Hingga subuh aku tidak benar-benar bisa tidur dengan nyenyak. Aku dan Jingga memutuskan untuk tidur bersama di kamarku, karena di kamar Jingga sebenarnya ranjangnya tidak cukup untuk kami berdua, kemarin-kemarin aku memaksa tidur di kamar Jingga itu aku tidur di bawah dengan menggelar karpet di sebelah ranjangnya. Berbeda dengan Jingga, dia sepertinya memang kelelahan sekali. Semalam baru beres dari rumah Pak RT sekitar pukul setengah satu malam, belum lagi kami juga harus bebersih dan menyegarkan juga mengganti pakaian lagi sebelum berangkat tidur. Sebelum azan subuh kurang setengah jam lagi, aku memutuskan untuk mengambil wudu, menggelar sajadahku, dan melaksanakan salat sunah tahajud. Panjang sujudku, lama banget, kunikmati setiap tarikan napas yang berhembus pelan, seiring dengan bacaan-bacaan salat dan ayat-ayat indah yang Allah turunkan melalui Al-Quran. Air mata deras mengalir, entah karena aku ingat akan dosa-dosaku, entah juga mungkin karena himpitan masalah yang sedang aku hadapi atau bisa jadi karena khusyuknya aku menjalankan tahajud di sepertiga malam ini, sesak yang sejak kemarin membuncah, seperti menguar ke udara, himpitan dan beban yang seperti menimpaku ribuan bahkan jutaan ton di atas pundak seperti terlepas sedikit demi sedikit. Setelah selesai salat tahajud yang ditutup witir, tidak ada doa yang bisa kuucapkan, tidak keluar keinginan-keinginan yang ingin kucurahkan, mulut ini hanya menyebut Allah dan Rasul bergantian, terus-terusan, seolah tidak ada lagi yang lebih aku inginkan daripada Allah dan Rasul, “Allah-Allah-Allah” kemudian mulutku juga mengucap, “Ya Rasulullah-ya Rasulullah” begitu terus. Semakin lama semakin nikmat menyebut kedua nama istimewa tersebut, tidak ada yang lebih aku inginkan kecuali ketenangan batin dalam menyebutkan kedua nama hebat dan istimewa itu. Aku melihat jam di dinding masih sekitar lima belas menit lagi menuju waktu subuh. Mungkin karena kelelahan menangis, kepalaku agak berat, dan akhirnya mataku mengantuk, aku merebahkan diri di atas sajadah, niat hati ingin menghilangkan sakit kepalaku, tapi ternyata mataku tertutup juga saking pedasnya karena menangis, dan dalam hitungan menit saja aku sudah tertidur. Mendengar sayup-sayup suara Jingga memanggil dan membangunkanku, “Bu, Ibu bangun Bu, udah azan subuh.” Dan aku terbangun dalam keadaan yang lumayan segar, tidur memang tidak perlu lama yang penting nyenyak. Setelah bangun, aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudu lagi, ketika selesai dari kamar mandi menuju ke kamar untuk melaksanakan salat subuh, aku melihat Jingga masih berdiri tapi belum memulai salatnya, aku yang keheranan bertanya, “Kok Jingga belum mulai salatnya, Nak?” dia mengangguk, “Kita salat jamaahan, yuk, Bu.” Ajak Jingga dan aku menyetujuinya, maka setelah Jingga mengumandangkan iqomah, aku langsung memimpin salat subuh kami. Dengan khusyuk dan nikmat sekali aku melakukan salat subuh kali ini, bacaan doa demi doa aku lantunkan dengan penuh tartil dan tidak tergesa-gesa. Setelah selesai salat, aku meminta Jingga untuk memimpin membaca doa, “Jingga, ya, yang baca doanya.” Dia mengangguk, setelah mengucapkan salawat kepada Nabi Muhammad mengucap syukur ke Allah, doa pertama yang dia gumamkan adalah, “Ya Allah, aku ingin Bapak pulang sekarang dalam keadaan sehat dan tidak kurang satu apa pun, aku ingin Bapak pulang sekarang dan semua masalahnya sudah selesai dan Bapak bebas dari kantor polisi.” Seketika air mataku kembali menetes, Jingga meneruskan ucapannya, “Jingga gak butuh apa-apa, Allah. Jingga hanya butuh Bapak dan Ibu yang sehat, yang selalu ada di samping Jingga dan sayang sama Jingga, bolehkan, Allah?” begitu ucap Jingga menutup doannya, setelahnya aku meneruskan doa sendiri, “Jingga kangen Bapak, ya?” dia mengangguk pelan, “Bapak kapan pulang, Bu?” aku yang tidak tau harus menjawab apa, hanya bisa bilang ke Jingga, “Sabar, ya, Nak. Doakan Bapak, doakan terus agar Bapak selalu dalam lindungan Allah dan Bapak akan segera berkumpul lagi bersama kita di sini.” Karena Jingga tidak pergi ke seolah hari ini, maka setelah sarapan dia akan masuk ke kamar menungguku untuk memberikannya pekerjaan rumah, tugas atau ulangan harian dari Bu Aini yang dikirim ke handphoneku. Hari ini Jingga mendapatkan tugas yang tidak terlalu banyak, jadi setelah menjelaskan ke Jingga mengenai pelajaran hari ini dan menjelaskan cara mengerjakan tugasnya aku balik ke dapur untuk mengurus pesanan roladeku. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, tapi sampai sekarang masih belum ada kabar dari Mas Subagja, apa aku hubungi saja, ya, Pak Trisno yang ada di kantor polisi dan menanyakan mengenai keadaan suamiku. Iya, begitu saja, jadi tanpa pikir panjang aku ambil handphoneku dan memutar nomor Pak Trisno, beberapa kali nada dering memanggil tapi tidak diangkat, dan terakhir sebelum aku berniat menyerah untuk menelepon Pak Trisno, panggilan teleponku diangkat juga sama dia, “Halo, siapa ini? Ganggu saja orang sedang di kantor!” suara kerasnya membuatku terkejut, aku mencoba menjelaskan bahwa aku istri dari Pak Subagja, “Maaf mengganggu, Pak. Saya Lastri, istri Pak Subagja.” Yang di ujung telepon diam tidak merespon, mungkin dia lupa atau pura-pura lupa, aku kembali menjelaskan siapa diriku, “Saya Lastri Istri Pak Subagja yang kemarin pagi suami saya dibawa ke kantor polisi, katanya suami saya dituduh ikut menjadi pengedar obat-obatan terlarang padahal itu hanya fitnah, Bapak ingat, kan, sekarang?” setelah aku menjelaskan seperti itu, mungkin karena tidak enak hati, Pak Trisno berdehem, “O .. iya. Jadi begini, Bu. Sementara ini Pak Subagja masih dalam tahap penyidikan kami, masih banyak pertanyaan dan juga hal-hal yang perlu kami tanyakan dan konfirmasi ke Pak Subagja. Status Pak Subagja sementara ini masih jadi tahanan kota, yang artinya bisa saja Pak Subagja dilepaskan jika memang terbukti tidak bersalah.” Aku meradang, padahal jelas-jelas aku tau bahwa Mas Subagja sudah memberikan bukti obrolan dia dengan temannya itu, “Loh, kemarin suami saya sudah memberikan bukti obrolan dengan temannya itu, kan, Pak? Seharusnya itu saja cukup, kan, membuktikan kalo suami saya memang tidak tau apa-apa dan dijebak sama teman laknatnya itu?” tidak ada jawaban dari Pak Trisno, dia hanya menyudahi sambungan teleponku dengan dalih sedang banyak pekerjaan, “Sudah, ya, Bu. Sementara hanya informasi itu saja yang bisa saya sampaikan.” Aku benar-benar geram dibuatnya, benar berarti dugaan Mas Subagja, dia dijebak. Karena sejak kemarin dia dibawa ke kantor polisi, tidak sekalipun dia melihat temannya itu. Aku terduduk lemas, rasanya, jika tidak butuh uang dan takut kepercayaan pelangganku hilang, aku ingin sekali membatalkan pesanan rolade ini, tapi itu gak mungkin, uang sudah aku terima, dan beruntung mereka mau mengambil sendiri ke rumah, jadi dengan terpaksa tapi tetap berusaha fokus aku mulai mengerjakan pesanan roladeku satu per satu. Satu jam sudah aku membereskan semua pesananku, sekarang roladenya tinggal menunggu dingin dan siap disusun ke dalam wadah. Sambil menunggu itu, aku duduk, mencoba memikirkan gimana caranya membantu Mas Subagja agar bisa keluar dari kantor polisi dan terbebas dari tuduhannya. Mas Subagja juga terancam dipecat dari kantornya, selain dia sudah dua hari tidak masuk tanpa keterangan, kabar dan isu kalo Mas Subagja terlibat kasus ini juga sudah menyebar. Aku menempelkan kepalaku ke dinding yang dingin, rasanya panas dan berat sekali isi kepala ini. Ketika aku sedang mencari nama siapa yang kira-kira bisa membantuku untuk masalah Mas Subagja ini, tiba-tiba ada pesan masuk dari nama yang sudah sejak lama tidak pernah lagi aku berhubungan dengannya, “Siang, sayang. Bagaimana kabarmu? Aku kangen, loh, mendengar desahan napasmu.” Iya, benar, itu pesan dari Mas Hadi, yang membuatku terkesiap dan terkejut.