Ibu 32

1515 Kata
Kegiatan memeriksa mata sebelah kanan Jingga yang memerah, lalu membantunya untuk belajar semua mata pelajaran yang hari ini ada di dalam jadwal pelajarannya, membawa aku dan Jingga sampai ke pukul dua belas siang, azan zuhur yang berkumandang membuatku harus rela meninggalkan kantor polisi ini sebentar, Jingga juga sudah beberapa kali menanyakan, “Bu, nanti kita makan siang di sini atau pulang ke rumah?” itu menandakan dia sudah lapar tapi tidak mau membuat aku gelisah karena kepikiran dia yang lapar sementara aku masih bersikukuh untuk menunggu Mas Subagja di sini. Jadi, setelah habis azan zuhur berkumandang, aku meminta Jingga untuk membereskan semua peralatan yang dia keluarkan tadi dan semua buku yang dibukanya untuk belajar, “Yuk, kita rapikan buku-buku dan alat belajar Jingga, terus kita pulang.” Dengan semangat Jingga bangkit dan membereskan semuanya, tapi dua atau tiga menit kemudian dia menghentikan kegiatannya lalu mengok ke arahku, “Terus, Bapak gimana, Bu? Ikut pulang, kan, sama kita?” aku dengan berat hati menggeleng perlahan, “Enggak, Nak. Bapak gak bisa ikut pulang karena Bapak masih ada urusan di sini.” Aku bisa melihat raut kecewa di wajah Jingga, sambil bergumam, “Yah, sepi deh rumah.” Dan kembali meneruskan kegiatannya membereskan semua peralatan dan bukunya. Ketika aku lihat Jingga sudah selesai dengan semua barang-barangnya, aku meminta dia untuk duduk dulu di situ sebentar, karena aku akan ke dalam untuk menemui Pak Trisno, “Jingga tunggu di sini sebentar, ya. Ibu mau ke dalam sebentar, ada yang harus Ibu urus.” Setelah Jingga mengangguk dan mengerti, aku jalan ke dalam, menuju ke ruangan di mana Pak Trisno tadi memanggilku, berpapasan dengan beberapa polisi wanita yang menanyakan mau ke mana aku dan ada keperluan apa, aku menjelaskan bahwa aku ingin bertemu dengan Pak Trisno. Tidak lama setelah mencari ke beberapa meja, aku melihat Pak Trisno baru keluar dari ruangan yang tertulis keterangan yang ditempel di depan pintunya, “Ruang Penyidikan” aku menghampirinya, “Pak Trisno, maaf saya mengganggu. Rencananya saya mau pulang sebentar untuk salat zuhur dan makan siang, suami saya masih akan ada di sini sampai jam berapa, ya, Pak?” Pak Trisno tidak menjawab hanya menarik napas panjang, “Masih lama, Bu. Bisa jadi malah Pak Subagja akan menginap di sini. Ibu pulang aja dulu, gak usah balik lagi. Nanti kalo sudah ada keputusan, saya atau pihak dari kami akan menghubungi Ibu.” Hatiku sedih, benar-benar sedih, berarti malam ini Mas Subagja akan menginap di sini, “Lalu kapan saya bisa bertemu dengan suami saya, Pak?” tanyaku kembali. Aku bisa melihat raut wajah Pak Trisno seperti bingung, “Ya, sampai penyidikan dan BAP-nya selesai. Bisa nanti malam, bisa besok pagi, bisa lusa, ya sebanyak kami perlukan Pak Subagja ada di sini, maka dia akan tetap ada di sini.” Aku menunduk, aku ingin sekali saja melihat Mas Subagja sebelum aku pulang, “Pak, saya minta tolong, sekali saja, sebentar saja saya diperkenankan untuk melihat suami saya, Pak, dan biar suami saya melihat saya juga. Tolong saya, Pak.” Pak Trisno menggeleng, “Tidak bisa, Bu. Mana boleh seperti itu, Pak Subagja sekarang sedang dalam masa penyidikan, tidak diperkenankan bertemu atau bicara dengan orang lain.” Aku menangis, bersimpuh di kaki Pak Trisno, memohon kepadanya agar dipertemukan sekali saja dengan Mas Subagja, “Jika tidak diperkenankan ngobrol, minimal saya bisa melihat suami saya dan suami saya bisa melihat kami, saya istrinya dan anak saya, Pak, tolong. Tolong saya, Pak. Setelah ini saya tidak akan mengganggu Bapak Trisno lagi, saya janji.” Mungkin karena iba melihatku yang sampai bersujud di kakinya, akhirnya Pak Trisno menyuruhku bangun, “Tolong bangun, Bu. Jangan seperti ini, sebentar saya coba diskusi dulu dengan tim. Anaknya di mana, Bu. Dibawa ke sini, kalo diizinkan, tidak akan ada waktu yang lama.” Aku mengangguk, sementara Pak Trisno masuk ke dalam ruangan itu lagi, aku berlari menghampiri Jingga dan menariknya setengah berlari untuk mengikutiku, “Nak, ikut Ibu. Buruan.” Setelah sampai di depan ruangan tadi, Pak Trisno sudah berada di luar pintu, sepertinya memang sudah menungguku, “Maaf, Bu. Ibu tidak diizinkan untuk berinteraksi dengan Pak Subagja, tapi Ibu diizinkan untuk melihat Pak Subagja dari kaca pembatas yang ada di dalam. Waktunya hanya dua menit, ya, Bu.” Aku menangis, air mata syukurku turun tak bisa kubendung, “Iya, Pak. Gak apa-apa, yang penting saya bisa memastikan kalo suami saya sehat-sehat dan baik-baik saja.” Tidak lama setelahnya, aku dan Jingga diajak masuk ke dalam, ke sebuah ruangan yang dibatasi kaca besar sebagai penghalang. Dan Mas Subagja keluar dari pintu yang ada di ruangan yang berada di seberang kami. Aku mendekat, Mas Subagja juga mendekat, wajahnya tampak lelah, dia tidak menangis ketika melihatku, “Tenang saja, Bu. Aku tidak apa-apa, kalian pulang, ya. Nanti kalo sudah selesai di sini, aku akan langsung pulang. Jingga, nurut sama perkataan Ibu, ya, Nak. Jangan lupa doakan Bapak.” Jingga mengangguk. Lalu Mas Subagja memintaku untuk mendekat, “Bu, hati-hati, ya. Jingga jangan dilepas sendiri, komplotan mereka ini besar, aku khawatir mereka malah menyakiti kalian sementara aku berada di dalam sini. Jangan pernah lengah. Kalo bisa sepulang dari sini, kamu belanja untuk kebutuhan sampai satu minggu ke depan, dan diam di rumah, jangan ke mana-mana, sampai aku pulang.” Aku merasa khawatir dan ketakutan, tapi tidak mau menampakkan wajah cemas tersebut, “Iya, Mas. Aku akan belanja beberapa kebutuhan makanan, nanti Jingga juga aku izinkan saja ke guru kelasnya.” Mas Subagja mengangguk, “Jangan keluar, jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam rumah. Kalo harus menerima tamu, bicara saja di depan gerbang, jangan sekali-kali biarkan siapa pun menginjak teras rumah kita. Ceritakan masalah ini ke Pak RT, semoga beliau bisa membantu. Mengenai foto chat aku dengan temanku itu, apa kamu masih simpan?” aku mengangguk, “Nanti, jika diperlukan, foto itu ditunjukan saja, aku khawatir, foto dan bukti chat itu mereka hapus dari handphoneku.” Hatiku mencelos, licik sekali mereka ini. Dan seketika setelah Mas Subagja selesai bicara seperti itu, ada seorang sipir yang memberitahu bahwa waktu kami sudah habis, “Waktu habis. Silakan Ibu keluar lewat pintu itu dan Bapak, ikuti saya.” Aku bisa melihat air mata Jingga menetes, deras, ketika melihat bapaknya harus berada di dalam sana dengan tangan yang diborgol, “Ibu, itu Bapak ditangkap, ya, Bu? Memangnya Bapak melakukan apa, Bu? Gak bisa kah, Bu, kita bebaskan Bapak?” aku hanya mengusap kepalanya lembut untuk menenangkannya, “Nanti Ibu cari cara untuk membantu Bapak keluar dari sana, ya. Sekarang kita pulang.” Setelah sampai di parkiran, aku melihat uang yang ada di dompetku, tidak cukup untuk membeli kebutuhan dapur selama satu minggu, jadi aku memutuskan untuk mampir dulu ke ATM yang tidak jauh dari sini. Setelah selesai mengambil uang, aku melajukan motorku menuju rumah, dan berhenti di warung Mpok Leha, “Mpok Leha, mau beli donk.” Dan Mpok Leha langsung keluar begitu dipanggil, “Mau beli ape, sih. Siang-siang begini darimane?” aku hanya menjawab sekedarnya, “Ada urusan sebentar, Mpok. Minta gula satu kilo, beras sepuluh kilo, jagung lima buah, sayur kangkung dua iket, wortel lima ribu, kentang setengah kilo, terigu sekilo, sagu sekilo, telor dua kilo …” dan semua kebutuhan dapur aku beli, sampai keperluan untuk membuat rolade juga aku beli, siapa tau nanti ada pesanan mendadak jadi aku tidak perlu keluar-keluar lagi. Karena tidak biasanya aku berbelanja begitu banyak, Mpok Leha mungkin keheranan, jadi dia bertanya, “Ini beli banyak bener, buat persiapan mau ada acara apa, mamaknya Jingga?” aku menggeleng, “Gak ada acara apa-apa, Mpok. Untuk persiapan dan stok aja di kulkas, udah kosong banget soalnya.” Lalu Mpok Leha menyebutkan total semua belanjaanku, setelah selesai berbelanja, aku menaikkan belanjaan itu ke motor dan melanjutkan perjalananku menuju rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung memasukkan motorku, menutup dan mengunci gerbangku dengan gembok, lalu memasukkan motorku ke dalam rumah, mengajak Jingga untuk masuk. Aku mencoba menjelaskan kepada Jingga, kenapa kami harus diam dulu di rumah selama beberapa hari, “Jingga, sepertinya sampai satu minggu ke depan Jingga gak bisa sekolah dulu, gak apa-apa, ya. Tadi Jingga dengar pesan Bapak, kan, kita harus diam di dalam rumah sampai masalah Bapak selesai?” Jingga mengangguk, walaupun mungkin masih banyak pertanyaan yang mau dia tanyakan, tapi aku segera memintanya untuk mandi, “Mandi, ya. Nanti Ibu masakkan makan siang untuk Jingga.” Aku tidak mau Jingga banyak bertanya yang nantinya jawabanku hanya akan membuatnya semakin tambah penasaran. Setelah Jingga masuk ke kamar mandi, aku menelepon Bu Aini wali kelas Jingga, “Assalamualaikum, Bu. Mulai besok, saya minta izin untuk Jingga tidak bisa masuk ke sekolah dulu sementara waktu, karena ada permasalahan keluarga yang harus saya selesaikan. Jika sudah selesai, Jingga akan kembali saya antarkan ke sekolah.” Tidak banyak drama yang aku dapatkan untuk izin Jingga, Bu Aini hanya menyampaikan bahwa walaupun Jingga di rumah, Bu Aini akan tetap mengirimkan pekerjaan rumah dan tugas untuk Jingga agar dia tidak ketinggalan pelajaran. Beruntung aku memiliki Bu Aini sebagai wali kelas Jingga, guru baik hati, halus tutur bahasanya, dan selalu berusaha untuk membantu Jingga dan mencoba untuk mengerti dan memahami semua keadaan yang sedang menimpa aku dan keluargaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN