Ibu 43

1030 Kata
Jam di dinding menunjukkan angka pukul setengah tiga subuh, aku terbangun dari tidurku dan mulai menyiapkan semua kebutuhan untuk aku memasak. Kenapa masak subuh-subuh seperti ini, karena aku janjian sama Mas Hadi sekitar pukul sepuluh nanti, kalo tidak masak sekarang, maka bekal masakan yang akan aku tinggalkan untuk Jingga dan Mas Subagja tidak akan selesai tepat pada waktunya. Karena ada beberapa menu yang akan aku masak untuk tiga hari kepergianku, aku harus bergerak cepat, bahan-bahan untuk sayur sop, ayam, santan, dan semua bumbu-bumbu sudah aku giling semalam, jadi sekarang hanya tinggal memasak semuanya, aku tidak perlu memotong-motong lagi, karena sejak semalam sudah aku masukkan ke wadah masing-masing. Ketika azan subuh berkumandang, yang ada di atas komporku tinggal sayur santan ayam yang masih dalam proses dimasak dan juga balado terong yang tinggal sedikit lagi matang. Jadi aku memutuskan untuk ke kamar mandi untuk mengambil wudu dan bersiap-siap salat subuh, setelah selesai aku ke kamar Jingga membangunkannya untuk salat subuh, lalu ke dapur lagi untuk mematikan dulu komporku sementara karena aku mau salat, dan bergegas ke kamar untuk membangunkan Mas Subagja, “Mas, sudah azan subuh, ayo bangun, salat subuh, Mas.” Bukan jawaban atau ucapan yang menyenangkan yang aku dapatkan, justru tangan Mas Subagja yang menepis tanganku, “Halah, gak usah rajin-rajin banget salat, susah mah susah aja. Kalo Allah mau kasih rezeki, salat gak salat uang dateng mah dateng aja.” Ucapan Mas Subagja membuatku terkejut, kenapa Mas Subagja jadi seperti ini, apakah dia seperti ini karena dipecat dari pekerjaannya atau karena dia marah padaku soalnya aku mau pergi selama tiga hari. Ah … sudahlah, biarkan saja dia mau apa, aku jadi bingung, semua rasanya aku pikir sendiri, aku harus merelakan diriku untuk bertemu dan ikut semua kemauan Mas Hadi juga karena ulah Mas Subagja yang bertindak tidak hati-hati sampai aku harus ikut terseret. Dia tidak memikirkan nasib anak dan istrinya. Baru sehari dia keluar dari balik jeruji besi, bukannya baik-baik sama kami ini yang ada di rumah, dia malah melakukan hal seperti ini. Aku melakukan takbir pertama untuk salat subuh, khusyuk, dan air mataku menetes, jengkel, kesal, dan sesak hatiku seolah bisa aku tuangkan semua di hamparan sajadah ini. Semua masakan dan makanan sudah selesai aku masak, sayur sop sudah aku masukkan ke dalam panci, balado terong, semur telor, ayam ungkep yang nanti jika mereka berdua, Mas Subagja dan Jingga mau makan bisa tinggal goreng, aku juga membuat santan ayam. Setelah selesai dan semua masakan dalam kondisi dingin, aku memasukkan masing-masing masakah tersebut ke plastik setengah kiloan dan satu kiloan, tergantung seberapa banyak sayur dan lauk yang mau aku bungkus. Tidak lama, ketika aku hampir selesai membungkus makanan ini, Jingga keluar dari kamar, “Ibu, betul Ibu mau nginep di rumah temen Ibu? Tiga hari, ya, Bu, kok lama banget, Bu?” Jingga merajuk, aku yang sudah selesai membungkus semuanya, aku memeluknya, “Sini, anak Ibu yang baik hati, soleha, tidak pernah bikin Ibu susah. Ibu menginap di rumah temen Ibu itu karena dia butuh orang untuk membantunya masak-masak karena ada acara di rumahnya, Ibu juga dapet bayaran dari sana, nantikan uangnya bisa untuk bayar uang sekolah Jingga, bisa untuk uang jajan Jingga. Tiga hari itu sebentar, kok. Jingga jangan sedih, ya.” walaupun aku bisa melihat wajahnya yang sedih, Jingga tetap mengangguk, “Ibu buatkan sarapan, ya. Jingga mau sarapan apa hari ini, Nak?” dia mengangguk, “Jingga mau minum s**u aja, Bu, sama roti.” Setelahnya aku langsung bangun dan meminta Jingga untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah, “Ibu siapin sarapan Jingga, sekarang Jingga siap-siap untuk sekolah, ya.” dan lagi-lagi Jingga hanya mengangguk. Sekitar lima belas menit kemudian aku dan Jingga sudah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah nganterin Jingga, aku ke kamar untuk pamit ke Mas Subagja yang sampai sekarang belum juga bangun dari tidurnya, “Mas, aku sama Jingga mau ke sekolah. Gerbang aku kunci, ya. Di meja sudah ada kopi sama roti.” Tidak ada jawaban dari Mas Subagja hanya suara gak jelas yang dia keluarkan dari mulutnya, “Hemm …” Sepulang aku dari mengantarkan Jingga ke sekolah, aku bisa melihat Mas Subagja sudah duduk di teras sambil ngopi, “Jam berapa kamu mau berangkat?” ucapan itu yang pertama kali keluar dari mulut Mas Subagja ketika melihatku, “Jam sembilanan lah, Mas, dari rumah. Aku titip Jingga, ya, Mas. Jangan sampai kejadian kemarin dia hilang terulang lagi, tolong aku hanya punya Jingga. Mas juga hati-hati, ya. Khawatir teman Mas itu punya dendam sama Mas, jangan keluar-keluar dulu, Mas. Istirahat aja dulu di rumah. Antar jemput Jingga jangan lupa, ya, Mas.” Berkali-kali aku mencoba untuk mengingatkan agar fokus saja ke Jingga dulu, minimal tiga hari ini aja. Lagi-lagi kata-kata yang tidak menyenangkan yang aku dapatkan, “Kamu ini bener, kan, ke rumah temenmu. Bukan kamu selingkuh seperti kemarin, pergi sama lelaki lain, memanfaatkan kelemahanku yang mendadak miskin begini, dan pergi dengan lelaki lain?” aku benar-benar kesal dibuatnya, pengen banget aku jawab, “Iya, aku memang pergi dengan lelaki yang lebih kaya, yang lebih bisa menghargai aku, dan bisa membuatku merasa dihargai sebagai perempuan.” Tapi tidak sampai hati aku bilang begitu, alih-aluh mencari ribut, aku hanya mengambil napas panjang, “Mas, aku melakukan ini untuk kita, untuk keluarga ini. Tidak ada niat sedikit pun di hatiku untuk selingkuh atau mendua. Jadi sekarang, terserah kamu mau percaya atau gak. Aku mau siap-siap dulu, aku hanya minta tolong sama kamu, titip Jingga. Gak guna aku kerja banting tulang sampe harus nginep di rumah orang.” Dia tidak menjawab omonganku, hanya membuang muka ke arah lain. Di kamar, aku mengambil tas kecil, tidak banyak baju yang aku bawa, hanya satu pasang kaos putih dan celana dasar warna cokelat. Karena kata Mas Hadi kemarin, dia sudah menyiapkan baju untuk aku. Setelah aku rasa cukup, aku bergegas keluar kamar, bersamaan dengan itu, handphoneku berbunyi, pesan dari Mas Hadi masuk, “Sayang, aku udah di depan Ramayana. Aku tunggu, ya.” Ya ampun, orang ini, padahal janjian setengah sepuluh, sekarang masih pukul setengah sembilan, dia udah ada di tempat kami janjian hari ini. Tidak mau membuat Mas Hadi menunggu terlalu lama, aku keluar dari rumah, setelah sebelumnya pamit ke Mas Subagja. Dan responnya masih seperti tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN