Tristan memeluk tubuh putranya erat, menyesali apa yang baru saja ia lakukan pada putranya tersebut. Ia tak tahu kenapa tangan kanannya begitu mudah melayang di wajah putranya, bagaimana jika Joavanka tau? Pasti wanita itu akan sangat marah besar kepadanya. “Papa tenang saja, aku tidak akan bicara pada siapapun tentang apa yang terjadi hari ini.” Jonatan tersenyum getir, seolah anak itu tahu apa yang tengajh dipikirkan sang ayah. “Sayang, apa maksudmu? Papa sungguh minta maaf padamu, kamu menginginkan apa? Katakan pada Papa. Papa janji akan menuruti semua keinginanmu.” ‘Apa aku harus terskiti terlebih dahulu? Agar kau bisa menuruti kemauanku, Pa?’ tanya Jonatan dalam hati. Jonatan masih mempertahankan senyuman palsunya, sembari menggelengkan kepalanya pelan. Hatinya terlampau sakit, h

