Ketika sedang melamunkan dan membayangkan besok, Mas Subagja akan berdiri di depan gerbang, memanggil nama Jingga, membayangkan Jingga akan kembali berangkat ke sekolah dan akan aku jemput, membuatku tersenyum lega, tapi kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar, rupanya Allah masih belum mau melepaskanku dari belenggu permasalahan dan cobaan hidup. Tidak berapa lama dari Mas Hadi menutup teleponnya tadi, ada suara dari handphoneku yang menandakan pesan masuk. Aku memeriksa nomor yang tertera karena pesan ini dari nomor tidak dikenal, karena penasaran aku membuka pesannya, dan isinya sungguh membuatku terkejut, “Selamat malam, saya Intan, sekretaris perusahaan Indah Lexindo, menginformasikan bahwa terhitung mulai besok, tanggal 20 November 2008, pegawai dengan NIP 90098 atas nama Subagja sudah tidak bekerja dan tergabung lagi dengan perusahaan kami, karena sesuatu dan lain hal. Sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja ini, Indah Lexindo sudah mengirimkan uang pesangon untuk Bapak Subagja ke nomor rekening 89039832. Demikian informasi ini saya kirimkan, selamat malam.” Iya, ini dari perusahaan tempat Mas Subagja bekerja, mungkin karena sudah beberapa hari ini Mas Subagja tidak masuk kerja dan tanpa memberitahukan pihak kantor, Mas Subagja di PHK, tapi kenapa tidak di kasih Surat Peringatan dulu, bukannya sebelum dipecat, Mas Subagja bisa diberi Surat Peringatan? Ah … entah apa yang terjadi nanti, sungguh, aku benar-benar bingung dibuatnya. Aku membayangkan bagaimana emosi dan murkanya Mas Subagja ketika mendapat kabar mengenai pemecatan dirinya. Terbayang lagi bagaimana akan kesulitan-kesulitan hidup yang akan kami hadapi ke depannya, “Ya Allah, kenapa masih saja Kau uji aku. Sebanyak itukah dosaku sampai lagi dan lagi Engkau mengujiku, menjerumuskanku ke dalam lembah hitam, dan sekarang Mas Subagja dipecat. Dari mana kami akan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari? Apakah memang jalannya aku harus jadi wanita simpanan Mas Hadi, karena sekarang satu-satunya jalan untuk mendapatkan uang cepat adalah dengan menjalin kembali hubungan dengan Mas Hadi, yang uangnya jelas-jelas tidak berseri, begitukah harusnya aku bertindak, Allah?” kembali aku mencoba bertanya pada Allah kenapa semua harus seperti ini, padahal aku sudah berusaha untuk menjadi manusia yang baik, tapi lagi-lagi Allah pertemukan aku dengan Mas Hadi yang justru hadir dengan menawarkan jalan keluar untukku dan Mas Subagja dari masalah yang sedang kami hadapi. Tidak berapa lama azan isya berkumandang, tubuhku seperti enggan untuk bangun, di kepalaku berputar semua pertanyaan mengenai kehebatan Allah, di kepalaku berputar semua hal tentang betapa Mahakuasanya Allah, tapi untuk urusan sepele seperti ini, aku harus kembali mengalah dan menundukkan kepalaku di depan Mas Hadi, harus kembali menjadi bulan-bulanannya di tempat tidur, sama persis ketika aku masih bekerja di perusahaannya kemarin. Ketika aku berniat untuk tidur saja karena kepalaku benar-benar berat, Jingga menyapaku, "Bu, udah azan isya, Ibu gak salat?” malu juga rasanya ditegur anak kecil ini untuk urusan salat, “Iya, sebentar lagi, Nak. Kepala Ibu masih sakit.” Aku sebenarnya berbohong, aku masih mengumpulkan keinginan dan niatku untuk menjalankan salat. Lalu kemudian aku melihat Jingga keluar dari kamar dan aku bisa mendengarnya masuk ke kamar mandi, maka aku juga bergegas menyusulnya dan bergantian dengan Jingga, setelah dia selesai mengambil air wudu aku kemudian yang masuk ke kamar mandi dan mengambil wudu. Ketika selesai dari kamar mandi, aku melihat ternyata Jingga sudah melaksanakan salat isya sendiri. Setelah selesai salat, aku berdoa, lalu ke depan untuk melihat bagaimana progres pembenahan ruang tamu, ternyata benar, loh, kata tukang cat ini, bahwa maksimal pukul delapan malam pekerjaan mereka sudah selesai, karena ini jam di dinding masih menunjukkan pukul tuju lewat tiga puluh lima menit, mereka sudah mulai melakukan finishing. Karena melihat mereka sepertinya sebentar lagi akan pulang, aku mengambil nasi goreng yang tadi sudah dimasak, lalu menaruhnya ke dalam piring-piring dan diberi ke tukang cat, “Kalo udah selesai nasi gorengnya di makan, Pak.” Mereka hanya mengangguk, “Tanggung, Bu, selesai ini juga kami udah selesai, kok. Ini sedikit lagi makannya nanti aja, biar pekerjaannya selesai.” Aku hanya menganggukkan kepala, terserah mereka deh, yang penting kerjaannya cepet beres, jadi aku bisa lebih cepat istirahat juga, “Ya udah, Pak. Nanti kalo udah selesai panggil saya di kamar, ya.” lalu aku kembali ke kamar dan mengunci pintunya. Kepalaku benar-benar berat, jadi aku hanya bisa memeriksa pekerjaan rumah Jingga sebentar saja, lalu berpesan padanya, “Nak, jangan keluar, ya. Kalo pintu kamar diketuk, bangunin Ibu. Ibu mau tidur sebentar aja, kepala Ibu sakit banget, kamu jangan keluar, dengar, ya, pesan Ibu.” Jingga mengangguk, setelah memastikan semuanya aman, aku memejamkan mataku. Mungkin sekitar setengah jam kemudian, kamarku benar-benar diketuk sama tukang cat, dan aku keluar, “Bu, maaf ganggu, kerjaan kami sudah selesai, nasi gorengnya juga sudah kami makan, piring-piring dan gelas yang kami pakai tadi semuanya sudah kami cuci, silakan dilihat dan diperiksa, Bu, hasil kerja kami, mungkin ada yang masih kurang dan harus diperbaiki.” Aku menganggukkan kepala, lalu berjalan ke arah ruang tamu, melihat cat sudah rapi, rasanya sudah cukup, “Sudah, Pak. Ini sudah rapi kok, gak perlu ada yang harus ditambahkan lagi.” Ucapku pada kedua tukang ini. Setelah mereka membereskan perlengkapan pertukangannya, lalu memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka pamit. Ketika mereka sudah keluar dari gerbang, pintu gerbang buru-buru aku tutup, aku kunci, dan aku berlari masuk ke rumah. Ini malam di mana Mas Hadi sedang membereskan urusan Mas Subagja, aku takut, nanti ada kejadian seperti kemarin lagi atau ada orang lain yang malah jadi mata-mata istri Mas Hadi karena tau Mas Hadi tadi siang ke sini. Dan aku memeriksa sekali lagi kunci pintu depan, jendela, kamar Jingga, dan dapur. Setelah aman, aku menanyakan ke Jingga, dia mau tidur denganku atau tidur di kamarnya sendiri, “Jingga mau tidur di sini sama Ibu atau tidur di kamar Jingga, Nak?” dia ingin tidur di kamarnya. Jadi aku membantu dia untuk memindahkan lagi semua barang-barangnya yang tadi diunjal masuk ke kamarku karena dia mau mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika aku mau pamit kembali ke kamarku, Jingga bertanya, “Bu, Om Hadi itu sebenarnya siapa sih? Kok dia baik banget sama Ibu? Dia orang kaya, ya, Bu?” aku tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Jingga, “Om Hadi itu temannya Ibu, dia memang orang baik, dan juga orang kaya. Tapi nanti, Jingga jangan sebut-sebut Om Hadi di depan Bapak, ya. Nanti Bapak marah.” Mungkin masih ada pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi aku buru-buru keluar, “Tidur, ya, Nak.” Aku kemudian berjalan ke kamarku, tidak berapa lama aku masuk ke dalam kamar, handphoneku berbunyi, pesan dari Mas Hadi masuk, “Ini suamimu, kan?” dia mengirimkan sebuah foto, “Iya, betul itu Mas Subagja, jadi gimana selanjutnya, Mas?” aku mengirimkan pesan balasan, “Ya, seperti rencana semula. Aku bertanya tadi hanya untuk memastikan bahwa benar itu suamimu yang sedang bermasalah.” Aku mengucapkan terima kasih lagi ke Mas Hadi, “Mas, terima kasih sekali lagi atas bantuanmu.” Dan pesan balasan dari Mas Hadi langsung masuk, “Ingat tiga hari, ya.” tidak ada balasan pesan lain yang bisa aku kirimkan kecuali, “Iya, Mas” dan percakapan kami selesai sampai di situ.