Ibu 29

1175 Kata
Sekitar setengah jam berlalu kami khusyuk dan hanyut dalam ibadah tahajud kami, Mas Subagja yang sering mengimami aku dan Jingga beberapa tahun lalu, kini seperti kembali lagi, suamiku yang hilang seperti kembali lagi, “Terima kasih, Mas, sudah mau mengimami aku lagi.” Dia mengusap kepalaku, “Terima kasih untuk masih tetap menemaniku di sisiku.” Setelahnya, jam menunjukkan pukul empat subuh, masih ada setengah jam lagi sebelum azan subuh, aku pamit ke Mas Subagja untuk rebahan di kamar sebentar, “Aku ke kamar sebentar, ya, Mas. Kepalaku agak sakit, tadi bangun tiba-tiba ketika mendengar teriakanmu, sekarang sakit kepalanya malah gak ilang-ilang ini.” Mas Subagja mengangguk, “Nanti kalo udah masuk waktu subuh, aku bangunin kamu.” Setelah sampai di dalam kamar, mungkin karena memang sejak semalam tidurku tidak terlalu nyenyak, mendengar Mas Subagja bolak balik terbangun, lalu mengigau, bicara aneh, dan nyeracau, akhirnya tidurku juga tidak benar, jadi baru saja aku mendaratkan tubuhku di kasur, mataku menutup dengan sempurna, aku bisa mendengar dengkuran halus napasku yang lama kelamaan aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Rasanya baru saja merasakan nikmatnya tidur, ada suara halus dan usapan lembut di pucuk kepalaku, sayup-sayup aku dengar suara Mas Subagja membangunkanku, “Bu, sudah masuk waktu subuh, salat dulu.” Aku mengangguk, tapi mataku rasanya masih belum bisa terbuka, jadi aku memutuskan memejamkan mata sebentar lagi, “Lima menit lagi, Mas. Aku masih ngantuk banget.” Dan suara Mas Subagja menghilang. Aku terbangun ketika merasakan kakiku seperti ditarik dengan keras hingga mau jatuh ke lantai, begitu membuka mata aku sudah siap-siap mau marah dengan orang yang melakukan hal tersebut, tapi rupanya tidak ada siapa-siapa di sana, yang aku lihat justru sinar matahari yang perlahan menyusup masuk ke cela-cela jendela, “Ya ampun, aku kesiangan.” Aku langsung bangun dari tempat tidur dan berjalan tergesa menuju kamar mandi, ketika sampai di depan dapur, aku melihat Mas Subagja dan Jingga sedang ngobrol, “Mas, kok aku gak dibangunin subuhan sih?” Mas Subagja yang ditanya seperti itu mengernyitkan dahinya, “Loh, Mas udah berulang kali bangunin kamu, kamu bilang, bentar lima menit lagi. Ya udah, Mas gak bangunin lagi, Mas juga liat nyenyak banget tidurmu, gak sampai hati Mas bangunin kamu.” Iya, juga, aku yang sebenarnya salah, kok malah nyalahin Mas Subagja. Jadi, demi melaksanakan salat subuh yang sudah kesiangan banget, aku bergegas untuk masuk ke kamar mandi dan mengambil air wudu. Setelah selesai mengerjakan salat subuh, aku keluar menuju ke ruang makan yang merangkap sebagai dapur, dan juga sebagai tempat kami bercengkrama dan ngobrol, “Sarapan, ya, Bu. Tadi aku buatin nasi goreng.” Aku keheranan, “Kamu bikin nasi goreng? Emang bisa?” Mas Subagja tertawa, “Kamu ngejek aku, ya. Tanya donk sama Jingga, tuh, Jingga dari tadi udah nambah berapa kali.” Aku ikutan tertawa, “Iya deh, iya. Aku percaya, kalo gitu aku akan membuktikan sendiri kalo masakanmu memang benar-benar enak.” Dan Mas Subagja dengan bangganya menyendokkan nasi goreng dari kuali dan menyerahkan piring yang sudah berisi dengan nasi goreng, telor ceplok, dan kerupuk itu ke tanganku. Ketika aku sedang menyendokkan nasi goreng tadi ke mulutku, Mas Subagja dan juga Jingga melihat ke arahku, seolah sedang menunggu penilaian dariku, aku mengunyah dengan perlahan nasi goreng tersebut, dan bilang, “Ehm … lumayan enak. Gurihnya dapat, manisnya pas, pedasnya juga gak keterlaluan. Sukses deh, ni, Bapak masak nasi goreng.” Jingga dan Mas Subagja tertawa bersamaan, lalu mereka melakukan tos, “Sukses kita, Pak.” Dan kami bertiga tertawa bersama. Ketika sedang menikmati nasi gorengku, aku melihat jam sudah menunjukkan hampir jam enam pagi, “Nak, mandi hayok. Siap-siap ke sekolah. Buku pelajaran sudah disiapkan? Pekerjaan rumah Jingga udah dimasukkan ke dalam tas?” Jingga mengangguk, “Sudah beres semua, Bu. Aman. Jingga mandi dulu, ya, Pak, Bu.” Dan bergegas Jingga masuk ke kamar mandi, sementara aku menghabiskan nasi goreng yang masih ada di piringku, melihat Mas Subagja memasukkan semua piring kotor dan kuali, juga alat-alat dapur yang tadi dia pakai untuk memasak nasi goreng ke tempat cucian piring, dan mulai mencuci satu per satu piring dan peralatan masak tersebut, “Mas, udah gak usah. Nanti aku yang mencucinya, kamu siap-siap aja untuk berangkat kerja, nanti kesiangan.” Mas Subagja menggeleng, “Ini hanya sedikit, kok. Kamu biasanya kalo nyuci piring malah lebih banyak dari ini, gak apa-apa, abisin aja itu nasi gorengnya, biar ini aku yang beresin.” Sebenarnya aku senang-senang aja dibantu sama Mas Subagja begini, tapi aku agak sedikit heran juga, kenapa Mas Subagja melakukan hal ini, ini tidak seperti biasanya. Setelah selesai dia mencuci bersih semua piring dan peralatan masak, dia duduk di depanku, “Selama ini kamu pasti capek, ya, Bu. Ngurus rumah, ngantar Jingga ke sekolah dan menjemputnya sepulang sekolah, belum lagi masak, bikin orderan rolademu, maafkan aku, ya, Bu. Selama ini aku sering nyakitin kamu, banyak kata-kataku yang membutamu sakit, pasti, ya.” aku diam, mencoba mengerti ke mana arah pembicaraan Mas Subagja. “Aku minta maaf, ya, Bu. Benar-benar minta maaf, hanya sebentar saja aku bisa membuatmu dan Jingga bahagia, sementara sisanya aku hanya bisa menyusahkanmu saja, membuat Jingga sedih.” Aku mengangguk, mencoba untuk menenangkannya, “Sudah, Mas. Gak ada yang harus disesali. Aku juga punya salah sama kamu, maafkan aku. Sekarang, bagaimana kita menghadapi hidup ke depannya, agar bisa saling menguatkan dan saling menjaga kepercayaan satu sama lain.” Tidak berapa lama Jingga sudah keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi dan menenteng tas di pundaknya, “Bu, Jingga udah selesai dan siap pergi ke sekolah.” Aku mengangguk, “Yuk, Ibu antar. Pamitan sama Bapak dulu.” Setelah mencium tangan Mas Subagja dan Mas Subagja juga mencium kening Jingga, aku dan Jingga berangkat menuju ke sekolah Jingga. Selama perjalanan ke sekolahnya, Jingga tidak berhenti bercerita mengenai kegiatannya tadi subuh bersama Mas Subagja, “Tadi, abis salat subuh, Bapak ngajak Jingga masak nasi goreng, terus, Bu, nilai yang kemarin Jingga belum sempat kasih lihat ke Bapak, subuh tadi sudah Jingga tunjukkan ke Bapak dan Bapak bangga katanya sama Jingga. Jingga senang banget, loh, Bu, kalo Bapak begini setiap hari.” Aku mengangguk-angguk sambil mendengarkan semua yang dibicarakan Jingga. Sampai di gerbang sekolahnya, Jingga mencium tanganku, aku mengelus kepalanya, dan mengecup keningnya, “Ingat, ya. Tunggu Ibu jemput baru Jingga pulang, jangan ikut sama siapa-siapa.” Dia mengangguk. setelah melihat Jingga perlahan menghilang di pintu masuk bersama banyak siswa dan siswi yang juga masuk ke sekolah, aku meninggalkan sekolahnya lalu berjalan pulang. Ketika sampai di ujung gang, rencananya aku mau mampir ke warung Mpok Leha, tapi, belum juga aku sampai di warungnya, aku bisa melihat dia keluar dari pagar rumahku berjalan tergopoh-gopoh setengah berlari menghampiriku, “Itu bapaknya Jingga kenapa mau dibawa polisi. Lagi ada keributan di rumahmu, maknya Jingga, buruan pulang gih.” Tanpa menunggu lama aku bergegas berlari pulang ke rumah, dan menemukan Mas Subagja sudah dihadang beberapa polisi berwajah sangar, “Ada apa ini? Jangan coba-coba kalian apa-apakan suami saya, jangan berani-beraninya kalian menyentuhnya seujung kuku pun. Langkahi dulu mayat saya.” Begitu ucapku, sambil berusaha menghalangi polisi-polisi ini menyentuh Mas Subagja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN