Baru saja kami menikmati pagi kami yang menyenangkan, pagi yang membahagiakan, di mana Jingga mendapatkan kembali kebahagiannya berbicara dan bercengkrama dengan bapaknya, sementara aku mendapatkan kembali suamiku yang sudah hilang, seperti puluhan hingga ratusan tahun. Kebahagiaan ini harus runtuh dan dibanjiri kesedihan dan air mata lagi. “Pak Subagja kami minta untuk ikut kami ke kantor polisi, Bu. Karena Pak Subagja diduga bekerja sama dengan bandar obat-obatan terlarang dan menyebarkannya.” Aku menggeleng keras, “Tidak bisa maen bawa gitu aja, donk. Mana surat perintahnya?” tidak berapa lama, seorang petugas mengeluarkan surat, aku membaca dengan teliti, nama yang tertera, atas kasus apa, dan sebagai apa statusnya. Tertulis di situ Mas Subagja ditetapkan sebagai tersangka penyebaran dan pengedaran obat-obatan terlarang, “Tersangka? Kok belum juga dimintai keterangan sudah langsung ditetapkan sebagai tersangka? Memangnya kalian semua ini sudah yakin kalo suami saya memang benar mengedarkan barang haram itu?” polisi yang tadi memberikan surat penangkapan ini mengangguk, “Teman Pak Subagja sudah memberikan keterangan dan penjelasan mengenai peran Pak Subagja dalam mengedarkan obat-obatan ini, maka dari itu kami juga butuh informasi dan pengakuan dari Pak Subagja. Jadi penjelasan apa pun yang mau diberikan Pak Subagja berkaitan dengan masalah ini akan kami dengarkan kesaksiannya di kantor,” aku tidak bisa lagi mengelak, surat penangkapan sudah dikeluarkan, “Gak apa-apa, Mas. Mas ikut saja ke kantor. Nanti aku langsung ikut menyusul ke sana.” untuk menenangkan kegelisahan Mas Subagja aku bilang akan berada di sisinya, “Saya boleh ikut ke kantor, kan, Pak? Suami saya butuh saya untuk menguatkannya.” Polisi tersebut mengangguk, “Silakan saja ikut, Bu. Tapi Ibu tidak bisa ikut masuk ke dalam ruang penyidikan. Paling nanti ketika jam istirahat atau ketika rehat, baru Ibu bisa menemui Bapak.” Aku mengangguk. Mas Subagja digiring polisi untuk masuk ke mobil polisi. Ketika mobil tersebut sudah jalan, Pak RT menghampiriku, “Pak Subagja kenapa, Bu?” aku melihat ada secercah harapan ketika melihat Pak RT di sini, “Bapaknya Jingga dijebak sama temannya sendiri, Pak. Diajak bekerja sebagai supir mengantarkan makanan kaleng ke beberapa tempat dengan imbalan seratus dua ratus ribu rupiah, tapi ternyata di dalam kardus-kardus makanan kaleng itu berisi obat-obatan terlarang. Mas Subagja sudah bersumpah sama saya bahwa selama ini dia benar-benar tidak mengetahui hal tersebut, selama ini juga yang dilihat olehnya memang benar kardus-kardus yang diangkutnya itu adalah makanan kaleng, dia tidak tau kalo di dalam kardus itu juga disembunyikan paket-paket obat-obatan terlarang.” Aku bingung menerjemahkan wajah dan ekspresi Pak RT, setelah ngobrol panjang lebar, aku pamit untuk beres-beres dan ganti baju agar bisa bergegas ke kantor polisi, “Saya pamit dulu, Pak. Tadi saya janji sama bapaknya Jingga mau nemenin dia di sana.” Pak RT terlihat mengernyitkan dahi, “Bukannya orang yang sedang diperiksa tidak bisa ditemani, Bu?” aku menganggukkan kepala, “Iya, Pak. Memang tidak bisa, tapi saya bisa menunggu di ruangan lain atau nunggu di depan kantornya juga gak apa-apa, Pak. Yang penting saya bisa menemani suami saya.” Pak RT mengangguk, “Beruntung Pak Subagja memiliki istri seperti Ibu Lastri, sudah dikecewakan dan disakiti seperti apa pun, tetap setia berada di sampingnya.” Padahal dalam hati aku menolak ucapan tersebut, aku juga memiliki cerita gelap lain dalam hidupku yang tidak diketahui orang banyak, ya, mungkin ada yang tau, tapi mereka tidak sempat menggunjingkannya dan kabar tersebut tidak sempat tersebar meluas karena keburu aku menyudahi perselingkuhanku dengan Mas Hadi, Allah yang menutupi semua aib-aibku sehingga tidak tampak di mata mereka dan digunjingkan. Setelah Pak RT pulang aku langsung masuk ke dalam, mandi, dan berganti pakaian. Aku berpikir di mana akan menitipkan Jingga, tapi karena tidak mau mengulang kejadian yang sama seperti yang kemarin, aku harus kehilangan Jingga, ya, meskipun kemarin itu kepergian Jingga memang karena disembunyikan oleh istrinya Mas Hadi, tapi kejadian tersebut cukup membuatku trauma. Maka, daripada aku harus deg-degan dan khawatir, lebih baik Jingga aku jemput dari sekolahnya dan meminta izin kepada guru wali kelasnya agar Jingga bisa ikut aku ke kantor polisi demi menemani Mas Subagja. Ketika sudah beres semua, aku langsung mengeluarkan motor, lalu melajukan motorku ke sekolah Jingga. Hanya memakan waktu tidak sampai sepuluh menit aku sudah sampai di sekolahan Jingga. Langsung bergegas menuju ke kelas Jingga dan menemui guru kelasnya, “Assalamualaikum, Bu.” Jingga yang melihatku seperti keheranan, Bu Aini, guru kelas Jingga menemuiku di luar kelas, “Ada apa mamanya Jingga?” aku mengatakan bahwa hari ini minta izin agar Jingga bisa ikut denganku, “Saya mau jemput Jingga, Bu. Ada sedikit urusan keluarga. Kalo Jingga saya tinggal, khawatir ketika pulang sekolah nanti saya belum ada di rumah. Saya khawatir kejadian Jingga ilang kemarin terjadi lagi.” Dan tanpa banyak bertanya lagi, Bu Aini memberikan izin kepada Jingga, dia memanggil Jingga untuk membereskan semua bukunya, dan Bu Aini mengantarkan Jingga kepadaku. Setelah pamit ke Bu Aini, Jingga mungkin merasa keheranan, “Bu, memangnya kita mau ke mana? Baru juga Jingga mengerjakan tugas dari Bu Aini.” Aku mengangguk dan membelai rambutnya yang hitam, lurus, dan panjang sebahu, “Kita mau nemenin Bapak. Bapak lagi ada urusan di kantor polisi …” Jingga menjerit pelan, “Bapak ditangkap polisi, Bu?” aku menggelengkan kepala, demi melihat Jingga yang tampak sekali khawatir, “Tidak, Nak. Bapak ada urusan di sana, tadi Bapak minta Ibu menemaninya. Tapi karena Ibu gak tau urusan Bapak selesai sampai jam berapa, Ibu khawatir ketika Jingga pulang Ibu dan Bapak belum sampai ke rumah, jadi lebih baik Jingga Ibu ajak aja untuk menemani Bapak sekalian.” Jingga mengangguk-angguk. Aku gak tau apakah dia paham atau tidak bahwa bapaknya di kantor polisi. Setelah sampai parkiran, aku meminta Jingga untuk naik di boncengan belakang, dan motor aku lajukan dengan kecepatan sedang. Jika kalian bertanya, apakah tidak ada saudara atau adik atau kakak atau siapa kenalan kami yang bisa dimintakan pertolongan, untuk sekedar menjemput dan menjaga Jingga di rumah sampai urusanku dan Mas Hadi selesai, jawabannya tidak ada. Saudaraku dan saudara Mas Hadi menjauh ketika kami terlibat masalah investasi bodong kemarin, perlahan menghilang bagai ditelan bumi. Satu per satu yang tadinya masih bertukar kabar walaupun hanya lewat handphone, sudah tiga atau empat tahun ini tidak ada lagi yang menanyakan kabar aku, Mas Subagja, atau bahkan Jingga. Kami hanya benar-benar hidup bertiga saja, tapi hal ini membuat kami sadar, bahwa saudara, teman, siapa pun itu hanyalah sebatas sebutan saja. Jika ada masalah seperti ini, mereka tidak akan datang atau bahkan sekedar menyapa.