Ibu 41

1150 Kata
Entah sudah ke yang berapa kali suara demi suara Mas Subagja teriakkan di sela-sela penyatuan kami, beberapa kali juga kami harus menutup mulut kami agar tidak memancing Jingga datang atau membuatnya penasaran dengan suara-suara yang kami buat. Mas Subagja baru melepaskanku ketika tarhim di masjid sudah terdengar dan suara pintu kamar Jingga yang terbuka, “Mas, udah mau magrib, lampu depan belum aku idupin, itu kamar Jingga juga udah dibuka, sepertinya dia sudah bangun tidur.” Mas Subagja hanya dia, tidak ada reaksi apa-apa, hanya saja aku yang tadinya berada di bawah kendali rengkuhan tubuhnya, kini sudah dia lepaskan, menandakan dia sudah selesai, dan aku sudah bisa keluar. Ketika keluar dari kamar, Jingga sudah berada di depan pintu, mungkin dia ingin ngobrol atau sekedar melihat bapaknya, tapi aku melarangnya, “Sstt … nanti aja, ya, Nak. Sekarang Bapak masih tidur, mungkin sepuluh menit lagi juga Bapak bangun, jangan diganggu dulu, ya, bapaknya biar istirahat.” Padahal itu hanya alasanku saja agar Jingga tidak masuk ke dalam kamar, keadaan di dalam yang sesungguhnya adalah, Mas Subagja hanya memakai selimut sebagai alat penutup tubuhnya, bisa kacau kalo Jingga melihatnya. Setelah mengangguk setuju, Jingga mengikutiku ke dapur, “Bu, besok Jingga udah bisa masuk ke sekolah, kan? Ibu tanyain, ya, ke Bu Aini, Jingga udah bisa masuk sekolah apa belum.” Aku menganggukkan kepalaku, “Iya, Jingga udah bisa berangkat ke sekolah, besok. Tadi Ibu udah tanya-tanya ke Bu Aini, dan Bu Aini udah nungguin Jingga dari kemarin-kemarin, jadi besok bangunnga pagi, ya, seperti biasa kita bakal berangkat ke sekolah.” Ada binar wajah bahagia tergambar di wajah Jingga, aku tau, dia sudah rindu dengan sekolahnya, rindu bermain dengan teman-temannya. Ketika aku sedang ngobrol santai dengan Jingga, Mas Subagja keluar, “Wah, lagi pada ngobrolin apa, sih, anak Bapak sama Ibu ini? Oh … iya, gimana sekolahnya, Nak. Ada kabar apa, udah ulangan apa belum? Bapak ini, gak pulang ke rumah cuma tiga hari, tapi rasanya kok seperti berbulan-bulan. Ini tuh karena Bapak rindu banget sama Jingga, sama Ibu.” Dan dengan lancarnya Jingga bercerita bahwa tadinya dia sudah merencanakan akan belajar kelompok bareng dengan teman-teman di sekolahnya, tapi kemudian dia harus belajar di rumah, “Loh, memangnya kenapa Jingga harus belajar di rumah?” Jingga menggedikkan bahunya, “Gak tau, Pak. Tapi kata Ibu, sementara Bapak belum pulang, Jingga bakal belajar di rumah, nah, besok, Jingga baru bisa, nih, balik belajar di sekolah lagi, ya, kan, Bu?” aku mengangguk, Mas Subagja rupanya penasaran, “Memangnya ada apa, Bu?” aku menarik napas berat, “Nanti aku ceritakan, Pak.” Dan untung saja Mas Subagja tidak meneruskan pertanyaannya demi memenuhi rasa penasaran dia, lalu melanjutkan mendengarkan cerita Jingga. * Mas Subagja mencecarku untuk menceritakan ada kejadian apa saja yang terjadi ketika dia dijemput paksa tiga hari yang lalu, jadi aku menceritakan setiap detail kejadiannya, dari aku yang tidak boleh masuk ke dalam untuk menunggu dia, dari Pak Trisno yang bilang bahwa Mas Subagja berat hukumannya karena sudah terbukti terlibat, sampai kejadian rumah yang dilempar botol berisi minyak dan menimbulkan api, “Kalo Mas liat, cat ruang tamu kita itu baru. Karena temanku yang kemarin datang tepat ketika rumah kita temboknya hampir semuanya gosong.” Mas Subagja terlihat geram, “Dasar mereka itu manusia jahat. Aku tidak tau kalo temanku itu benar-benar segitu jahatnya sama aku, aku polos saja menerima semua informasi dari dia, sebelum dimasukkan ke ruang interogasi temanku itu yang memintaku untuk bilang ini, bilang itu, sampaikan ini, sampaikan itu, seolah-olah dia mau membantuku, tapi ternyata semua itu justru membuatku semakin terpuruk, semua bukti justru mengarah kepadaku dan memberatkanku sementara dia bisa bebas hanya sebagai wajib lapor saja setiap hari.” Mas Subagja benar-benar terlihat sedih menerima kenyataan ini, dia memelukku, “Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Mulai saat ini aku hanya akan fokus kerja saja, tidak akan mencari pekerjaan sampingan seperti kemarin, tidak akan lagi aku membahayakan kamu dan Jingga, maafkan aku, Bu. Tolong terima maafku, mulai saat ini, aku akan berusaha banget untuk menjaga dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan dan berbuat sesuatu. Maafkan aku karena selalu menempatkanmu dan Jingga dalam posisi sulit, sekolah Jingga juga hampir terbengkalai, untung kamu sabar menghadapi ini, untung sekolah Jingga juga memberikan keleluasaan dan keringanan agar dia bisa sekolah dan mengerjakan semua tugas sekolah dan pekerjaan rumahnya dari rumah, kalo tidak, mungkin masa depan Jingga juga ikut dipertaruhkan.” Aku hanya mengangguk, bingung memulai bagaimana untuk mengabarkan bahwa Mas Subagja sudah dipecat dari kantornya, jadi aku mengambil jeda sebentar untuk membiarkan Mas Subagja tenang dulu, sebelum aku memberikan informasi mengenai kantor dan pekerjaannya, juga uang pesangon yang sudah ditransfer ke rekeningku, kami saling berpelukan dan sibuk dengan pikiran di kepala kami masing-masing. Ada mungkin sepuluh menit berlalu dalam keadaan begini, Mas Subagja menyusut hidungnya, dan menanyakan ada berita apa lagi selama dia berada di dalam jeruji besi, “Lalu, apa lagi yang harus aku ketahui, berita apa lagi yang menghampiri rumah ini ketika aku tidak ada di sini, Bu?” aku menunduk, diam, mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Di rekeningku masuk uang banyak dari kantormu, awalnya aku bingung itu uang apa, tapi tidak lama kemudian masuk pesan dari sekretaris bosmu, bunyi pesannya seperti ini,” aku membuka pesan kemarin yang dikirimkan kepadaku perihal pemecatan Mas Subagja, “GILA! Aku dipecat? Mereka tidak tau duduk masalahnya apa, tapi mereka dengan sepihak memecatku, ini tidak bisa dibiarkan.” Lalu Mas Subagja memukul dinding yang ada di kamar, mengambil handphonenya, dan menelepon seseorang, aku menutup telingaku, suara Mas Subagja benar-benar seperti geledek, menggelegar, “Kalian memecatku secara sepihak, kalian kan tidak tau masalah yang sebenarnya. Harusnya kalian lebih bisa mempercayaiku ketimbang percaya dengan informasi yang diberikan oleh orang yang bahkan kalian tidak kenal!” dan entah apa yang diucapkan orang yang berada di ujung sana, Mas Subagja meradang. Tidak berapa lama Mas Subagja menutup teleponnya dan tersungkur di kakiku, “Bagaimana kehidupan kita nanti, Bu? Bagaimana kalian bisa makan, bagaimana aku bisa membayar sekolah Jingga dan memenuhi kebutuhan hidup kalian, bagaimana, Bu? Aku sudah gagal jadi orang baik, sekarang aku juga gagal jadi bapak dan suami.” Aku mencoba untuk menenangkannya, “Pak, aku kan masih ada usaha rolade, nanti Bapak bantu aku untuk mengantar-antarkan saja ke rumah yang pesan. Insyaallah kalo kita bergerak terus, akan ada aja rezekinya.” Mas Subagja meremas rambutnya, dia marah. “Besok, aku mau bantu-bantu di rumah temanku, dia ada acara tiga hari tiga malam di Kota Agung, boleh, ya, Pak. Bayarannya lumayan buat kita nyambung napas.” Mas Subagja tidak menjawab, “Harusnya kamu tidak perlu sampai sebegitunya, Bu.” Aku mengangguk, “Iya, aku tau. Tapi posisi kita sekarang tidak memberi kita banyak pilihan, ini yang ada di depan mata sekarang, maka ini saja dulu yang kita jalani. Boleh, ya, Pak.” Dengan lesu dan pelan, Mas Subagja mengangguk, “Kalo itu yang menurutmu terbaik, aku bisa berbuat apa. Jaga dirimu, ya, Bu.” Aku mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN