Ibu 40

1100 Kata
Kami masuk ke dalam rumah dalam kondisi saling memeluk satu sama lain, Jingga yang digendong sama Mas Subagja dan aku yang dipeluk Mas Subagja, “Bapak kangen banget sama Jingga, Bapak juga kangen banget sama Ibu.” Ketika sampai di dalam rumah, Mas Subagja langsung duduk di ruang makan tempat dia duduk selama ini, “Ya ampun, baru tiga hari padahal, tapi Bapak rupanya kamgen juga duduk di kursi ini. Ibu masak apa, aromanya harum banget.” Jingga yang sedang bahagia, menyahuti, “Ibu masak sop, Pak. Itu makanan kesukaan Bapak, kan. Padahal tadi Jingga gak tau kalo Bapak mau pulang tapi gak tau kenapa hari ini Jingga pengen banget makan sop ayam, jadi tadi Jingga bilang ke Ibu untuk dimasakkan sopnya. Masaknya yang banyak, ya, Bu. Biar aku dan Bapak bisa makan banyak.” Aku yang mendengar hal tersebut langsung memasang wajah manyun, semenit, dua menit, tiga menit, sampai menit kelima kami duduk di ruang tamu sambil ngobrol, rupanya Jingga memperhatikanku, “Ibu kenapa, kk wajahnya ditekuk, padahal ucapanku tadi itu benar-benar hanya isapan jempolku sendiri. Aku mencoba menjawab pertanyaan Jingga, “Jingga tadi bilang masak sopnya yang banyak biar Jingga dan Bapak bisa makan yang banyak, terus kalo sop itu dihabiskan hanya untuk Jingga sama Bapak, ibu makan apa?” Jingga memekik sambil menutup mulutnya, “Maaf, Ibu, maaf. Maksud aku kita bertiga makan enak.” Aku kemudian ketawa melihat wajah dan ekspresinya yang lucu, “Iya-iya, Ibu paham, kok. Ibu tadi hanya becandain Jingga aja. Pekerjaan rumah Jingga udah selesai atau belum, kalo belum dikerjakan dulu, gih. Biar Ibu meneruskan masak, dan biar Bapak bebersih dulu. Setelah mandi, sayur sopnya mateng, baru deh kita makan di sini bareng-bareng, ya.” Jingga sepertinya enggan untuk beranjak, tapi kemudian Mas Subagja yang menuntunnya ke kamar, “Ayo, donk. Anak Bapak yang dari tadi terdengar bahagia baget dan suaranya nyaring banget. Untuk meneruskan ngobrol dan menyantap makan siang kita, Ibu harus beresin masakannya, nanti kalo masakannya gak beres-beres kita gak bisa nikmatin sayur sop buatan Ibu, kan? Jadi sekarang, Jingga beresin tugas sekolahnya dan Bapak mau mandi, dulu, ya.” dengan terpaksa akhirnya Jingga mengalah, mau tidak mau dia menuruti ucapan bapaknya. Setelah Jingga anteng di kamar, Mas Subagja kembali ke dapur, dia memelukku dari belakang, “Aku kangen banget sama kamu, nanti malam kita ngobrol, ya. Oh, iya, Bu, kamu kenal sama yang namanya Hadiantoro? Pak Trisno itu bilang kalo pembebasanku dari jeruji besi dijamin sama dia. Aku gak kenal siapa Hadiantoro, apa kamu kenal?” deg, hatiku terkejut ketika Mas Subagja menyebut nama itu, aku bingung bagaimana harus menjelaskannya, karena selama ini Mas Subagja tidak pernah tau mengenai Mas Hadi, “Itu teman sekolahku dulu. Kemarin aku bertemu dengannya, kebetulan dia sedang mencari rumah saudaranya di sekitar sini, dan bertemu denganku. Kami bertukar cerita, sebetulnya aku tidak ada niat meminta bantuannya, hanya saja rupanya dia adalah orang baik yang dikirimkan Allah buat kita. Dia berjanji akan membebaskanmu dan juga, rupanya dia kenal, ehm … bukan, Hadiantoro itu pernah berhubungan juga dengan Pak Trisno itu, jadi dia bisa dengan cepat menghubunginya. Pak Trisno itu, hanya baik di depan, ternyata dalang di balik ditahannya kamu itu ya, dia, Pak.” Mas Subagja menganggukkan kepalanya, “Iya, aku sudah tau. Tadi sebelum pulang, begitu keluar dari kantor polisi aku dijemput sama Hadiantoro itu, rupanya betul, kalian tidak berbohong. Dia juga bilang kamu adalah teman sekolahnya. Aku sudah berpikiran jelek sama dia, aku pikir dia lelaki yang kemarin selingkuh sama kamu, ternyata hanya orang baik yang kebetulan hadir di kehidupan kita.” Jantungku benar-benar dibuat tidak karuan detaknya, untung banget Mas Hadi bilang kami teman sekolah, sungguh kebohongan yang sangat tidak direncanakan. Beruntung semua masih ditutupi sama Allah, bayangkan kalo apa yang diucapkan oleh Mas Hadi berbeda dengan yang aku ucapkan, bisa-bisa terjadi keributan besar hari ini. Setelah ngobrol sebentar, Mas Subagja langsung masuk ke kamar, tidak berapa lama keluar lagi membawa handuk dan baju salinnya, “Badanku lengket banget, Bu. Capek bener, nanti malam pijitin, ya, sekalian nanti aku pijat balik, terus …” Mas Subagja mengerling ke arahku. Aku sudah mengerti sekali ke mana arah ucapannya. Ya, wajar saja, Mas Subagja termasuk lelaki yang aktif untuk berhubungan denganku, jadi kalo tiga hari dia tidak menyalurkannya, maka dia akan sangat semaput. Jadi aku hanya tersenyum menanggapinya, “Atau, kita mau sekalian kasih adek aja untuk Jingga, Bu?” aku menggeleng keras, “Ngaco kamu. Punya anak satu aja masih kewalahan ngurusnya, apalagi nambah. Udah, ah, mandi sana. aku mau beresin ini masakan, nanti gak siap-siap, gak mateng-mateng.” Dan Mas Subagja bergegas ke kamar mandi, aku pun langsung meneruskan acara masak memasakku. Sekitar setengah jam kemudian, Jingga sudah keluar dari kamar, Mas Subagja juga sudah selesai mandi, kedua orang ini sudah duduk rapi di dapur untuk menunggu saatnya menyantap makan siang, masakan yang aku buat khusus atas permintaan Jingga. Kami menghabiskan siang ini dengan ngobrol, mendengarkan Jingga bercerita, sih, lebih tepatnya. Aku dan Mas Subagja hanya menjadi pendengar setiap atas setiap celotehannya. Selesai makan, Mas Subagja pamit untuk tidur siang, jadi aku memutuskan untuk membereskan piring-piring kotor bekas makan siang kami ini. Sambil mencuci piring, gelas, dan semua peralatan dapur yang kotor, aku masih memikirkan gimana caranya aku minta izin ke Mas Subagja untuk pergi beberapa hari dengan Mas Hadi, masa iya, aku bilang aku ada acara di luar kota dengan teman-temanku, maksudnya, ya, aku memang sudah tidak punya teman lagi sejak jatuh miskin. Mau kasih alasan nyekar ke makam Bapak dan Ibu rasanya kok terlalu mengada-ada, mau bilang ada acara reuni, takutnya Mas Subagja curiga aku pergi dengan Mas Hadi, lalu dia memata-matai kami, dan akhirnya ketahuan dan terbongkar semua rencana aku dan Mas Hadi. Karena melamun aku jadi tidak tau bahwa Mas Subagja sudah berdiri di belakangku sambil memelukku, aku memekik terkejut, “Ih, Mas. Bikin aku kaget aja.” Begitu ucapku, tapi Mas Subagja tidak hanya sekedar memelukku, tangannya sudah bergerilya ke seluk lekuk tubuhku, “Aku gak bisa tahan sampe malam, Bu. Sekarang, yuk. Jingga juga kan lagi tidur siang, hayok donk, Bu.” Dan dia terus menciumi tengkukku, bagian paling sensitif dari tubuhku, aku hampir kehilangan keseimbangan dan merosot ke bawah, aku mencoba mengambil napas sambil terengah, “Aku selesaikan cucian piring ini dulu, ya, nanti …” terlambat, Mas Subagja sudah memagut bibirku, dia sudah meloloskan pakaianku yang di bagian atas, di antara deru napas kami yang berpacu, aku mencoba bicara, “Mas, jangan di sini, nanti Jingga lihat.” Maka dengan segera dia membawaku menuju kamar, tanpa melepaskan penyatuan kami, “Kamu wangi hari ini. Ini semua untuk menyambutku, ya, kan? jujur aja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN