Ibu 27

1030 Kata
Ketika malam sudah larut, pekerjaanku untuk mempersiapkan semua bahan-bahan untuk pesanan rolade besok sudah selesai, aku mencuci tanganku, lalu berjalan ke arah kamar Jingga, lalu masuk ke dalam kamarnya, dan mengecup keningnya, aku menatap wajahnya yang tenang, tidur dalam keadaan yang mungkin sedih, karena seharian ini dia sama sekali tidak bisa dekat dengan bapaknya apa lagi untuk sekedar mengobrol. Jingga, anak perempuanku satu-satunya, kasihan sekali anak ini, baru umur segini sudah banyak yang dia alami, mulai dari lahir dan langsung merasakan kaya raya, keliling Eropa karena bisnis kuliner dan restoran Mas Subagja yang sangat sukses, lalu dalam hitungan bulan saja kami bangkrut, kami ditipu habis-habisan oleh teman Mas Subagja yang mengajak Mas Subagja menginvestasikan uangnya dan dijanjikan hasil yang berlipat ganda. Aku jadi mengingat kejadian waktu itu, kami hidup dalam keadaan yang bahagia, kaya raya, Jingga lahir sebagai anak sendok emas. Tidak sedetik pun waktunya merasakan kesulitan, bisnis kuliner dan restoran Mas Subagja yang sukses besar harus kanda, karena keinginan Mas Subagja melipatgandakan kekayaan kami. Awalnya, ketika ditawarkan untuk ikut investasi aku dan Mas Subagja tidak tertarik karena kami tau, bisnis seperti itu bagaikan judi, kalo lagi untung, bakal untung terus, dan kami akan dengan semangat menambah modal kami, tapi jika sedang rugi, maka kami akan semakin penasaran, dan berakhir dengan semakin banyaknya modal yang akan kami pertaruhkan. Tapi teman Mas Subagja yang menawarkan investasi tersebut menjamin keuntungan sepuluh sampai dua puluh persen untuk modal yang kami keluarkan, “Ini trading saham, aman. Perputaran uangnya juga cepat, hanya seminggu. Skemanya begini, hari ini, Senin, kalian tanamkan modal satu juta. Hari Senin minggu depan kalian akan mendapatkan kembali modal yang kalian kasih ditambah lagi dengan hasil tradingnya, dua ratus ribu. Semakin besar modal yang kalian tanam, semakin besar kemungkinan kalian mendapatkan keuntungan yang fantastis, coba aja dulu, kalo rugi, ya, gak rugi-rugi banget.” Akhirnya dengan bujukan itu, aku dan Mas Subagja mencoba peruntungan kami dan juga untuk membuktikan ucapan teman Mas Subagja tersebut. Uang pertama yang kami titipkan di teman Mas Subagja itu sebanyak dua juta rupiah. Dan benar saja, satu minggu kemudian teman Mas Subagja itu datang dengan membawa modal kami dua juta rupiah dan keuntungannya empat ratus ribu, “Kalian beruntung, keuntungan seminggu ini di angka dua puluh persen. Ini modalnya, ini keuntungannya. Kalo mau diambil semua dan kalian mau berhenti, ya, silakan. Tapi kalo aku, ketika awal ikut trading ini, modal dan keuntungan di awal aku putarkan lagi untuk dapat keuntungan yang lebih banyak.” Karena bukti di depan mata yang kami dapatkan, Mas Subagja semangat untuk memberikan uang tambahan untuk ngegenapin uang yang dibawa teman Mas Subagja tadi, “Ini aku tambahkan dua juta enam ratus ribu rupiah, jadi totalnya lima juta rupiah, ya.” Dan seminggu kemudian teman Mas Subagja membawa lagi modal dan keuntungannya sebesar satu juta rupiah, begitu seterusnya. Sampai akhirnya Mas Subagja mengajak temannya yang lain untuk ikut trading ini. Ada yang langsung memberikan modal dua puluh juta, lima puluh juta, hingga ratusan juta. Awalnya kami tidak memikirkan hal buruk sama sekali, walaupun janji yang biasanya hanya satu minggu perputaran uang tersebut, molor menjadi dua minggu, “Karena banyak, jadi tradingnya dibagi ke beberapa tempat. Sabar, ya. minggu depan modal dan keuntungannya akan ditambah, jadi hitungannya dua minggu.” Kami yang menjamin beberapa teman ikut trading atas dasar kepercayaan itu, memberikan kabar tersebut, mereka menyambut berita tersebut dengan suka cita, sambil menghitung untung yang akan kami terima. Naas tidak bisa ditolak untung tak dapat diraih, ketika di hari yang sudah dijanjikan teman Mas Subagja yang membawa uang kami untuk trading dan investasi tidak bisa dihubungi sama sekali, sementara teman-teman Mas Subagja yang ikut menitipkan uang ke kami mulai gelisah, ada yang menelepon Mas Subagja dan mengancam akan melaporkan Mas Subagja ke polisi, ada juga yang mengancam akan datang ke rumah dan membakar rumah kami. Sudah tidak bisa dibendung lagi kemarahan orang-orang yang memercayakan uangnya di kami, jadi mau tidak mau, kami harus menjual aset, restoran, hingga rumah kami, untuk mengembalikan uang modal beserta keuntungan yang dijanjikan oleh teman Mas Subagja, total uang yang kami keluarkan sekitar lima belas milyar. Sampai miskin kami dibuatnya, hanya tersisa uang lima puluh juta di tabungan, uang itu yang digunakan untuk ongkos pulang ke Indonesia, karena posisi terakhir kami sedang berada di luar negeri untuk kebutuhan bisnis, di Venice lebih tepatnya, juga kami gunakan untuk membayar kontrakan rumah, dan memulai hidup kami dengan sangat sederhana. Mas Subagja yang mengalami depresi memilih berkubang dalam kesedihannya, sementara uang tabungan kami harus direlakan demi memenuhi kebutuhan kehidupan kami. Sampai beberapa kali Mas Subagja keluar masuk perusahaan yang setiap kali dia mulai bekerja hanya akan bertahan selama satu atau dua minggu, dengan alasan “Aku tidak bisa diperintah, aku biasa menjalankan bisnisku sendiri.” Dia akan menggunakan dalih itu. Sampai mendapatkan pekerjaan yang sekarang, aku yang memaksanya untuk bertahan, “Kalo sekali ini kamu keluar lagi dari pekerjaan ini, aku yang akan pergi dari rumah ini sama Jingga. Kamu gak kasian sama anakmu? Dia kurang makan, tidak bisa membeli jajan, bahkan sekedar untuk masak ayam saja, harus nunggu kamu gajian, itu juga kalo ada sisanya.” Maka mungkin dengan terpaksa Mas Subagja bertahan dengan pekerjaannya sekarang. Aku menyusut air mataku, tanpa terasa air mataku mengalir, mengingat kejadian tersebut. Dan sekarang, Mas Subagja harus terlibat dalam kondisi seperti ini lagi, terlibat masalah lagi. Setelah puas memandang wajah Jingga, aku mengecup keningnya, lalu beranjak ke kamarku, merebahkan diri di sebelah Mas Subagja yang sepertinya sudah tertidur pulas sejak tadi. Pikiranku melayang, entah sampai kapan Tuhan akan memberiku cobaan dan takdir buruk seperti ini, jujur saja aku lelah. Aku ingin keadaan segera membaik, bukan untuk aku, tapi untuk Jingga. Usahaku sekarang, memang bisa membantu keuangan kami, tapi tetap saja, belum bisa se-leluasa dulu. Bukan tidak berterima kasih atas rezeki yang diberikan sekarang, tapi untuk merasakan nyamannya hidup, agar hidup tenang, rasanya masih jauh dari kata itu. Aku mencoba untuk memejamkan mataku, mencoba menenangkan hatiku yang tidak karuan, meskipun tadi aku berusaha tegar di depan Mas Subagja dan Jingga, tapi di sela-sela hatiku, aku juga merasakan ketar ketir yang sama dengan yang dirasakan Mas Subagja, hanya saja, jika aku ikut khawatir dan ikut menunjukkan gelisah, Mas Subagja tidak akan bisa tenang justru semakin merasa kebingungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN