sadar tersenyum, sudah lama Mas Subagja tidak bicara sedekat ini sambil memegang tanganku, ada desir aneh di dadaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN