Kehadiran pesan dari Mas Hadi yang datang secara tiba-tiba ketika aku sedang benar-benar bingung dan pusing harus mencari bantuan ke mana, membuatku bimbang dan bertanya-tanya. Bimbang karena apakah aku harus membalas pesannya, tapi benarkah itu Mas Hadi? Kalo ternyata itu ada istrinya yang menyamar jadi Mas Hadi dan sekedar untuk mengetes apakah aku masih ada urusan dengan suaminya, kan aku yang bakal mendapat masalah. Bertanya-tanya pada Allah, apakah benar kehadiran Mas Hadi bisa jadi salah satu bentuk bantuan Allah untuk aku dan Mas Subagja keluar dari masalah kami dan bisa membuat kami bebas dari masalah ini. Aku mencari cara untuk memancing agar Mas Hadi meneleponku tanpa harus ketahuan istrinya, kalo memang ini yang menghubungiku adalah istrinya. Aku mendapat ide, untuk memastikan bahwa ini benar Mas Hadi atau bukan, “Tolong, Mas. Jangan ganggu aku lagi, kemarin aku sudah berjanji sama istri Mas bahwa setelah semua urusan aku dengan Mas selesai dan anakku dikembalikan kepadaku, aku dan Mas gak akan ada hubungan apa-apa lagi. Jadi tolong, Mas, jangan buat aku berada di dalam masalah lagi seperti kemarin.” Isi pesan yang aku kirim ke Mas Hadi, untuk memeriksa apakah benar yang mengirimkan pesan ini beneran Mas Hadi atau istrinya. Dua menit, tiga menit, sampai sepuluh menit kemudian tidak ada balasan lagi dari Mas Hadi. Aku kembali terduduk lemas, karena jujur saja, beberapa menit lalu ketika pesan dari Mas Hadi masuk, aku seperti mendapat pencerahan dan harapan. Aku yakin, orang sehebat Mas Hadi akan dengan sangat mudah membereskan masalah yang sedang dihadapi Mas Subagja. Karena sepertinya tidak ada harapan lagi, akhirnya aku menaruh handphoneku di nakas yang berada di samping tempat tidur, aku mencoba untuk merebahkan tubuhku di ranjang, sementara Jingga sedang berada di kamarnya, mungkin sedang belajar, karena informasi yang aku dapatkan dari Bu Aini bahwa minggu depan akan diadakan ulangan harian. Jingga tidak akan pernah membiarkan siapa pun untuk mengambil peringkat juaranya di kelas, siapa pun. Dia akan berusaha sekuat mungkin agar bisa membawa pulang piala atau piagam yang nantinya akan dia pamerkan ke bapaknya dan Mas Subagja akan dengan penuh suka cita memajang piala atau piagam tersebut. Akhirnya aku menyerah pada kepala yang sejak tadi tidak bisa diajak kompromi, sakitnya luar biasa. Ketika sedang memejamkan mata sejenak. Tapi tiba-tiba ada yang menggedor gerbang dan dari suaranya aku bisa mendengar itu suara Mpok Leha, Jingga yang mungkin terkejut mendengar gerbang digedor, masuk ke kamarku, “Bu, sepertinya orang yang datang, dari suaranya di depan sih seperti suara Mpok Leha. Ibu sakit, ya?” aku menggeleng, “Ibu baik-baik aja, Nak. Udah, Jingga ke kamar aja, ya. Biar nanti itu gerbang Ibu yang buka.” Setelah mengumpulkan kekuatanku untuk bangun, aku bergegas ke depan setelah mengintip dari gorden di ruang tamu dan memastikan kalo yang dateng itu Mpok Leha. Tapi sepertinya Mpok Leha tidak sendiri, ada seseorang lelaki bersamanya, aku bertanya-tanya siapa lelaki ini, “Mpok Leha, ada apa? itu siap …” ucapan dan pertanyaanku menggantung di udara ketika melihat sosok lelaki yang berdiri di depanku ini. Lelaki yang sangat aku kenal, lelaki yang beberapa bulan lalu sempat hadir dan mengisi hati ini, yang dengan seringnya menjamah setiap inci tubuh ini. Melihatnya berdiri di depanku sekarang membuat kelebatan waktu-waktu yang aku dan dia habiskan bersamanya kembali tergambar, jelas. “Ini ada Pak Hadi namanya, katanya dia temen sekolah mamanya Jingga, emang bener? Kalo bener, ya, gak apa-apa. Tapi kalo dia boong, itu, bapak-bapak dan Pak Hansip di ujung gang udah nunggu aba-aba dari saya, untuk meringkus bapak ini.” Tunjuk Mpok Leha ke Mas Hadi. Aku mengangguk dengan cepat, “Iya, benar. Bapak ini teman saya sekolah, Mpok. Bilangin sama bapak-bapak yang lain juga, ya, kalo Bapak ini datang ke sini karena saya ada janji dengan dia.” Setelah mendengar penjelasan dariku, Mpok Leha mengangguk-angguk, lalu pamit, “Ya udah, saya pamit dulu deh, itu warung tadi saya tinggalin.” Aku mengangguk, lalu membukakan gerbang, dan mempersilahkan Mas Hadi masuk, “Wah, ini kalo ketahuan aku ngapa-ngapain sama kamu, bisa diarak keliling kampung nih, aku.” Guyon Mas Hadi terhadapku. Aku hanya tersenyum ke arahnya dan mempersilahkan dia masuk ke ruang tamu, lalu memintanya duduk, “Loh, aku cuma disuruh duduk di ruang tamu, nih? Gak ke kamarmu langsung gitu?” aku diam, hanya menarik napas panjang, “Mas, tolong dijaga sikapnya. Di rumah ini ada anakku.” Lalu dia mengangguk-anggukan kepalanya, “Iya, aku tau. Karena jam segini yang ada di rumah ini hanya kamu sama Jingga, sementara suamimu belum pulang dari kantornya, kan?” aku mengangguk. Jingga kemudian keluar dari kamarnya, mungkin penasaran dengan orang yang datang, aku memanggilnya, “Sini, Nak. Ini Om Hadi, teman sekolah Ibu dulu.” Lalu Jingga mendekat ke arahnya Mas Hadi dan mencium tangannya, “Anak pinter.” Ucap Mas Hadi sambil mengusap rambut Jingga, setelahnya aku meminta Jingga untuk masuk ke kamarnya lagi. Aku yang sejak tadi masih belum tau ada keperluan apa Mas Hadi datang ke sini, penasaran juga untuk menanyakannya, karena sejak tadi dia hanya diam dan memandang berkeliling ke ruang tamu ini, “Jadi, sebenarnya Mas ada keperluan apa datang ke sini?” setelah ditanya seperti itu, dia menghentikan kegiatannya mengedarkan pandangan berkeliling, lalu pandangannya jatuh pada tembok gosong yang kemarin malam habis dilalap api, “Loh, itu kenapa? Kebakaran? Kamu gak apa-apa, kan, kenapa gak ngomong sama aku, kenapa kamu gak ngomong mengenai hal ini?” aku bergeming, kemudian menjawab pertanyaannya, “Kamu lupa perjanjian kita kemarin? Aku tidak boleh lagi menghubungimu bahkan sekedar menanyakan kabarmu.” Aku lalu menundukkan kepala dan air mataku jatuh lagi, “Dinding itu terbakar, setelah ada seseorang yang melempar semacam botol rakitan kecil berisi bensin dan api. Kami diteror oleh entah siapa. Yang pasti aku yakin ini ada hubungannya dengan kasus yang sedang dialami Mas Subagja, suamiku.” Mas Hadi rupanya terkejut mendengar ucapanku, “Siapa yang melakukan itu? Apa yang sebenarnya terjadi? Ceritakan sama aku.” Dan cerita itu kembali aku ulang, seperti sudah ada script di dalam kepalaku, semua dari awal aku ceritakan, mendetail dan terperinci, “Ini bukti pesan dan obrolan Mas Subagja dengan orang yang mengajaknya kerja itu. Tapi kata Mas Subagja, sepertinya pesan ini sudah dihapus dan barang bukti ini sudah dihapus dan itu bisa memberatkan kasus ini dan membahayakan posisi Mas Subagja. Sudah sejak kemarin pagi Mas Subagja dibawa ke kantor polisi, tapi sampai hari ini tidak ada kabar sama sekali, suamiku gak salah, Mas, tolong bantu aku.” Rengekku pada Mas Hadi, dia yang mendengar cerita tersebut mencoba untuk menenangkanku, sementara aku masih berusaha untuk menghentikan air mataku, Mas Hadi keluar sambil menelepon, entah menelepon siapa. Jingga yang mungkin mendengarku menangis, keluar dari kamar dan menghampiriku, “Ibu kenapa? Om tadi bikin Ibu nangis, ya? apa perlu aku panggil bapak-bapak yang ada di depan, Bu?” aku menggeleng, “Tidak perlu, Nak. Ibu menangis karena Om Hadi menanyakan kabar Bapak.” Setelah selesai menerima atau melakukan panggilan telepon, aku tidak tau, Mas Hadi masuk ke dalam menemuiku, “Siapa polisi yang bertanggung jawab dan membawa suamimu?” tanyanya padaku, “Pak Trisno, Mas.” Ucapku. Dengan mendecih kasar, Mas Hadi mengucapkan sumpah serapah, “Dasar mata duitan.” Aku tidak paham apa yang dibicarakan oleh Mas Hadi, tapi setelahnya dia mengetikkan sesuatu di hanpdhonenya, tidak lama kemudian dia pamit, “Aku akan urus masalah ini, kamu jangan khawatir.” Aku mencegahnya untuk pergi ketika dia sudah bangkit dari duduknya, “Tapi kalo istri Mas tau, aku masih berhubungan sama Mas, bagaimana?” dia menggeleng, “Istriku tidak akan tau, dia sedang berada di Turki, liburan dengan teman-teman arisannya. Nanti kalo ada kabar terbaru, aku kabari, ya. Hidupkan terus handphonemu.” Dan dia bergegas keluar sementara aku mengikutinya dari belakang, mengunci kembali gerbang, dan secepat kilat masuk ke dalam rumah, dan mengunci pintu depan. Setelah kepergian Mas Hadi, aku merasa agak sedikit lega. Tinggal menunggu kabar baik dari Mas Hadi.