Ibu 34

1370 Kata
Setelah kejadian tadi sore aku sama sekali mengurangi aktifitas atau bebunyian yang bisa menimbulkan perhatian, walaupun kadang ada saja hal-hal yang membuat rumah jadi berisik, tutup panci yang tiba-tiba jatuh, sehingga aku juga ikutan teriak, diikuti Jingga yang ikut-ikutan heboh menanyakan ada apa yang terjadi. Dan sejak tadi pagi juga, sejak Mas Subagja dibawa ke kantor polisi untuk diselidiki, hingga malam ini, jam di dinding ruang makan sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam, belum ada, tidak ada sebenarnya, tanda-tanda bahwa Mas Subagja akan pulang malam ini. Aku duduk di ruang makan, di kursi yang sering dan selalu Mas Subagja duduki, aku mencoba mengingat kembali semua yang pernah dia lakukan di kursi ini, menyisiri rambut Jingga, jika aku masih sibuk masak dan belum selesai dengan urusanku di dapur, membacakan soal untuk Jingga, jika Jingga butuh latihan lebih banyak untuk menghadapi ujian di sekolahnya, sampai adu argumen dan bertengkar denganku pun, sering kami lakukan di sini, dan tanpa aku sadari air mata juga senyumku kompak muncul berbarengan, mulutku tersenyum mengingat ulah dan tingkah Mas Subagja yang sering konyol jika menanggapi Jingga, berbarengan dengan itu juga air mataku keluar karena sedih, membayangkan betapa pernikahan kami benar-benar di ambang kehancuran, kemarin. Ketika Mas Subagja tergila-gila dengan gundik dan selingkuhannya, sementara aku juga sedang tergoda dengan lelaki lain karena Mas Subagja yang terus-terusan tidak peduli dengan aku dan Jingga. Sambil terus mengingat kejadian tersebut, tiba-tiba, aku mendengar ada suara seperti benda jatuh diikuti dengan bunyi “Prang” di depan, sepertinya kaca di ruang depan pecah atau entah apa yang pecah. Aku bergegas ke depan, sambil mengendap-endap dan memicingkan mataku, aku khawatir ada orang yang sudah masuk ke dalam pekarangan rumahku. Ada percikan api yang perlahan menjadi kobaran besar, aku menjerit sejadi-jadinya, langsung bergegas masuk ke dalam dan berteriak memanggil nama Jingga, “Jingga, keluar, Nak. Pakai baju dan jaketmu. Lekas, Nak.” Aku masuk ke kamar, mengambil tas yang di dalamnya terdapat dompet, kartu ATM, dan merambet handphone yang memang sedang aku cas di kamar. Tidak berapa lama, Jingga dan aku berlarian keluar untuk meminta tolong, beberapa warga yang sejak tadi sudah melihat api merembet ke beberapa bagian rumah, mencoba mendobrak gerbang rumahku untuk membukanya, “Tunggu, Pak, ini kuncinya, tunggu.” Setelah membuka gerbang, aku berlari ke dalam masuk ke ruang tamu yang sudah hampir setengahnya terbakar mencoba untuk mendorong keluar motor yang masih berada di dalam. Aku bisa melihat Jingga menangis di pelukan Mpok Leha, aku juga bingung, hanya bisa jongkok, menangis, dan meratapi rumahku, bukan, rumah kontrakanku yang dilalap api dan sekarang bagian ruang tamunya sudah gosong. Sekitar lima belas menit, api berhasil dipadamkan, dengan bantuan beberapa tetangga yang dengan sigap mengambil selang air dan memasangkan selang air tersebut ke kran air yang ada di depan rumahku, terima kasihku kepada mereka rasanya tidak cukup untuk menggambarkan betapa aku sangat bersyukur bisa dibantu. Setelah beberapa tetangga membubarkan diri, aku bisa melihat Pak RT dan Bu RT berjalan mendekat dan menghampiriku, “Bu Lastri, malam ini biar tidur dulu sementara di rumah kami, ya. Besok pagi saya sama warga akan membantu membereskan kerusakan dan jika bisa saya akan meminta warga untuk membantu membenahi dan mengganti bagian rumah yang terbakar.” Ucap Bu RT, aku sebenarnya mau saja menerima tawaran itu, tapi aku menggeleng, “Terima kasih, Bu, Pak. Biar saya tidur di rumah saja, tidak apa-apa. Insyaallah setelah ini tidak ada kejadian aneh-aneh lagi seperti ini.” Aku bisa melihat Pak RT dan Bu RT saling pandang, mungkin mereka mau memaksa aku untuk tidur dulu di rumah mereka sementara waktu, tapi aku tidak mau dan menolak, karena aku tidak mau rumah Pak RT dan Bu RT yang akan jadi sasaran selanjutnya. Beberapa ibu-ibu, dikomandoi Mpok Leha mulai membereskan sisa-sisa kebakaran tadi, mencoba untuk menggosok dinding yang gosong, lalu membersihkan gorden yang sudah sisa setengah karena setengahnya sudah dilalap api. Sementara Jingga masih saja mendekapku erat, seperti sejak pertama tadi kami keluar dari rumah dan berlari sampai ke sini, “Bu Lastri, saya bukannya mau ikut campur mengenai permasalahan yang sedang Ibu dan keluarga hadapi, hanya saja, jika keadaannya seperti ini, saya sebagai ketua RT harus mengetahui ada masalah apa sebenarnya, karena jika hal ini berulang tentu saja akan membuat tetangga Ibu dan masyarakat di sini tidak aman dan merasa ikut terancam.” Sebenarnya aku benar-benar enggan untuk menjelaskannya, aku takut memberitahu Pak RT dan Bu RT karena ini adalah aib keluarga, tapi, benar kata Pak RT tadi, semua kejadian yang terjadi di daerah lingkungan ini adalah tanggung jawabnya, maka keamanan dan kenyamanan warganya adalah tanggung jawab Pak RT. Aku mengangguk, mencoba untuk menjawab, “Iya, Pak. Saya akan menceritakannya, tapi …” aku melihat keadaan dan mengedarkan mata berkeliling, melihat masih ramai orang, mungkin dengan isyaratku tadi, Pak RT dan Bu RT paham, maka Pak RT memanggil hansip yang sering berkeliling dan satpam yang berhaga di pos depan, juga memanggil Mpok Leha, “Pak Satpam, Mas Hansip, Mpok … Mpok Leha, sini sebentar.” Setelah ketiganya datang, Pak RT memberi tugas kepada masing-masing orang itu, “Mpok Leha, tolong bantu saya untuk jadi komandan bebersih rumah Bu Lastri, tolong dijaga barang-barang yang ada di rumah Bu Lastri ya, Mpok. Minta tolong ke ibu-ibu yang lain untuk membantu, ya. Pak Satpam dan Mas Hansip tolong berjaga-jaga di sini, ya. Ajak bapak-bapaknya, daripada ngerumpi kayak begitu, tuh.” Tunjuk Pak RT ke kerumunan yang ada di dekat kami. Setelah ketiganya kompak menyeru, “Siap.” Seperti sedang mengikuti upacara, bersamaan dengan itu juga Bu RT mengajakku ke rumah mereka. Sesampainya di rumah Pak RT, aku dipersilahkan untuk duduk, Bu RT membawakan berbagai macam minuman, jajanan untuk Jingga, kue, bahkan kami ditawari makan nasi, “Bu Lastri dan Jingga sudah makan malam? Kalo belum, saya siapkan, ya, makan malam di sini.” Aku menggeleng, ini sudah larut malam, tidak mungkin merepotkan Bu RT, “Tidak usah, Bu. Ini sudah cukup, kami sudah makan tadi.” Dan setelah selesai dengan basa-basi tawar menawar suguhan, Jingga diminta untuk main dengan anak Pak RT dan Bu RT, sementara aku mulai ditanya oleh Pak RT dan Bu RT, “Jadi, ada kejadian apa yang sebenarnya yang sedang menimpa keluarga Bu Lastri dan Pak Subagja.” Maka dengan hati-hati, dengan sangat rinci aku menceritakan semuanya mulai dari awal, sampai tadi pagi Mas Subagja dijemput paksa oleh polisi, sampai pesan Mas Subagja terhadapku, dan hingga malam ini, Mas Subagja belum juga menampakkan batang hidungnya. Setelah mendengar ceritaku tersebut, Pak RT menghembuskan napas panjang dan dalam, “Masalahnya sangat kompleks. Jika sudah berurusan dengan bandar narkoba seperti ini memang sangat berbahaya. Saya tidak tau harus bantu apa, tapi yang pasti mulai malam ini sampai masalah Pak Subagja selesai, saya akan menempatkan hansip tanpa seragam yang menyamar jadi masyarakat biasa dan satpam untuk berjaga-jaga di sekeliling rumah Bu Lastri. Karena saya khawatir kejadian ini akan terulang lagi. Besok saya akan memasang CCTV di gerbang pintu rumah saya yang mengarah ke rumah Bu Lastri tanpa sepengetahuan siapa pun, agar kita bisa memantau dari CCTV tersebut jika memang ada kejadian yang tidak diinginkan seperti ini terulang, ya, mari berdoa semoga saja tidak terulang lagi. Tindakan ini hanya untuk berjaga-jaga saja.” Aku mengangguk. Setelah selesai berbincang dengan Pak RT dan Bu RT, aku pamit untuk pulang bersama Jingga, “Kami pamit pulang dulu, Pak, Bu. Terima kasih banyak atas bantuannya, saya tidak tau harus bagaimana membalas semua kebaikan Bapak, Ibu, dan semua warga di sini, walaupun kami hanya ngontrak di sini, tapi perlakuan kalian semua tidak membeda-bedakan saya dan keluarga dengan warga tetap lainnya.” Setelah sampai di rumah pun, rumah sudah sangat jauh lebih baik kelihatannya, aku menghampiri Mpok Leha dan ibu-ibu yang lain, “Masyaallah, terima kasih, ya, Mpok, ibu-ibu. Saya gak bisa membalas dengan apa pun semua kebaikan ibu-ibu, semoga Allah membalas kebaikan ibu-ibu semua.” Mpok Leha memelukku, bersamaan dengan ibu-ibu yang lain juga pamitan, “Jangan keluar rumah dulu. Kalo perlu apa-apa, sayur, garem, gula, kirim pesan aja, nanti saya antar sampe ke depan rumah.” Aku mengangguk, lalu Mpok Leha juga pamit pulang. Motor sudah ada di tempat semula, aku bergegas menggembok gerbang, sekilas aku aku lihat ada lima orang bapak-bapak yang sedang ngobrol di seberang jalan rumahku, mungkin mereka yang diminta Pak RT untuk berjaga-jaga di sekitar rumahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN