PULANG
Hujan turun saat pesawat mulai merendahkan ketinggian.
Dari balik jendela kecil di sampingnya, Aluna menatap kota Medan yang terlihat samar di bawah sana. Cahaya lampu yang berpendar di antara lapisan awan kelabu, seolah tertutup sesuatu yang tidak bisa ia tembus, setiap tetes air yang menempel di kaca membuat semuanya terlihat semakin jauh.
Padahal, ia sedang menuju pulang.
Tangannya yang sejak tadi berada di atas pangkuan perlahan mengambil ponsel dan layar langsung menyala, menampilkan satu pesan yang belum ia balas yaitu pesan dari Nara.
"Hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah sampai, ya."
Aluna menatap pesan itu cukup lama. Ada keinginan untuk langsung membalas, mengatakan bahwa ia baik-baik saja, bahwa semuanya akan baik-baik saja namun entah kenapa, jari-jarinya justru berhenti.
Perasaan tidak enak itu masih ada dan mengganjal tanpa ia mengerti alasannya.
Akhirnya, ia mematikan layar ponsel itu dan kembali menatap ke luar jendela.
Bandara Kualanamu terasa dingin malam itu, udara basah menyentuh kulit, membuat Aluna tanpa sadar merapatkan jaketnya. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat, sebagian terlihat lelah, sebagian lagi sibuk dengan urusan masing-masing.
Aluna berdiri di bawah kanopi, memeluk tasnya sendiri sambil sesekali melihat ke arah jalan.
Ia sedang menunggu.
Tidak lama kemudian, sebuah suara memanggil namanya.
“Aluna!”
Ia menoleh cepat.
Seorang pria paruh baya berjalan ke arahnya dengan payung di tangan. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ada kelegaan yang jelas saat mata mereka bertemu.
“Pak…” suara Aluna melemah.
Ia langsung melangkah mendekat dan memeluk ayahnya. Pelukan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit lebih hangat.
“Kenapa baru pulang sekarang?” tanya ayahnya pelan, menepuk bahunya. “Bapak sudah dari tadi nunggu.”
“Maaf, Pak. Tiketnya cuma dapat yang ini,” jawab Aluna sambil melepas pelukannya.
Ayahnya mengangguk kecil. “Nggak apa-apa yang penting kamu sudah sampai dengan selamat, nak.” ucap ayahnya lembut.
Ia lalu mengarahkan payung ke arah Aluna. “Ayo, Ibumu sudah nunggu di rumah.” ujarnya lagi.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cara ayahnya mengucapkannya membuat hati Aluna terasa tidak tenang, seolah ada sesuatu yang tidak ia ketahui.
Perjalanan menuju rumah berlangsung dalam diam.
Suara wiper yang bergerak pelan menghapus sisa air hujan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar jelas. Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan yang bergerak cepat.
Aluna duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke depan.
Namun pikirannya tidak di sana.
“Pak…” ia akhirnya membuka suara, meski pelan. “Keadaan Ibu gimana?”
Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia tetap fokus menyetir beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Masih lemah.”
Aluna menelan ludah.
“Semalam sempat drop,” lanjut ayahnya. “Dokter bilang harus dijaga, nggak boleh capek.”
“Kenapa nggak bilang dari awal?” tanya Aluna, menoleh ke arahnya.
Ayahnya tersenyum tipis, tetapi matanya tetap terlihat lelah. “Kamu lagi kerja, Bapak nggak mau ganggu.”
Jawaban itu tidak membuat Aluna lega, justru sebaliknya.
Ia menatap wajah ayahnya lebih lama, menyadari sesuatu yang selama ini mungkin ia abaikan lelaki itu terlihat jauh lebih tua dari terakhir kali ia pulang dan untuk pertama kalinya, rasa bersalah itu datang tanpa bisa ia hindari.
Rumah itu masih sama, pagar besi yang sedikit berderit, halaman kecil dengan tanaman yang tertata rapi, serta dinding yang warnanya mulai memudar semuanya masih seperti yang ia ingat.
Namun suasananya berbeda, lebih terasa sunyi.
Begitu pintu terbuka, pandangan Aluna langsung tertuju pada sosok yang duduk di ruang tengah.
“Ibu…” panggilnya dengan suara tercekat.
Wanita itu tersenyum, meski wajahnya tampak pucat.
“Aluna,”
Tanpa berpikir panjang, Aluna langsung mendekat dan berlutut di depan ibunya. Ia menggenggam tangan wanita itu, merasakan dinginnya kulit yang jauh berbeda dari biasanya.
“Kamu kurusan,” ujar ibunya sambil mengusap pipi Aluna dengan lembut.
Aluna tersenyum tipis, meski matanya mulai terasa panas. “Ibu juga,”
Kalimatnya menggantung, ia tidak sanggup melanjutkan.
Ibunya hanya tertawa kecil. “Ibu cuma capek.”
Aluna menatapnya dalam.
“Ibu harus banyak istirahat,” katanya pelan tapi tegas. “Jangan dipaksakan.”
“Iya,” jawab ibunya lembut. “Ibu dengar.”
Namun entah kenapa, jawaban itu tidak sepenuhnya menenangkan.
Malam itu, Aluna berada di kamar lamanya.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ruangan yang penuh kenangan, tidak banyak yang berubah lemari kayu di sudut, meja belajar yang dulu sering ia gunakan, hingga tirai jendela yang warnanya mulai pudar, semua masih sama.
Ponselnya bergetar pelan, nama Nara muncul di layar.
Aluna menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Halo,” ucapnya pelan.
“Udah sampai?” suara Nara terdengar hangat seperti biasa.
“Iya, dari tadi.”
“Kenapa nggak kabarin?” tanya Nara.
Aluna tersenyum kecil. “Lupa.”
“Bohong,” balas Nara ringan.
Aluna terdiam sejenak, ia tahu Nara tidak benar-benar percaya.
“Gimana keadaan Ibu?” tanya Nara lagi, kali ini lebih serius.
Aluna menarik napas panjang. “Lagi nggak terlalu bagus.”
Di seberang sana terdengar hening beberapa detik.
“Aku ke sana, ya,” kata Nara tiba-tiba.
Aluna langsung menggeleng, meski tidak terlihat. “Nggak usah.”
“Luna,”
“Nara, jangan sekarang,” potong Aluna pelan. “Aku lagi pengen sendiri dulu.”
Nara terdiam, lalu menghela napas. “Oke.”
“Kalau butuh apa-apa, bilang ya,” lanjutnya.
“Iya.”
Percakapan itu berakhir tidak lama setelahnya.
Keesokan paginya, suasana dapur terasa lebih sunyi dari biasanya.
Aluna berdiri di dekat meja, menyiapkan minuman, sementara ibunya duduk di kursi, memperhatikannya.
“Ibu duduk aja,” kata Aluna. “Biar Aluna yang kerjain.”
Ibunya tersenyum tipis. “Kamu baru datang, masa langsung kerja.”
“Lebih baik daripada Ibu capek,” balas Aluna.
Ibunya tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Aluna cukup lama, seolah sedang menimbang sesuatu.
“Ada yang mau Ibu bicarakan,” ucapnya akhirnya.
Aluna menoleh. “Apa, Bu?”
Ibunya menarik napas dalam. “Kamu ingat Om Mahendra?”
Aluna mengangguk pelan. “Yang di Jakarta itu?”
“Iya.”
“Memang kenapa?”
Ibunya menggenggam tangan Aluna. Tangannya terasa hangat, tetapi sedikit gemetar.
“Beliau datang ke sini beberapa hari lalu,” ujar ibunya.
Aluna mulai merasa tidak nyaman. “Terus?”
Ibunya menatap langsung ke matanya.
“Beliau mau menjodohkan kamu.”
Kalimat itu membuat Aluna terdiam beberapa detik.
“Bu, ini serius?” tanyanya pelan.
“Ibu serius,” jawab ibunya.
Aluna menarik tangannya perlahan. “Enggak.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
“Aku nggak mau.”
Ibunya menghela napas. “Ibu tahu kamu punya seseorang.”
Aluna terdiam.
“Terus kenapa masih begini, Bu?” tanyanya, suaranya mulai bergetar.
Ibunya menunduk, air matanya jatuh perlahan.
“Karena ini bukan cuma soal kamu, Luna.”
Kalimat itu membuat d**a Aluna terasa sesak.
“Ini soal keluarga kita.”
Aluna menatapnya tidak percaya. “Apa hubungannya?”
Ibunya terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, “Kita lagi butuh bantuan.”
Dan saat itulah Aluna mengerti.
Ini bukan tentang cinta, ini tentang pengorbanan.
Ia mundur satu langkah, menatap ibunya dengan perasaan yang campur aduk.
“Jadi, aku harus jadi solusi?”
Ibunya tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup menjelaskan semuanya.
Di luar sana, langit masih kelabu dan tanpa Aluna sadari hidupnya baru saja berubah arah.