Sekitar setengah jam aku mengendarai motor, harta berharga kami satu-satunya yang masih bisa dipakai dan digunakan untuk mencari nafkah dan sekedar jalan-jalan bareng Jingga. Sesampainya di gerbang depan kantor polisi, aku ditanyai oleh petugas piket di sana, “Maaf, Bu. Ada keperluan apa, ya?” aku lalu menjelaskan bahwa aku ke sini untuk menemani suamiku yang tadi dibawa ke kantor polisi ini untuk diinterogasi dan dimintai keterangan, “Saya mau menemani suami saya, Pak. Pak Subagja namanya, tadi petugas polisi yang membawa suami saya mengatakan bahwa suami saya akan diinterogasi untuk kasus pengedaran dan penyebaran obat-obatan terlarang.” Petugas tersebut menyunggingkan senyum yang aneh, seperti mengejek, seperti menyepelekan, “Ya gak bisa, lah, Bu. Mana ada orang diinterogasi kok ditemani, kecuali Ibu mau ikut diinterogasi juga, berarti Ibu harus ditetapkan juga sebagai tersangka, mau?” aku memasang wajah marah ke polisi tersebut, “Bapak ini kalo bicara jangan sembarangan, ya. Suami saya itu gak ngapa-ngapain, dia itu hanya jadi korban di sini. Yang penting saya mau masuk ke dalam, sekedar menunggu suami saya.” Polisi tadi alih-alih memberiku masuk, dia justru menyuruhku pulang seperti mengusirku, “Ibu! Ini kantor polisi, bukan taman untuk bertamasya, kalo Ibu gak mau pergi dari sini, saya akan memaksa Ibu untuk angkat kaki dari sini, lagian suami Ibu itu sudah ditetapkan sebagai tersangka. Kalo udah begitu pilihannya cuma dua, langsung dipenjara atau dicarikan pengacara yang bisa membelanya dan naik banding, itu juga kalo Ibu bisa menyewa pengacara dan membayar jasanya, ya. Kalo tidak, ya, sudah, pasrah saja, Bu.” Aku benar-benar kesal dibuatnya, “Pokoknya saya mau masuk, saya mau ketemu sama bapak-bapak yang tadi membawa suami saya ke sini, mana orangnya?” aku merangsek masuk ke dalam kantor polisi tersebut, membuat sedikit keributan, biar saja, soalnya polisi yang tadi datang ke rumah memperbolehkanku untuk datang ke sini, untuk masuk dan menunggu Mas Subagja di dalam. Rupanya perbuatan yang baru saja aku lakukan, memaksa masuk ke dalam kantor polisi membuat perhatian beberapa polisi teralihkan dan berdatangan ke arah kami. Aku semakin menjerit dan meminta untuk diizinkan masuk, “Saya gak peduli, yang pasti tadi polisi yang membawa suami saya ke sini memperbolehkan saya untuk datang dan masuk ke dalam. Memangnya ada apa, kok saya gak boleh masuk ke dalam? Saya ini masyarakat, loh, yang seharusnya kalian ayomi, kalo saya ada keperluan seharusnya kalian membantu, bukan seperti kamu, yang malah mengejek dan bilang saya harus pasrah berdoa saja atau menyewa pengacara handal.” Satu per satu polisi-polisi ini berdatangan dan tidak lama kemudian, aku melihat seorang polisi yang tadi berada di rumah dan membawa Mas Subagja, “Nah, bapak itu, Pak. Saya istri dari Bapak Subagja yang sekarang sedang berada di dalam sana. Pak, benar, kan, tadi saya diinformasikan kalo saya boleh menemani suami saya di dalam, walaupun saya gak bisa bertemu dengan suami saya, benar, kan, Pak?” akhirnya polisi itu menghampiri saya, “Sudah, lepaskan. Ibu ini bersama saya, kamu juga, tinggal antar ke dalam saja banyak banget tingkahnya.” Polisi itu sepertinya memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari polisi yang tadi menghalangiku masuk ke dalam kantor, “Sumaja. Saya akan mengingat sampai saya mati nama Anda, SUMAJA, biar Allah laknat kelakuan Anda!” aku bergegas masuk mengikuti polisi yang tadi menghampiriku, “Ayo, Nak.” Aku baru sadar, Jingga dari tadi hanya diam, seperti ketakutan melihat tingkah dan ulahku, “Maafkan Ibu, ya. Tadi Ibu benar-benar emosi, Jingga gak kenapa-kenapa, kan?” dia mengangguk, “Gak apa-apa, Bu.” Setelah masuk, aku dipersilahkan duduk di ruangan yang tertulis “Ruang Tunggu” polisi yang tadi mengajakku ke dalam sini, mengajakku bicara, “Saya ambilkan minum sebentar, ya, Bu.” Aku menggeleng, “Tidak perlu, Pak. Saya dikasih masuk ke dalam sini aja sudah cukup.” Polisi di depanku ini mengangguk, “Saya Trisno, kepala satuan yang ditugaskan untuk menangani kasus yang sedang dihadapi suami Ibu berserta komplotannya. Maaf, saya tidak bisa menutup-nutupi ini, karena memang semua bukti yang ditujukkan mengarah kepada fakta bahwa Pak Subagja memang terlibat dan mengetahui dengan kesadaran penuh bahwa yang akan diantarkan itu bukan hanya sekedar makanan dan buah-buahan kaleng melainkan …” Pak Trisno berhenti dan tidak meneruskan ucapannya, lalu melihat ke arah Jingga, “Bukan makanan dan buah-buahan kaleng melainkan barang yang kita sudah ketahui bersama.” Aku menggeleng dengan keras, “Enggak mungkin, Pak. Saya yakin, suami saya dijebak. Saya punya bukti-buktinya kalo suami saya memang dijebak.” Pak Trisno diam, mengusap wajahnya pelan, “Saya sama berharapnya dengan Ibu, apalagi melihat Pak Subagja masih memiliki anak perempuan kecil yang masih butuh perhatian. Tapi saya juga tidak bisa terlalu memberikan harapan besar terhadap Ibu.” Pak Trisno menekan telepon yang ada di depannya, “Ke ruangan saya sekarang.” Tidak lama setelah telepon dimatikan, ada seseorang yang masuk ke ruangan Pak Trisno, seorang perempuan muda dengan pakaian seragam polisi juga menghampiri kami, “Ajak Jingga, Jingga, kan, namanya, Nak?” Pak Trisno mengarahkan pandangannya seriusnya dari aku ke Jingga dengan senyuman lembut ke-bapak-an. Tidak diduga, Jingga langsung mengganggu, “Jingga ikut Ibu Triani, ya, ke kantor. Nanti kalo Jingga mau membeli sesuatu, ngomong aja, nanti yang bayar semua makanan dan jajanannya.” Jingga melihat ke arahku untuk meminta persetujuan, aku balik bertanya ke Pak Trisno, “Di mana kantinnya, Pak? saya yang akan bayar, titip uang ke Bu Triani.” Pak Sutrisno menggeleng, “Udah, gak apa-apa, saya yang traktir, biar kita bisa lebih leluasa mengobrolkan masalah dan hal-hal yang berkaitan dengan masalah hukum Pak Subagja.” Aku mengalah, akhirnya mengangguk ke arah Jingga, setelahnya Jingga ikut dengan polisi perempuan itu. Setelah mereka keluar, aku kembali menatap wajah Pak Trisno, lalu bertanya, “Jadi, kemungkinan suami saya bebas kecil banget, ya, Pak?” Pak Trisno tidak meng-iya-kan, tapi tidak juga menggeleng, Pak Trisno hanya menjawab, “Saya tidak bisa bilang kemungkinannya kecil atau besar. Tapi satu hal yang pasti ketika keluarga, dukungan teman-teman, dan doa orang-orang yang mendoakan Pak Subagja, kemungkinan itu tetap saja ada. Hanya saja, dari pihak sana memberikan bukti yang cukup kuat atas keterlibatan Pak Subagja dalam masalah ini.“ Pak Trisno melanjutkan lagi ucapannya, “Jadi silakan Ibu menunggu di sini, jika ada perlu apa-apa silakan hubungi saya di sini.” Aku menerima kartu nama tersebut. Setelah mengucapkan terima kasih, aku bisa melihat Jingga dari kejauhan, dia tampak bahagia, tapi ada yang aneh dari matanya terlihat merah, aku baru menyadarinya, lalu bergegas menghampirinya, “Jingga, matanya kenapa, coba lihat Ibu Sini.” Tapi tidak ada tanda-tanda matanya kenapa-kenapa. Ini pasti karena Jingga terlalu sering membaca dalam keadaan lampu yang tidak terang dan dia terbiasa membaca di bawah selimut tempat tidur dan menghidupkan senter untuk menerangi buku bacaannya.