Beberapa minggu setelah hari pemakaman Xiaoshan. Aileen datang menemui Jovanka dan juga Jonatan, memberitahukan perihal warisan kekayaan yang sudah Xiaoshan wariskan untuk Jonatan, sekaligus memberikan surat yang ditulis Xiaoshan untuk putranya sebelum pria itu meninggal. Jonatan tertegun, ia tak menyangka jika sang ayah memberikan semua yang dia miliki atas namanya. “Papa.” Isak Jonatan, meremat erat jemari tangannya, menahan sakit sesak yang terasa begitu mencekik, ia tak menyangka jika Xiaoshan masih memikirkan dirinya, selama ini ia hanya berpikir jika pria itu punya niat buruk terhadap dirinya, tetapi ternyata ... “Kenapa? Kenapa dia memberikan semua ini kepadaku?” tangis Jonatan semakin menjadi, Jovanka memeluk erat tubuh bergetar sang putra. Aileen tak kuasa untuk menahan tangi

