Ibu 25

1165 Kata
Beberapa buah piala dan piagam lagi yang Jingga bawa pulang ke rumah, Mas Subagja juga semakin bangga dengan anak perempuannya ini, setiap pulang sekolah Jingga pasti menyiapkan semua yang dia dapatkan hari itu, Jingga selalu menunggu di teras rumah untuk menyambut Mas Subagja untuk menceritakan semua kejadian hari itu dan Mas Subagja juga dengan antusias mendengarkan cerita Jingga. Tapi hari ini, beda dari biasanya, sejak pagi Mas Subagja memang terlihat seperti orang kebingungan. Ketika sudah sampai di rumah Mas Subagja mengabaikan Jingga yang sudah sejak tadi duduk di teras, “Pak, Jingga hari ini dapet nilai delapan puluh, di kelas cuma Jingga yang dapet nilai segini, terus Pak …” ucapan Jingga dan celotehnya diabaikan oleh Mas Subagja, “Nanti, ya. Bapak masuk ke dalam dulu.” Lalu Mas Subagja bergegas masuk ke dalam kamar sembari memanggilku, “Bu, ke kamar sebentar.” Aku yang kebingungan, langsung bergegas menghampirinya, ketika aku membuka pintu dia langsung bilang, “Suruh Jingga masuk, kunci gerbang, masukin motor, tutup gorden ruang tamu, dan jangan idupin lampu teras atau lampu ruang tamu, buat seolah-olah tidak ada orang di rumah ini, LEKAS, BURUAN!” Mas Subagja agak meninggikan suaranya, aku yang melihat dia ketakutan seperti itu bergegas ke depan dan menghampiri Jingga, “Nak, masuk ke kamar Jingga, ya. Jangan berisik, jangan bersuara.” Jingga yang mungkin kebingungan melihatku seperti itu, menuruti ucapanku dan langsung masuk ke kamarnya, sementara aku langsung menutup pintu gerbang dan menguncinya, lalu memasukkan motor ke dalam ruang tamu, mengerjakan tepat sesuai dengan yang Mas Subagja perintahkan tadi. Setelah selesai langsung masuk ke kamar dan menghampirinya, “Ada apa, Mas? Kenapa kamu kok seperti orang ketakutan begini?” tidak ada ujan tidak ada angina, tanpa tedeng aling-aling, Mas Subagja memelukku, “Aku sedang dicari-cari polisi, Bu, tolong aku. Aku tidak berbuat kesalahan, ini semua karena temanku yang melakukannya, aku dibawa-bawa, padahal aku hanya menemani dia, gak lebih, tolong bantu aku, Bu, aku harus apa?” aku yang kebingungan mendengar apa yang barusan diucapkan Mas Subagja kebingungan juga melihatnya menangis, “Sebentar dulu, Mas. Ini ada apa sebenarnya, kenapa sampe kamu dicari-cari polisi, temanmu berbuat apa, kamu sama dia ngapain?” aku mencoba mencari cara agar Mas Subagja mau menceritakan apa yang terjadi sebenarnya, “Aku dan temanku ada bisnis. Dia bilang mau ngajak aku berbisnis makanan kaleng, gak usah keluar modal, dia yang akan memodali semua, yang harus aku lakukan hanyalah nemenin dia mengantarkan pesanan makanan kaleng itu ke beberapa tempat. Seperti kemarin, yang aku pulang malam, itu aku abis nganterin dia ke Bandarjaya. Tapi tadi, aku mendengar dia bicara di telepon, kalo dia juga lagi dicari-cari polisi, percakapan yang aku dengar adalah temanku itu menyelundupkan obat-obatan yang dilarang ke dalam kardus makanan kaleng itu, dia bilang ‘Kita harus cari cara lain kalo cara ini ketahuan.’ Begitu, Bu. Aku harus bagaimana, Bu, tolong bantu aku.” Aku yang bingung juga dengan ceritanya harus berbuat bagaimana, aku bingung siapa yang harus aku hubungi untuk menanyakan hal-hal seperti ini. Tapi kemudian aku bilang ke Mas Subagja agar dia sementara tenang saja dulu, “Ya udah, sekarang Mas tenang aja dulu. Istirahat, nanti sambil kita cari jalan keluarnya.” Aku bisa melihat dia diam tidak bicara bahkan bergerak sama sekali. Tidak berapa lama, pintu gerbang rumah kami digedor, Mas Subagja terlonjak kaget, “Bu, bagaimana ini?” aku meminta Mas Subagja tenang dulu, “Kamu tenang dulu, Pak. Biar aku keluar, gak apa-apa.” tapi kemudian dia menarik tanganku, “Jangan, Bu. Nanti kalo polisi itu masuk dan menemukan aku di sini, aku langsung dibawa ke kantor polisi, dipenjara, aku gak bisa lagi ketemu dan melihat kamu juga Jingga, aku gak mau.” Aku menggeleng, “Gak apa-apa, percaya sama aku.” Lalu melepaskan tangannya dan keluar dari kamar, bertepatan dengan Jingga yang keluar juga dari kamarnya, “Bu, di luar itu ada siapa? Kok pintu gerbang rumah kita sampe digedor begitu, Jingga kaget, Bu, Jingga takut.” Aku kemudian menenangkan Jingga juga, “Tenang, Nak. Gak ada apa-apa. Sekarang Jingga masuk saja ke dalam kamar dan diam di kamar, ya. Sampai nanti Ibu bilang boleh keluar kamar, baru Jingga keluar, ya.” dia mengangguk lalu masuk ke kamarnya. Aku berdoa dalam hati, semoga orang yang ada di luar ini tidak maen masuk atau mau menggeledah rumah, semoga dia mau bekerja sama untuk tidak membuat keributan, aku berjalan ke ruang tamu, menghidupkan lamu teras dan lampu ruang tamu, lalu berjalan ke gerbang. Pintu gerbang tidak aku buka, aku hanya bicara lewat celah-celah pintunya saja, “Siapa, ya? Ada apa, gerbang rumah saya sampai digedor seperti itu?” yang muncul adalah polisi lelaki yang pertama kali datang ketika Jingga menghilang, “Bu, selamat sore. Boleh saya masuk, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.” Aku mengernyitkan dahi, “Ini berhubungan dengan hilangnya Jingga kemarin, Pak? Bukannya kasus itu sudah saya minta untuk tutup saja, jangan ada masalah lagi.” Polisi di depanku ini menggeleng, “Bukan, Bu. Kali ini berkaitan dengan suami ibu, Pak Subagja. Apa beliau ada di dalam, saya mau ngobrol-ngobrol.” Aku menggeleng, “Kebetulan di rumah hanya ada saya dan Jingga, maaf, ya, Pak, saya gak bisa mengizinkan Bapak masuk karena suami saya tidak di rumah dan tidak ada siapa pun kecuali saya dan anak saya.” Pak polisi ini sepertinya mengerti kondisi yang sedang aku hadapi, “Saya tau suami Ibu sedang terjerat kasus, tadi saya dapat kabar dari teman-teman, saya ke sini mau mencoba ngobrol dan menanyakan kronologinya, itu saja.” Aku mengangguk, “Saya paham, Pak, tapi suami saya memang sedang tidak ada di rumah, mungkin besok kalo suami saya di rumah, Bapak bisa datang lagi.” Dia memasang wajah datar, “Itu ada motor yang biasa digunakan sama Pak Subagja, Ibu tidak sedang berbohong kepada saya, kan?” aku menggeleng, “Motor itu memang ditinggal, Pak, karena hari ini saya yang pake, untuk mengantar pesanan rolade jualan saya ke beberapa tempat. Mohon maaf sekali lagi, Pak, mungkin Bapak bisa kembali lagi besok, biar bisa ketemu langsung dengan suami saya.” Aku bersikukuh untuk tidak membiarkan lelaki di depanku ini masuk ke dalam rumahku, “Baiklah. Tapi besok, tolong kerja samanya, ya, Bu. Jangan sampai nanti terjadi apa-apa yang tidak diinginkan dengan suami Ibu. Saya pamit.” Meskipun wajahnya masih menaruh rasa penasaran, polisi itu akhirnya pergi juga. Setelah memastikan tidak ada lagi orang di luar, aku masuk, mengunci pintu, dan kembali ke kamar Mas Subagja, “Gimana, Bu, mereka udah pergi?” aku ceritakan bahwa yang ke sini adalah polisi yang menangani kasus Jingga pertama kali, “Itu Pak Polisi yang pertama kali ke sini, meminta keterangan aku, sepertinya dia baik, dia ingin membantumu, sepertinya dia tau kasusmu.” Tapi Mas Subagja bergeming, “Kalo besok dia ke sini, terus aku ditangkap, bagaimana, Bu?” aku menggeleng, “Percaya saja, kalo kamu gak salah ya gak bakal dihukum, toh.” Dan lagi-lagi, Mas Subagja hanya terdiam ketakutan, duduk di atas kasur sambil melipat kedua lututnya dan menjadikan lutut tersebut penopang dagunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN