Aku terbangun karena mendengar jeritan dari dalam kamar mandi, masih dalam mata yang belum terbuka sepenuhnya dan kesadaran yang belum kumpul dengan sempurna, aku bangkit dari tidurku, bergegas aku setengah berlari menghampiri asal suara, pintu kamar mandi yang dikunci, aku mendengar Mas Subagja menangis meraung-raung, entah apa yang dia ucapkan tapi yang jelas dia seperti meratap, menjerit, dan marah pada Tuhan, “Kenapa harus aku, kenapa semua masalah datang bertubi-tubi, belom cukupkah Engkau membuat aku jatuh miskin, hampir ditinggal anak dan istri, sekarang aku harus berurusan dengan polisi, APA MAUMU?” dan suara teriakannya yang terakhir dibarengi dengan pukulan dan tendangan ke pintu kamar mandi. Rupanya Mas Subagja masih sangat terganggu pikirannya dengan kejadian yang menimpanya ini, Mas Subagja seperti menyalahkan Tuhan atas kejadian ini, padahal, jika dia mau bersabar dan menerima semua ini dengan lapang d**a, akan ada kebaikan setelah semua ini berakhir, aku yakin, tapi Mas Subagja mungkin sedang tidak memiliki kesadaran yang tinggi dan dia sudah putus asa dengan keadaan hidup yang memang sedang tidak baik-baik saja ini. Aku yang mendengar suara tersebut terkejut dan setengah menjerit menggedor pintu tersebut dari luar, “Mas, keluar dari kamar mandi, Mas, keluar sekarang, tolong jangan bertindak aneh-aneh, tolong hilangkan semua pikiran konyol apa pun itu yang sedang terlintas di kepalamu saat ini. Jangan macam-macam di dalam, keluar cepat.” Tidak ada reaksi apa-apa dari Mas Subagja hanya tersisa tangisan dan raungan saja, “Mas, semua yang terjadi ini pasti ada rahasia Tuhan di baliknya, pasti akan ada kebaikan jika kita sabar dan bersehar diri juga tawakal menerimanya, Mas, aku pasti selalu ada di sampingmu, aku akan menemanimu sampai semua masalah ini selesai, kita hadapi ini berdua, Mas.” Aku terus mencoba berkomunikasi dan berbicara dengan Mas Subagja agar dia tidak punya pikiran macam-macam yang akhirnya membuat dia bertindak di luar nalar dan kendali. Semenatara aku masih menunggu Mas Subagja agar keluar dari kamar mandi, rupanya suara bising dan ribut di subuh ini membuat Jingga terbangun, dia keluar dari kamarnya dan melihat aku sedang berdiri di depan kamar mandi, “Bu, tadi suara apa? itu suara Ibu menangis, ya?” aku mengangguk, memeluk, dan menenangkannya, “Iya. Bapak lagi ada masalah, Jingga jangan takut, ya, ada Ibu kok di sini.” Aku tidak mendengar lagi ucapan Jingga, yang bisa kudengar kemudian adalah isak tangisnya yang pelan, sementara Mas Subagja sudah tidak terdengar lagi suaranya dari dalam kamar mandi, aku justru ketakutan dan khawatir Mas Subagja melakukan hal yang aneh-aneh, masih sambil memeluk Jingga, aku menggedor pintu kamar mandi dan memanggil namanya, “Mas, Mas Subagja, keluar Mas. Kalo udah selesai kita ngobrol di luar, ya.” tidak ada jawaban sama sekali, kembali aku menggedor pintu kamar mandi, kali ini agak kencang, beberapa kali, baru setelahnya terdengar suara Mas Subagja dari dalam menyahuti panggilan dan ucapanku, “Iya, sebentar lagi aku keluar.” Lega setelah mendengar suara tersebut. Setelahnya aku menenangkan Jingga dan menuntun langkahnya untuk menuju ke kamar, “Jingga istirahat lagi, ya, tidur lagi. Jingga jangan nangis lagi, tadi Jingga dengar suara Bapak, kan, dari dalam? Itu tandanya Bapak sudah jauh lebih baik keadaannya, sekarang Jingga kembali ke kamar, ya. Azan dan salat subuh masih lama, ini masih jam tiga. Nanti kalo udah azan subuh, Jingga Ibu bangunkan seperti biasa.” Jingga mengangguk, mengusap sisa air mata yang ada di kedua mata dan kedua pipinya, lalu dia naik ke ranjangnya, dan aku melihatnya menutup mata, sambil merapalkan doa yang terlihat dari bibir mungilnya yang bergerak lambat, dia seperti sedang menikmati doa yang dipanjatkannya ke Tuhan. Setelah memastikan Jingga tidur dengan aman, aku lalu keluar melihat Mas Subagja sudah di sana, dan menghampiri Mas Subagja yang sudah mengganti pakaiannya, lalu duduk di ruang makan, “Gimana kalo aku memang benar-benar akan ditangkap sama mereka, Bu?” baru juga aku mendudukkan badanku di kursi, dia sudah bicara seperti itu lagi, lagi dan lagi aku mencoba untuk meyakinkannya, aku menggelengkan kepala kuat-kuat, “Pak, posisimu gak salah. Kita kan sudah mempunyai bukti yang cukup kuat untuk diberikan ke pihak yang berwajib dan ke mereka pihak yang berwenang, itu sudah cukup seharusnya membuatmu tenang, jangan bingung, jangan panik seperti tadi, Pak. Aku kasihan dan sedih melihatmu begini, terlebih lagi sedih dan bingung melihat Jingga yang ikutan menderita dan menangis mendengarmu menjerit dan meratap seperti tadi, dia kebingungan.” Dia kembali meneteskan air matanya, tapi kali ini tanpa suara, aku bisa melihatnya benar-benar bersedih, “Aku membuat Jingga takut dan khawatir, ya, Bu? Dia sekarang pasti benci denganku, orang tuanya, lelaki lagi, Bapak yang biasanya bisa dia ajak ngobrol, Bapak yang biasanya akan menjadi tempatnya berbagi cerita, sekarang terlihat sangat menyedihkan dan memalukan seperti ini. Aku juga jadi sangat malu sama kamu, Bu. Aku yang seharusnya melindungi kamu dan Jingga, anak kita tapi justru lebih cengen dari biasanya. Kenapa keadaan kita selalu naas dan memalukan seperti ini, ya, Bu. Kesusahan, kesulitan, cobaan, dan deraan ujian tidak juga berhenti sejak kita bangkrut kemarin. Apa mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan untuk Bapak yang sudah menyakiti kamu, mengecewakan Jingga, ya, Bu?” aku sudah kehabisan kata-kata untuk meyakinkannya, jadi bangun dari dudukku, berjalan ke arah Mas Subagja, dan duduk di sampingnya, “Jangan pernah berprasangka buruk sama Tuhan. Kalaupun ini teguran dan hukuman dari Tuhan, kamu harus menerima dan menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Kita manusia ini kan memang tempatnya khilaf, salah, dan berbuat dosa, tapi bagaimana kita akhirnya menyadari dan kembali ke jalan Tuhan, itu yang dinilah oleh-Nya, bukan seberapa banyak dosamu, tapi Tuhan melihat seberapa besar usahamu untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi dari pada kemarin.” Tanpa mengucapkan kata-kata, Mas Subagja menengok ke arahku, lalu memelukku dengan erat, “Terima kasih sudah selalu ada untukku. Untung saja istriku itu kamu, Bu, kalo perempuan lain, mungkin saat ini aku sudah mengakhiri hidupku, untuk ibu dari anakku itu kamu, Bu, kalo perempuan lain, mungkin saat ini kamu sudah meninggalkannya dan meninggalkan aku untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar sana, tapi sekarang, kamu justru ada di sini untuk menguatkanku. Apa jadinya aku tanpa kamu, Bu.” Kami berpelukan, lama sekali, aku yang tadinya tidak mau menangis akhirnya harus mengalah dan mengeluarkan air mata juga. “Sudah, Mas. Sekarang kamu ambil air wudu, kita salat tahajud, ya. Kita minta sama Allah untuk membantu kita keluar dari masalah yang sedang dihadapi ini, ya.” Mas Subagja mengangguk, lalu melepaskan pelukannya, dan berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudu, setelahnya gentian aku yang mengambil air wudu. Aku membentangkan sajadah di belakang Mas Subagja, air mata haruku berlinang lagi, “Sudah lama, ya, Mas, kita gak salat berjamaah seperti ini.” Mas Subagja menengok ke belakang ke arahku, “Iya, Bu. Semoga setelah ini kita bisa lebih sering salat berjamaah seperti ini, ya.” aku mengangguk, lalu tidak berapa lama, aku mendengar takbir yang pertama, takbir penuh haru di dalam dadaku yang sedang bergemuruh karena bahagia.