Ibu 39

1115 Kata
Aku tidak mau bilang dulu ke Jingga jika hari ini bapaknya akan pulang, aku takut rencana yang sudah dibuat, tiba-tiba jadi berubah dan Mas Subagja tidak jadi pulang, kan kacau. Aku khawatir Jingga sudah bahagia, dia sudah berharap, tapi ternyata harapannya jadi kosong dan Jingga kecewa. Jadi, pagi ini, seperti biasa, aku membuat sarapan untuknya, lalu menyiapkan semua buku pelajaran dan buku tugasnya untuk dia kerjakan, karena sejak sekolah dari rumah, Jingga memang tidak pernah sehari pun tidak belajar atau tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas-tugas yang diberikan Bu Aini, semua hasil pekerjaan rumah dan tugas sekolahnya pun selalu aku foto dan aku kirim ke Bu Aini, agar Jingga tidak ketinggalan menyetor tugas dan tidak ada nilai yang kosong. Setelah Jingga masuk ke kamarnya, jam di dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi, aku mulai bertanya-tanya, apakah Mas Subagja tidak jadi dibebaskan hari ini atau bagaimana, aku masih menunggu dengan harap-harap cemas. Setengah jam lagi berlalu, tepat pukul sepuluh sekarang, dan Mas Subagja masih belum kelihatan batang hidungnya, karena sudah menunggu dari tadi dan tidak sabar melihat Mas Subagja pulang dengan selamat, aku mengambil handphoneku yang ada di kamar lalu mencoba menghubungi Mas Hadi. Dering pertama, kedua, hingga dering kelima tidak disahutinya, lalu aku tutup dulu sebentar telepon tersebut, mungkin Mas Hadi sedang ada pekerjaan penting, sehingga tidak sempat mengangkat telepon dariku. Tapi tidak lama kemudian, handphoneku berdering, “Kenapa, sayang. Udah kangen banget, ya, sama aku. Masih pagi, loh, ini. Atau … oh, iya, aku tau. Kamu mengingat kemarin waktu kita di kantor, di ruanganku dan kita melakukannya pagi-pagi itu, ya, di saat semua orang belum dateng, kamu pasti pengen, kan?” mau tidak mau aku tersenyum ikut mengingat kejadian itu, tapi kemudian tersadar bahwa maksudku menelepon ini bukan untuk bernostalgia dan mengingat-ingat kejadian-kejadian yang lalu, “Mas, apaan ih. Aku nelepon itu karena mau nanyain, Mas Subagja kok belom sampe juga, kemaren kata Mas, hari ini, kan, Mas Subagja dibebaskan?” aku bisa mendengar Mas Hadi tertawa, “Sabar toh. Ini masih jam berapa. Maksimal jam dua belas siang suamimu itu sudah sampai di rumah. Gimana, untuk besok, kamu sudah mempersiapkan diri, kan? Jangan pake alasan apa pun untuk menolak, ya. Aku bisa memasukkan lagi, loh, suamimu itu ke balik jeruji besi kalo kamu gak nurut sama permintaanku.” Aku hanya bisa mengangguk pasrah, padahal anggukanku tersebut jelas-jelas tidak bisa dilihat oleh Mas Hadi, karena tersadar begitu aku langsung menyahuti ucapannya, “Iya, Mas.” Dan setelah bicara seperti itu, Mas Hadi memastikan bahwa sebentar lagi Mas Subagja pulang, “Tunggu aja. Kalo maksimal jam dua belas siang suamimu belum pulang, kamu telepon aku lagi, nanti aku yang urus. Oh, iya. Tukang cat kemarin udah beres pekerjaannya, mereka kerjanya bagus, kan?” lagi-lagi aku hanya bisa menjawab, “Bagus, Mas. Sudah beres semua.” Karena sebenarnya aku sudah tidak fokus, “Mas, kalo besok ketahuan sama istrimu lagi, gimana? Nanti kalo anakku lagi yang jadi korban, bagaimana? Aku gak mau, loh, sampai Jingga diculik lagi sama istrimu, karena kemarin kan aku sudah berjanji tidak akan lagi menemuimu atau menjalin hubungan denganmu.” Pikiran itu juga sejak semalam menggangguku, “Gak usah takut, aku sudah punya senjata untuk membuatnya tunduk kepadaku. Kamu tenang aja, sekarang kita mau ketemu seberapa sering pun, kita mau nginep seberapa lama pun, walaupun istriku tau, dia gak akan pernah mengganggu kamu atau anakmu.” Aku hanya bisa diam dan tidak menyahuti lagi. Setelahnya Mas Hadi mematikan telepon, “Ya sudah, aku ada kerjaan, nanti kita sambung lagi, ya. Hari ini kamu gak boleh capek-capek, karena besok kamu akan kerja keras banget, keras banget banget, jadi siapkan tenagamu. Paham?” setelah Mas Hadi menutup teleponnya, aku kembali keluar dari kamar dan beranjak ke ruang tamu, sambil tidak berhenti menatap gerbang, kepulangan Mas Subagja ini bukan aku yang sangat menantikan tapi Jingga, aku ingin melihat lagi senyuman dan wajah cerianya ketika melihat bapaknya yang dia bangga-banggakan, bapaknya yang selalu dia ajak cerita, dan jika Mas Subagja sudah pulang otomatis Jingga bisa kembali ke sekolah seperti biasa. Karena lamunanku yang jauh, aku sampai tidak mendengar jika Jingga memanggilku sejak tadi, setelah dipegang tanganku oleh Jingga, aku baru bisa tau kalo dia ada di sebelahku, “Ibu, kenapa melamun? Belakangan ini Ibu sering banget melamun, mikirin Bapak, ya, Bu?” aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk, “Jingga kenapa, Nak? Ada tugasnya yang yang Jingga gak paham?” dia mengangguk, lalu memberikan buku pelajarannya dan menunjukkan di bagian mana yang dia tidak paham. Setelah membaca soalnya, aku mencoba menerangkan sedetail mungkin ke Jingga, mencoba untuk menerangkan sepelan dan serinci mungkin agar jika dia ketemu lagi sama soal yang seperti ini dia sudah bisa mengerjakan sendiri. Setelah mengerti mengerjakan tugas tersebut, Jingga bangkit dari duduknya, sebelum pergi ke kamarnya dia bertanya kepadaku, “Bu, Ibu gak masak, ya, hari ini? Jingga pengen banget makan sop ayam. Kalo gak ada ayamnya, sopnya aja juga gak apa-apa, Bu. Jingga kangen makan sop buatan Ibu.” Aku mengangguk, “Nanti Ibu masakkan, ya, Nak.” Dengan wajah cerahnya dia mengangguk dan berjalan seperti melompat balik ke kamarnya. Iya, sesederhana itu keinginan Jingga. Maka, daripada aku menunggu Mas Subagja yang belum juga datang, aku ke dapur untuk memasak makanan kesukaan Jingga, sop ayam. Untuk aku masih punya sisa ayam di kulkas, walaupun tidak banyak lagi, tapi cukup untuk sekedar masak sop ayam hari ini, demi memenuhi keinginan Jingga. Aku mulai mengupas kentang, merebus ayamnya terlebih dahulu, lalu mengupas bawang dan menyiapkan bumbu-bumbu juga keperluan untuk memasak sop ini, sambil sekalian aku menyeduh kopi hitam untukku. Sakit kepala sejak kemarin tidak hilang-hilang, biasanya jika sudah minum kopi, sakit kepalaku akan reda. Saat sedang menyeduh kopi, di gerbang terdengar seseorang memanggil namaku dan Jingga, “Bu Lastri, Bu Lastri. Jingga, ada orang gak di rumah?” itu suara Mas Subagja, Jingga dengan tiba-tiba sudah keluar dari kamarnya dan menghampiriku di dapur, “Ibu, itu Bapak, itu Bapak, Bu. Hayok buka pintunya, Bu. Bapak pulang, Bapak sudah pulang.” Jingga menjerit kesenangan, dia tidak pernah sekuat ini menjerit saking bahagianya, maka aku bergegas mematikan kompor, lalu berjalan cepat ke arah ruang tamu, mengambil gembok gerbang, dan mengejar Jingga yang sudah berlari duluan ke gerbang, “Bapak, Bapak pulang, Bapak pulang.” Kuat sekali suaranya, aku sampai keheranan. Beberapa tetangga ada yang melihat kami dan tersenyum, mungkin mereka ikut senang juga karena Mas Subagja sudah pulang. Setelah membuka gembok gerbang, Jingga adalah orang pertama yang dipeluk Mas Subagja, “Bapak kangen banget sama Jingga, Nak.” Mereka berpelukan, lama sekali. Terlihat air mata keduanya mengalir indah karena pertemuan ini, setelahnya, Mas Subagja menghampiriku dan memelukku, “Kamu sehat-sehat kan, Bu?” aku mengangguk dan tanpa terasa air mataku juga turun, air mata haru.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN