Paula mendengus, melongos menatap ke arah lain ketika Adara duduk tepat dihadapannya. Jujur saja, ia malas jika harus berhadapan dengan perempuan ini apapun kondisinya. Sekalipun perempuan ini katanya sudah memberi restu pada hubungan Gerald dan Kyra. Paula terjengit kemudian menoleh kekanan, ke arah Kyra yang baru saja menepuk bahunya. “Makan sarapanmu Paula, kita harus pergi ke kantor Gerald.” “Kita? Aku malas Kyra kau saja. Aku mungkin akan menemui Gabriel nanti. Sudah hampir satu minggu kita tak bertemu, dia juga tak memberi kabar. Aku sedikit khawatir padanya.” Kyra terkekeh kecil. “Gabriel bukan anak kecil yang harus selalu kau pantau Paula, dia juga bukan kekasihmu yang harus selalu kau perhatikan.” “Tapi dia sahabatku.” Balas Paula tak mau kalah. Tanpa menghiraukan

