Setelah polisi tersebut pulang dari rumahku, aku bisa melihat kekhawatiran di mata Mas Subagja, ketika aku ajak makan pun, Mas Subagja menolak, ketika aku ajak bicara pun, dia diam, seperti takut angkat bicara dan buka mulut, sepertinya Mas Subagja takut salah bicara dan jadi masalah. Maka demi melihat Mas Subagja bisa menenangkan dirinya dulu, aku memutuskan untuk duduk di ruang tamu, sambil memikirkan apa yang harus aku perbuat. Ketika sedang melamun, tiba-tiba aku teringat dan penasaran, bagaimana caranya Mas Subagja mendapatkan pekerjaan dari temannya itu, bagaimana temannya tersebut mengajak Mas Subagja agar mau jadi supirnya, dan mengantarkan temannya tersebut ke berbagai tempat. Maka dengan semangat empat lima, aku bergegas masuk ke dalam kamar, dan melihat Mas Subagja masih meringkuk seperti tadi, aku menyapanya dan mencoba mengajaknya bicara, “Mas, coba Mas ceritakan, awal mula teman Mas itu nawarin Mas pekerjaan, dan apa yang teman Mas sampaikan ketika pertama kali sebelum Mas menyetujui dan menerima pekerjaan tersebut. Mas Subagja menjelaskan semuanya dari awal dia bertemu kembali dengan teman masa sekolah menengahnya dulu, sambil mendengarkan dia bercerita, aku masih mencoba mencerna cerita yang diucapkan Mas Subagja mengenai masalah yang sedang dihadapinya, “Aku benar-benar tidak tau, Bu. Sungguh, kemarin ada telepon masuk ke handphoneku dari nomor yang tidak dikenal, dia Richard, teman sekolah menengahku, dia mengajakku ngobrol banyak hal, dan mengingat masa-masa kami sekolah, lalu selanjutnya dia menanyaiku mengenai kegiatanku sehari-hari, aku bilang kalo aku bekerja di kantor swasta biasa, lalu dia menanyakan jam kerjaku, aku juga menceritakan semuanya, dan akhirnya dia mengajakku bekerja sama, sungguh, aku hanya ditawari untuk menjadi supir dan mengantarkan temanku itu ke beberapa tempat. Alasannya memang hanya mengantarkan pesanan makanan kaleng yang dipesan orang-orang di beberapa tempat tersebut. Aku baru sadar ada hal-hal yang mencurigakan setelah mendengar telepon yang dilakukan temanku itu kepada entah siapa.” Aku menganggukkan kepala, “Waktu temanmu itu ngajak kerjasama, kamu ada kontrak atau perjanjian tertulis atau bukti apa gitu, yang diaberikan kepadamu, sekedar untuk menawarkan pekerjaan untuk mengantarkan dan nyupirin dia?” Mas Subagja menggelengkan kepalanya, “Tidak ada perjanjian atau perjanjian tertulis, hanya saja pesan yang dia kirimkan untuk memastikan bahwa aku beneran bisa bekerja dengannya atau tidak, pesan itu hanya berisi honorku, jam kerjaku, dan daerah yang akan aku dan dia datangi, itu saja.” Tiba-tiba aku mendapat ide, “Nah, sebenarnya itu sudah cukup dijadikan bukti, mana coba pesan yang dikirimkan temanmu itu, Pak, akum au lihat. Itu bisa dijadikan bukti kuat yang akan memudahkanmu untuk lepas dari jerat hukum dan membuktikan bahwa kamu memang hanya ditawarkan sebagai supir makanan kaleng, jadi dalam hal ini kamu tidak tau apa isi sebenarnya isi paket tersebut.” Mas Subagja memberikan handphonenya ke aku dan memeriksa pesan yang tadi Mas Subagja sampaikan, setelah benar-benar melihat dan memaknai, juga memastikan bahwa isi pesan tersebut benar dan tidak ada satu pun kalimat atau bahasa yang diucapkan temannya tersebut bahwa ada hal-hal yang mencurigakan, aku menenangkan Mas Subagja, “Mas, kamu gak perlu takut, di pesan ini jelas-jelas disampaikan kalo mereka hanya memintamu mengantarkan mereka ke tempat-tempat yang memesan makanan kaleng, tidak ada bahasa yang rancu atau mencurigakan dan mengarah ke isi paket selain makanan kaleng tersebut. Besok kalo ada polisi lagi yang datang ke sini, sebaiknya kita hadapi, kita temui, karena kita memang gak salah. Kalo kita menghindar atau menghilang, justru polisi semakin curiga dan menyangka kamu mengetahui isi paket tersebut tapi kamu memilih diam, itu justru memperkuat alibimu untuk dijadikan tersangka.” Aku bisa melihat keraguan dalam pandangan Mas Subagja, dia sepertinya benar-benar ketakutan dan tidak berani menghadapi ini, “Tapi nanti, kalo ternyata aku yang dijebloskan ke jeruji besi, dijadikan kambing hitam oleh mereka, bagaimana, Bu?” aku menggeleng, “Insyaallah tidak akan seperti itu, yang penting kamu jujur, kamu sampaikan semua yang dilakukan selama ini, bahwa kamu hanya mengantarkan ke tempat yang diminta, disuruh menunggu di mobil sampai urusan temanmu itu selesai, dan kalian langsung menuju pulang begitu selesai urusan kalian. Tetap saja ucapkan itu, apa pun pertanyaannya, diputer seperti apa pun, ditanya oleh siapa pun, jangan pernah mengubah jawabanmu. Karena semakin membingungkan jawabanmu, semakin berbelit-belit penjelasanmu, maka polisi akan semakin mencurigakanmu, tapi sebaliknya, jika jawabanmu sama, tidak berbelit-belit, dan jelas, aku yakin polisi juga akan mempertimbangkan keputusannya, aku yakin kamu tidak akan kenapa-kenapa, percaya sama aku.” Setelah ngobrol dan menanyakan banyak hal yang nantinya bisa dijadikan bukti kuat untuk membantu Mas Subagja, aku membiarkannya untuk istirahat, aku memilih untuk menyiapkan bahan-bahan dan bumbu untuk pesanan roladeku, besok. Karena pagi-pagi sekali akan diambil sama yang memesan. Ketika sedang berkutat di dapur, Jingga keluar dari kamarny, dan menghampiriku, lalu menanyakan keadaan bapaknya, “Bu, gimana keadaan Bapak? Apa Bapak sakit, Bu?” aku menghentikan kegiatanku, untuk mencoba menenangkan Jingga, “Bapak lagi ada masalah sedikit, tapi tadi Ibu udah ngobrol dan mengajak Bapak bicara, insyaallah semua akan baik-baik saja, Jingga doakan juga Bapak, ya, agar masalah yang Bapak hadapi lekas selesai dan Bapak bisa bebas lagi tertawa dan ngobrol dengan Jingga seperti kemarin-kemari.” Aku bisa melihat wajah Jingga yang diliputi kesedihan, baru beberapa waktu saja dia bisa merasakan perhatian dan sayang bapaknya, baru beberapa saat Jingga merasakan nyaman ngobrol dengan bapaknya, sekarang Jingga harus menerima kenyataan pahit bahwa Mas Subagja kembali murung, memang tidak seharusnya Mas Subagja melakukan hal ini, tapi dengan beratnya masalah yang sedang dihadapi, secara otomatis mood dan semangatnya juga berubah. Aku mencoba memberikan pengertian kepada Jingga, semoga anak perempuanku yang pengertian ini semakin pengertian terhadap apa yang sedang dihadapi kedua orang tuanya. Setelah merasa mendapat cukup penjelasan, Jingga pamit untuk kembali ke kamarnya, “Jingga ke kamar dulu, ya, Bu. Nanti Ibu tidur sama Jingga atau di kamar Ibu?” aku mengangguk, “Nanti Ibu tidur sebentar di kamar Jingga, lalu kembali ke kamar Ibu, ya, kasian Bapak kalo tidur sendirian, Bapak sedang butuh teman. Gak apa-apa, ya, Nak.” Jingga menganggukkan kepalanya dan berjalan masuk ke kamarnya, aku kembali meneruskan kegiatanku. Sekitar setengah jam kemudian aku bisa mendengar pintu kamar terbuka, aku pikir itu Jingga, yang masih ingin ngobrol atau bicara denganku, ternyata ada seseorang yang memelukku dari belakang, ternyata Mas Subagja yang keluar dari kamar, “Makasih, ya, Bu. Kamu sudah mau menerima dan membantuku dalam kondisi apa pun, apalagi kondisi susah dan menakutkan seperti ini, kamu masih bisa dengan tenang dan sabar menghadapi keadaan ini, terima kasih, Bu.” Dia mengecup lembut keningku, aku mengangguk, “Untuk kamu, untuk Jingga, insyaallah aku akan selalu melakukan yang terbaik, aku melakukan hal yang aneh kemarin, kan, karena memang kamu yang memulai semuanya. Tapi kalo kamu sudah mengakui kesalahanmu dan berusaha menjadi lebih baik, ya, aku juga akan melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan.” Mas Subagja mengangguk, lalu menangis di bahuku, iya, dia menangis. Mas Subagja tidak pernah menangis akan hal-hal remeh temeh, jika dia sudah begini, berarti dia memang sudah benar-benar ketakutan.