MDU 87

1539 Kata

Borahae menggelengkan kepalanya brutal pertanda dirinya tak ingin meninggalkan Jonatan sendirian di sana. Hah! Jonatan menghela napas lelahnya, terlampau sulit berbicara dengan anak yang satu ini. Memperingati seorang Borahae sama saja berbicara dengan seonggok batu. “Terserahmu.” Putus Jonatan tak mau berkata lagi. Sosok kepala sekolah terlihat tengah menghubungi seseorang, sudah dapat Jonatan pastikan jika sosok tersebut tengah menghubungi keluarganya. “Jo, apa kamu takut?” tanay Borahae dengan mimik wajah khawatirnya, ia takut jika sampai Jonatan terkena amukan ayahnya lagi, yah! Borahae melihat semua, tentang bagaimana Tristan menampar wajah Jonatan do atap sana. Jonatan menyunggingkan sebelah bibirnya, ia senang, setidaknya masih ada seseorang yang begitu peduli dengan dirinya. “

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN