“Jadi kau lebih memilih aku mencabut restuku?” Mata Kyra mengerjap beberapa kali setelah mendengar penuturan Adara. Kepalanya miring, keningnya mengerut menatap Adara yang masih menatapnya dengan tatapan dingin. “Apa maksudmu berkata begitu Adara?” Adara menghembuskan nafas, seraya menepis tangannya begitu saja. “Saatnya makan malam ... yang lain sudah menunggu.” “Adara.” Adara mendelik ke arahnya kemudian menepis tangan itu kembali dengan kasar. “Jangan memancing emosiku Kyra ... aku sedang tak ingin berdebat.” Desis Adara kemudian beranjak pergi meninggalkannya begitu saja. Kyra menghembuskan nafas yang sebelumnya tertahan karena menahan amarah dalam hatinya. Menghadapi Adara ... tak pernah bisa dengan hati yang tenang sekalipun itu adalah kabar baik. perempua

