“Ti-tidak, ini tidak mungkin.” Lirih Tristan sembari menyingkap ujung kain yang menutupi kepala sosok tubuh terbujur kaku di hadapannya. Berlahan kain itu terbuka, menampilkan wajah hancur tak berbentu sosok manusia yang kemungkinan bergender lelaki seumuran dengan putranya. BRUG!! Tubuh Tristan ambruk, tak sanggup menerima kenyataan. Air mata sudah berlomba-lomba menuruni pelupuk matanya. “Tidak mungkin!! Anakku kuat, dia tidak mungkin terluka.” Kekeh Tristan, seperti orang kehilangan kewarasannya. Jovanka yang sedari tadi sudah meraung marah kembali teringat dengan apa yang dilakukan sang suami hingga menyebabkan putranya pergi untuk selama-lamanya. Dengan sekuat tenaga wanita itu berdir menghampiri sang suami, memukul tubuh pria itu dengan brutalnya. “Kau telah membunuh anakku untu

