Sekian tahun telah berlalu. Beberapa tahun lamanya Jovanka dan Tristan hidup sendiri, ditemani putra mereka. Tak terasa kini Jonatan beserta Daren sudah menduduki bangku SMA. Entah kebetulan atau bagaimana, mereka dipertemukan dalam sekolah yang sama. Hanya bedanya, Jonatan hidup dalam kesederhanaan, sedang Daren hidup dalam kesempurnaan, apapun yang anak itu inginkan, semuanya akan terwujud. Apa Tristan tidak mengirimkan uang untuk istri dan putranya? Tristan tidak sejahat itu, dia selalu menafkahi anak dan istrinya meski mereka tidak tinggal satu atap. Hanya saja Jovanka yang tidak ingin memakai uang sang suami, ia ingin menghudupi putranya dengan uang hasil keringatnya sendiri. Jovanka tidak akan memaafkan Tristan sebelum lelaki itu meminta maaf pada putranya. “Sayang, apa kamu sudah

