Kyra memandang jendela pesawat dengan tatapan kosong, kepalanya ia sandarkan pada kursi dengan mata yang mulai terpejam. . . . “Ky ... kau yakin? Kau sudah pikirkan matang-matang?” Kyra tersenyum pada ibunya yang kini tengah duduk di atas pembaringan, menatap ke arahnya yang sedang berkemas. Berselang dua hari dari semua yang ia rencanakan, hari ini ia akan benar-benar pergi ke Italia, menandatangani kontrak dengan collector yang sebelumnya menginginkan karyanya. Ia tahu dalam jangka waktu sesingkat ini ia melakukan langkah yang cukup besar. Ah tidak. Bukan cukup lagi. Tapi sangat besar. Langkah yang sebelumnya begitu ia ragukan sekarang sangat ia yakini. Apalagi tak hanya hatinya yang mendorongnya untuk melakukan ini. Melainkan dorongan dari berbagai pihak. Ayahnya

