Ibu 42

1100 Kata
Bagaimana pun ceritanya, sungkan tidak sungkan aku terpaksa harus menyampaikan ke Mas Hadi kalo aku meminta uang sebagai imbalan dia yang akan menikmati tubuhku, jadi tadi, setelah selesai kami makan malam, curi-curi dari Mas Subagja, aku mengirimkan pesan kepadanya, “Besok jangan terlambat, ya. Nanti aku ketahuan kalo pergi sama kamu, Mas.” Tidak sampai itungan menit, pesanku langsung dibalas sama Mas Hadi, “Siap, sayang. Berarti kamu udah dapat izin, ya, untuk pergi sama aku. Kamu pakai alasan apa untuk pergi dan menginap denganku?” sebenarnya aku tidak mau banyak menceritakan apa-apa, aku khawatir semua ceritaku suatu saat nanti akan jadi bumerang untukku, jadi aku hanya menjawab, “Rahasia. Pokoknya, besok jangan telat jemput aku. Dan satu lagi, ada sesuatu yang aku minta dari Mas,” dan Mas Hadi kembali membalas pesanku, “Mau minta apa, sih, sayang? Uang? Beres itu mah, mau berapa?” bagus, untung dia langsung mengerti, jadi aku tidak perlu pusing-pusing mencari alasan dan banyak bicara, “Karena kamu memintaku tiga hari untuk menemaniku, aku minta per harinya uang sebesar delapan juta rupiah, sebelum aku berangkat besok, uangnya sudah harus ditransfer dan ada di rekeningku.” Begitu pesan yang aku sampaikan ke Mas Hadi, tidak berapa lama, Mas Hadi mengirimkan gambar, “Nih, sudah aku transfer, satu hari sepuluh juta, tiga hari tiga puluh juta. Cukup?” aku gemetar, karena masih sore, aku pamit ke Mas Subagja untuk ke ATM sebentar, untuk mengecek apa benar ada uang sebanyak itu di rekeningku. Dan sesampainya di ATM aku seperti disengat listrik, benar, ada uang tiga puluh lima juta seratus ribu rupiah, kalo yang seratus ribu tidak perlu ditanya dari siapa, itu adalah sisa uang yang memang ada di rekening tabunganku, lima juta adalah uang pesangon Mas Subagja. Maka tanpa pikir panjang, aku ambil uang satu juta, lalu aku berangkat melajukan motorku ke arah mini market kecil yang ada di tidak jauh dari rumahku, semua keperluan rumah yang tidak ada di Mpok Leha aku beli di situ, setelah selesai, masih ada sisa uang empat ratus lima puluh ribu, lalu aku kembali melajukan motorku ke arah rumah, dan berhenti di warung Mpok Leha, lalu belanja semua kebutuhan sayur, ayam, dan lainnya, “Mpok Leha yang baik hati, aku mau belanja, donk, Mpok. Ayam satu ekor, sop-sopan dua bungkus, telor dua kilo, beras lima kilo, terus jajanan Jingga dua puluh ribu, campur, Mpok.” Dengan wajah yang sumringah, Mpok Leha mengambil satu per satu pesananku tadi, “Ini mau ada acara apa, mamanya Jingga?” aku menggelengkan kepala, “Gak ada acara apa-apa, Mpok Leha, besok saya mau bantu-bantu di rumah temen selama tiga hari.” Mpok Leha terlihat manggut-manggut, “Oh iya, bapaknya Jingga udah di rumah, ya, ibunya Jingga?” aku mengangguk, “Iya, Mpok. Tadi siang deket zuhur udah sampe, udah pulang ke rumah. Makasih bantuannya selama ini, ya, Mpok.” Mpok Leha mengangguk, “Lah, itu mah wajar. Sesama manusia kan memang harus saling bantu, kan?” aku mengangguk. setelah mentotal semua belanjaan yang aku beli tadi, aku membayarkan semua, “Wah, sekarang udah jarang kas bon lagi, nih. Buku bon gue berkurang penghuni namanya.” Diiringi gelak tawa Mpok Leha, “Ya, kebetulan ada uang, Mpok. Tapi nanti kalo saya gak ada uang, saya boleh kas bon lagi, kan?” dia menganggukkan kepala dengan antusias, “Ya, boleh banget lah.” Dan begitu semua belanjaan sudah berada di tanganku, aku langsung tancap gas untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku bisa melihat Mas Subagja duduk di teras depan dengan wajah murung, dia bertanya apa saja yang aku beli kok banyak banget, “Itu kamu beli apa, sih. Kok banyak amat, itu pake uang pesangonku, ya?” aku menggelengkan kepalaku, “Gak lah, uang pesangonmu ada, lengkap, gak berkurang sedikit pun. Aku belanja ini dari uang upahku yang udah dibayarkan oleh temanku di muka, semua belanjaan ini aku beli untuk nyiapin masakan kamu dan Jingga selama tiga hari ke depan, jadi kalian tinggal ngangetin aja di kompor, gak perlu susah-susah dan kelelahan memasak.” Dia hanya diam, “Ambilkan uang pesangonku, empat juta, aku mau coba untuk usaha lagi. Yang satu juta kamu pegang dulu, tolong bertahan dulu untuk sementara ini.” Aku menarik napas panjang, “Mau usaha apa, Mas? Jangan terlalu cepat mengambil keputusan, Mas, coba dipikir aja dulu mateng-mateng, nanti seperti yang kemarin, kita terjebak dalam investasi bodong, nanti kita …” tidak sempat aku meneruskan ucapanku, Mas Subagja sudah teriak, “ITU UANGKU, HASIL JERIH PAYAHKU BEKERJA. Jadi jangan membantah ucapanku, sekarang bawa sini kartu ATM-mu biar aku ambil sendiri, kalo kamu memang gak mau ngambilin.” Aku buru-buru menggeleng, bisa kacau kalo Mas Subagja tau di ATM-ku ada banyak uang. Maka dengan mengalah, aku mengikuti kemauannya, “Aku taro belanjaanku dulu di dalam, nanti aku ke ATM lagi.” Mas Subagja kembali ke sifat asalnya, kemaruk sama yang namanya uang, janjinya kemarin mau menyerahkan semua gaji dan uangnya untukku dia langgar. Aku tidak mau ambil pusing, toh aku juga ada uang, kalo memang Mas Subagja berulah lagi, aku tinggal pergi saja membawa Jingga. Setelahnya, aku kembali melajukan motorku ke ATM dekat gang rumah ini, untung saja tidak terlalu jauh, padahal ini sudah hampir jam sembilan malam. Setelah uang di tanganku, aku mencari Mas Subagja yang ternyata sudah ada di dalam kamar, “Ini uangnya, Mas.” Dia menerima uang tersebut, menyimpannya di dalam dompet, lalu menaruhnya di dalam laci yang ada di sebelah tempat tidurnya. Dan akhirnya mala mini aku dan Mas Subagja tidur dalam keadaan menderita, Mas Subagja yang menderita karena harus menghadapi kenyataan pahit karena di paksa berhenti bekerja dari perusahaannya, aku yang menderita karena besok harus menyerahkan diri pada Mas Hadi, mau tidak mau harus diakui, Mas Hadi adalah sumber uang cepatku sekarang, juga sumber uang yang bisa memberikan uang banyak dalam waktu singkat, “Ini, kan, yang Kau mau, Allah? Membiarkan hamba-Mu dalam keadaan susah, miskin, dan terjerembab lagi ke dalam lubang kenistaan.” Tanyaku dalam hati kepada Allah, Tuhan pemilik semesta alam. Kepalaku mulai berdenyut, aku mengalah untuk memejamkan mataku, mempersiapkan tenaga dan mentalku untuk bertemu dengan Mas Hadi dan menghabiskan waktuku selama tiga hari tiga malam bersamanya. Seharian saja kemarin aku kewalahan, bayangan akan lelahnya besok membuatku hampir mengurungkan niatku. Tadinya aku berniat untuk menghapus dan memblokir nama Mas Hadi dalam handphoneku dan menghilangkan jejak setelah Mas Hadi mengirimkan uangnya, tapi kemudian aku teringat kalo Mas Hadi tau rumahku, bisa berabe dan kacau rencana yang sudah aku susun kalo dia sampe mencariku ke rumah dan bertemu dengan Mas Subagja, maka dengan terpaksa aku harus meneruskan rencana ini, suka tidak suka dan mau tidak mau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN