Setelah Jingga selesai mandi, kami, aku dan Jingga duduk berdua di ruang makan yang sekaligus jadi dapur kami, aku menyendokinya nasi, “Makan yang banyak, ya, Nak. Habis ini Jingga periksa lagi apakah pelajaran yang hari ini ada jadwalnya sudah kita pelajari semua, kalo memang belum, nanti kasih tau Ibu, kita belajar sama-sama, ya.” Ucapanku diiringi dengan anggukan kepala Jingga. Kami makan dalam diam. Sementara Jingga makan, aku teringat bahwa mulai besok sampai satu minggu ke depan dia tidak akan berangkat ke sekolah dulu, “Oh iya, Nak. Mulai besok sampai hari Kamis minggu depan lagi, Jingga gak berangkat ke sekolah dulu, ya. Tadi Ibu udah menelepon Bu Aini dan Bu Aini sudah memberikan izin. Tapi Jingga jangan khawatir, meskipun di rumah, Jingga akan tetap belajar, Bu Aini akan tetap mengirimkan tugas dan juga pekerjaan rumah untuk dikerjakan sama Jingga, ya, Nak.” ada raut wajah aneh yang ditampakkan oleh Jingga setelah mendengar apa yang aku ucapkan barusan, “Kenapa memangnya, Bu? Kok Jingga belajar dari rumah? Memangnya sekolah diliburkan atau kenapa?” aku tau pertanyaan demi pertanyaan akan dilontarkan olehnya, aku sedang mencari alasan yang tepat agar tidak ada lagi pertanyaan setelah pertanyaan ini, aku mencoba untuk menjelaskan serinci mungkin tanpa harus membuatnya takut atau khawatir, “Jadi begini, Nak. Bapak sekarang kan sedang berada di kantor polisi, Bapak ada di sana karena dilaporkan sama temannya bahwa Bapak melakukan perbuatan yang tidak baik. Padahal, sejak kemarin Bapak sudah menjelaskan ke Ibu dan menunjukkan bukti-bukti yang kuat kalo Bapak memang tidak bersalah.” Jingga menunjukkan ekspresi tidak suka di wajahnya, “Kok teman Bapak jahat begitu, Bu?” aku mengangguk, “Namanya manusia, Nak. Tidak ada yang sempurna, begitu juga orang yang dianggap teman oleh Bapak. Awalnya Bapak memang butuh uang untuk tambahan dan teman Bapak tersebut menawarkan dan Bapak menerimanya, tapi ternyata Bapak dijebak. Bapak dituduh melakukan hal yang tidak baik, padahal Bapak tidak melakukan hal tersebut.” Aku bisa melihat raut wajah Jingga yang sedih tampak sekali, “Kenapa ada orang yang seperti itu, ya, Bu?” aku hanya bisa menjawab singkat, “Namanya manusia, Nak. Tidak semua baik, tapi tidak semua juga jahat, makanya, Jingga harus bisa mengenali siapa teman Jingga yang tidak baik dan siapa yang baik. Bahkan orang yang tidak dikenal sekalipun, Jingga harus tau, dia baik atau tidak. Karena teman orang yang kita anggap baik, bisa saja justru malah jahat sama kita, tapi orang yang tidak kita kenal, justru kebalikannya, bisa saja mereka malah jauh lebih baik dari orang yang kita anggap teman.” Jingga hanya menganggukkan kepala sambil terus menyendokkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya, “Mungkin sekarang Jingga masih pusing dan bingung memahami apa yang barusan Ibu sampaikan, tapi suatu saat nanti, Jingga akan memahami dengan sendirinya, dengan seiring berjalannya waktu.” Lagi-lagi dia mengangguk, “Jingga paham, kok, Bu. Maksud dari yang Ibu omongin barusan, tidak semua teman itu baik dan tidak semua orang asing itu jahat, kan?” aku menganggukkan kepala, “Betul. Ya sudah, selesaikan makan siangnya, setelah ini Jingga istirahat dulu, ya.” dan kami meneruskan makan siang dalam diam, sibuk dengan pemikiran dan isi kepala kami masing-masing.
Menjelang asar, handphoneku berdering, aku melonjak terkejut, aku pikir itu Mas Subagja yang ada di depan pagar rumah kami meminta untuk pagar rumah kami dibukakan, tapi ternyata bukan, ini telepon dari Bu Aini yang mau memberikan pekerjaan rumah untuk Jingga hari ini, “Nanti saya kirimkan pesan apa saja pekerjaan rumahnya dan halaman berapa saja, ya, Bu.” Aku menyampaikan terima kasih ke Bu Aini karena dia sangat baik dan mau bersusah payah untuk membantu Jingga. Karena tidak bisa tidur lagi, aku mulai membaca pesan dari yang paling bawah, sampai paling atas, ternyata ada beberapa pesanan rolade untuk besok, dan lusa. Alhamdulillah, ada uang juga untuk tambahan, sementara Mas Subagja belum ada kabar dan kejelasan mengenai kapan dia akan dibebaskan dari sana. Aku juga mendapat pesan dari nomor yang tidak aku kenal, bukan mau pesan rolade, tapi isi pesannya adalah, “Biarkan suamimu di dalam, suruh dia menyerah dan mengakui semuanya, maka semua kebutuhan hidupmu dan anakmu akan aku jamin.” Aku tidak tau nomor ini milik siapa, tapi aku bisa menduga orang yang mengirim pesan ini ada hubungannya dengan orang yang kemarin menjebak Mas Subagja sehingga bisa masuk terjebak ke dalam kondisi dan situasi seperti saat ini. Aku tidak membalas pesan tersebut, tapi menyimpan pesan itu untuk bukti jika nanti diperlukan untuk membantu Mas Subagja. Ketika aku sedang duduk untuk mencatat pesanan rolade, gerbang rumahku seperti ada yang melempar dengan batu, bunyinya nyaring sekali, Jingga yang mungkin juga mendengarnya, langsung keluar dari kamarnya dengan wajah ketakutan, “Ibu, itu apa?” tanyanya kepadaku, aku menggeleng, “Ibu juga gak tau, Nak. Biarkan saja, pesan Bapak tadi kalo ada yang terjadi dan aneh-aneh, tidak usah dianggap. Jingga balik ke kamar, ya, Nak. Jangan lupa jendela kamar Jingga dikunci.” Jingga mengangguk dan kembali masuk ke kamarnya, dari luar aku bisa mendengar ada keributan, mungkin tetangga juga ada yang mendengar suara yang cukup keras tadi. “Mamanya Jingga …” terdengar suara Bu RT memanggilku dari luar, karena beberapa kali aku mendengar namaku diteriakkan, mau tidak mau aku keluar juga menyahuti panggilan tersebut, “Iya, Bu.” Lalu berjalan ke gerbang, ada Mpok Leha, Bu RT, tetangga sebelah rumahku, dan beberapa orang lagi yang berkerumun, “Itu tadi seperti ada yang melempari pagar mamanya Jingga, kencang banget suaranya.” Aku mengangguk, “Mungkin hanya orang iseng, Bu. Tadi saya lagi di dalam ngurus pesanan.” Bu RT sepertinya ingin bertanya lebih banyak, tapi mungkin karena tau tipe-tipe warganya yang suka bergosip, Bu RT memutuskan untuk membubarkan kerumunan tadi, “Sudah, ibu-ibu, bapak-bapak. Mamanya Jingga gak kenapa-kenapa, sekarang pada bubar, ya, pada pulang ke rumah masing-masing.” Dengan terpaksa, mereka membubarkan diri, mungkin masih ingin mendengarkan berita yang lebih menarik atau sekedar bahan untuk dijadikan bahan gosip, tapi gagal karena sudah dibubarkan oleh Bu RT. Setelah kerumunan membubarkan diri, Bu RT mendekatiku, “Apa sedang ada masalah dengan bapaknya Jingga, Bu?” aku diam, aku tidak mau masalah yang sedang aku hadapi ini nanti justru malah menyulut kemarahan warga, warga salah paham dan berpikir bahwa Mas Subagja beneran kurir obat-obatan terlarang, maka aku menjawab pertanyaan Bu RT dengan sederhana dan singkat saja, “Iya, Bu. Sedang ada masalah sedikit, tapi insyaallah semua masalahnya sedang diberesin dan diselesaikan sama bapaknya Jingga.” Mendengar ucapanku tersebut Bu RT mengangguk, “Ya, sudah. Semoga masalahnya lekas selesai, ya. Kalo perlu bantuan atau ada apa-apa, cerita, ya. Ke saya boleh, ke suami saya boleh. Lewat telepon saja, untuk menghindari beredarnya kabar yang belum tentu kejelasannya.” Aku mengangguk, benar dugaanku, Bu RT memang sangat menghindari gosip-gosip yang tidak jelas sumber dan kebenarannya, makanya dia membubarkan masa yang berkerumun tadi. Setelah Bu RT masuk ke dalam rumah, aku juga buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu lalu menutup semua jendela dan gorden, memastikan semua jendela dan pintu terkunci dengan benar dan tertutup dengan rapat.