Sebenarnya ada sedikit kekhawatiranku mengenai kehadiran Mas Hadi kembali di dalam kehidupanku. Aku takut, terjerumus lagi ke dalam lubang kegelapan, sementara aku sudah berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik lagi, aku tidak mau lagi terjerumus ke dalam kesalahan yang sama seperti kemarin, ketika aku menjalin hubungan yang tidak seharusnya dengan Mas Hadi. Tapi kehadirannya barusan, tidak bisa aku pungkiri, membuatku benar-benar seperti mendapat angina surga, seperti melihat cahaya di dalam gelapnya perjalanan hidupku. Meskipun begitu, aku akan tetap berusaha sekuat tenaga untuk tidak terjerumus dan terjerembab lagi ke dalam lubang kesalahan yang sama. Berkali-kali aku mengecek handphoneku, berharap ada kabar baik yang menghampiri, walaupun sebenarnya jika ada telepon masuk atau pesan baru handphone ini pasti berbunyi. Ketika aku sedang duduk di dapur, entah apa yang mau aku lakukan, seketika handphoneku berdering, Mas Hadi memanggil, secepat kilat aku angkat tanpa menunggu beberapa deringan lagi, “Sayang, itu di depan ada tukang cat. Dibuka, ya, pintunya. Biar ruang tamumu itu bisa diperbaiki.” Lalu telepon seketika dimatikan, aku kebingungan, tukang cat. Kepikiran aja, Mas Hadi mau membantu mengecat ruang tamuku, aku kembali mengintip dari gorden yang ada di ruang tamu, benar saja, ada dua orang yang berdiri di depan pagar rumah dan menenteng cat dengan ukuran lumayan besar, “Bu Lastri, ya? Saya disuruh Pak Hadi ke sini, untuk mengecat dan membenahi ruang tamu Ibu.” Aku mengangguk, lalu membuka gerbang, dan mempersilahkan mereka untuk masuk, “Betul, Pak. Saya Lastri, silakan masuk. Motornya dibawa masuk aja juga sekalian, biar aman.” Lalu menunjukkan mereka ruang tamu yang mau dibenahi, “Ini, Pak. Ruang tamunya.” Dan ketika aku sedang menjelaskan ke tukang tadi, mungkin Mas Hadi menelepon mereka, karena salah satunya mengangkat telepon dan bilang, “Iya, Pak. Ini saya udah di dalam rumahnya. Baik, Pak.” Dan setelahnya, mereka mulai bekerja, padahal ini sudah hampir mendekati sore, tadinya aku ingin mereka kerja besok saja, mulai dari pagi, karena ruang tamu ini tidak besar, sebentar juga selesai. Tapi karena mereka sudah kadung masuk, ya, sudahlah aku biarkan saja mereka mengerjakan pekerjaannya. Sementara aku beranjak ke dapur dan membuatkan mereka kopi, lalu membawakan mereka air putih juga untuk minum, “Ini kopinya, Pak. Kalo perlu apa-apa, panggil saja, saya di kamar.” Setelahnya, mereka mengangguk, dan aku menuju ke kamar Jingga, “Nak. Ke kamar Ibu, yuk. Belajarnya di sana aja.” Jingga mengangguk dan membawa buku-buku pelajarannya. Ini hanya untuk antisipasi saja, karena di depan ada dua lelaki dewasa, aku khawatir ada hal-hal yang tidak diinginkan jika Jingga sendirian di kamarnya. Setelah masuk ke kamarku, Jingga langsung melanjutkan belajarnya, sementara aku mengirimkan pesan ke Mas Hadi, “Mas, kenapa kok repot-repot segala sih, pake ngecatin rumah aku.” Tidak berapa lama, balasan pesan dari Mas Hadi masuk, “Biar kamu gak murung lagi segelap ruang tamumu, biar senyummu bisa cerah lagi, seperti ketika pertama aku melihatmu. Aku rindu masa-masa itu, masa kamu gak rindu, sih. Nanti kalo masalah ini sudah selesai, janji loh, ya, kamu mau nemenin aku makan siang. Hanya makan siang, gak lebih. Ya, itung-itung sebagai ucapan terima kasihmu untuk bantuanku.” Tanpa sadar aku tersenyum, “Iya, nanti aku temani. Tapi inget, loh, ya, hanya makan siang. Gak boleh yang lain.” Lalu balasan chat Mas Hadi masuk lagi, “Emang kalo minta yang lebih, gak boleh? Yang lebih itu memangnya apaan tuh?” ya ampun, Mas Hadi, gak bisa dipancing sedikit, langsung nyambung aja omongannya ke arah sana. Aku tidak menjawab lagi pesan Mas Hadi, khawatir malah menjurus kemana-mana obrolannya. Beberapa kali aku menengok ke ruang tamu, tukang yang tadi kerjanya lumayan cepat juga, “Ini selesai jam berapa, Pak?” tanyaku pada mereka, “Mungkin habis magrib, Bu. Paling lambat jam delapan lah, udah selesai.” Aku agak terkejut juga, “Lah, si bapaknya lembur, donk.” Mereka berdua mengangguk, “Kami gak boleh pulang sebelum urusan catnya selesai, Bu.” Jawab salah satu dari mereka. Aku jadi gak enak hati, “Maaf, ya, Pak. Si bapaknya jadi pada lembur gara-gara beresin rumah saya.” Ucapku, “Gak apa-apa, Bu. Kami udah biasa, kalo Pak Hadi yang memerintahkan, kami malah senang, karena kami pasti dapet bonus yang lumayan kalo lembur.” Aku tersenyum, gak heran, uang tidak pernah jadi masalah yang berarti untuk Mas Hadi. Karena mereka ternyata kerja sampai malam, sementara tadi aku hanya masak sayur dan lauk sedikit, akhirnya aku memutuskan untuk membuat nasi goreng, mendadar telur, dan juga menggoreng kerupuk. Lumayan lah, untuk ganjel mereka makan malam nanti.
“Urusan suamimu ini tidak susah, hanya saja karena suamimu dianggap mereka tidak punya kekuatan apa-apa, jadi mereka seenaknya saja menjadikan suamimu kambing hitam.” Pesan dari Mas Hadi masuk, ketika aku sedang mengupas bawang, penasaran dengan isi pesan tersebut, akhirnya aku mencuci tanganku yang sedang kotor karena memasak, lalu membalas pesan Mas Hadi tersebut, “Maksudnya gimana, Mas? Aku gak paham.” Dan pesan selanjutnya benar-benar membautku tercengang, “Jadi, suamimu ini sejak awal memang sudah dibidik sama orang yang mengaku temannya itu untuk dijadikan kurir. Agar suamimu tidak curiga, orang yang mengaku teman suamimu itu ikut ketika sedang mengantarkan barang-barang tersebut. Naasnya, ketika malam itu, ketika suamimu dan temannya itu berangkat dari gudang, mereka memang berdua, tapi teman suamimu itu seperti mencurigai sesuatu, jadi, di tengah perjalanan teman suamimu itu turun lalu menyuruh suamimu untuk meneruskan perjalanan ke tempat yang sudah ditentukan. Nah, di sanalah polisi melihat suamimu dan mengikuti dia sampai ke rumah kalian.” Aku benar-benar geram, kenapa ada manusia jahat seperti itu yang tega-teganya menjerumuskan orang lain, orang yang tidak bersalah ke dalam masalah yang bahkan Mas Subagja tidak tau apa-apa, karena memang dia benar-benar menerima pekerjaan itu hanya sebagai driver. “Tapi sudah aman. Aku sudah membayar orang untuk menyuap kepala polisi yang menangani kasus ini. Kalo masalah begini, memang harus main uang, kalo gak, gak bakal selesai-selesai. Aku juga sudah meminta semua catatan yang berkenaan dengan suamimu dan kasus ini dihapuskan, jadi tunggu saja, kalo gak malam ini, besok pagi suamimu akan dibebaskan dan pulang ke rumah.” Betapa hatiku rasanya seperti akan melompat keluar dari tempatnya mendengar kabar ini, “Terima kasih, Mas. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya.” Aku bisa mendengar Mas Hadi berdehem di ujung sana, “Aku ini cemburu, tau.” Ucapnya yang membuatku mengernyitkan dahi, “Cemburu? Maksudnya cemburu gimana?” dari tadi aku sama dia gak ada ngomong apa-apa kecuali masalah Mas Hadi, kok bisa-bisanya dia bilang dia cemburu. “Setelah suamimu pulang nanti, kalian bisa dengan puasnya tidur bareng. Sementara aku hanya bisa gigit jari.” Aku mengerti arah pembicaraan Mas Hadi, dengan ragu-ragu, aku bertanya ke dia, “Memangnya Mas maunya aku gimana, aku harus melakukan apa?” dia tertawa, “Nah, pertanyaan ini yang aku suka. Besok, kalo suamimu sudah pulang, lusanya kamu pamit sama dia, bilang kalo kamu ada urusan, terserah apa alasanmu, lalu pergi ke terminal Karang, nanti aku jemput di sana. kita nginep tiga hari.” Aku membelalakkan mata, “Mas, tiga hari itu lama loh, masa aku …” belum sempat menyelesaikan ucapanku, Mas Hadi sudah bicara lagi, “Tiga hari itu sebentar kalo dibandingkan dengan uang yang aku keluarkan untuk mengurus kasus suamimu dan mengeluarkannya dari penjara. Jadi, bisa, ya.” kalimat yang terakhir diucapkan Mas Hadi itu bukan pertanyaan atau permintaan persetujuan tapi pernyataan yang jelas-jelas tidak bisa dibantah. Jadi, aku memutuskan untuk meng-iya-kan permintaannya, “Oke, Mas.” Dan kemudian sambungan telepon ditutup. Setengah hatiku bahagia, urusan Mas Subagja selesai, setengah lagi merasa deg-degan karena akan pergi dengan Mas Hadi, di lain sisi juga sedih, karena aku melanggar janjiku sendiri.