🏵️Sakya Sutta🏵️(©6 Janavasabha)

1618 Kata
‘“Kemudian Tiga-Puluh-Tiga Dewa duduk di tempatnya masing-masing, dan berkata: ‘Mari kita tunggu apa yang muncul dari cahaya ini, dan setelah mengetahui kebenaran darinya, kita akan mendatanginya.’ Empat Raja Dewa duduk di tempatnya masing-masing, dan mengatakan hal yang sama. Demikianlah mereka sepakat. ‘“Bhagavā, ketika Brahmā Sanankumāra muncul di hadapan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, ia muncul dalam wujud yang lebih kasar, karena wujud alaminya tidak dapat terlihat oleh mata mereka. Ketika ia muncul di alam Tiga-Puluh-Tiga Dewa, ia mengalahkan para dewa lainnya dalam hal kecemerlangan dan keagungan, seperti halnya patung yang terbuat dari emas akan mengalahkan manusia. Dan, Bhagavā, ketika Brahmā Sanankumāra muncul di hadapan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, tidak ada satupun dari mereka yang memberi hormat kepadanya, atau bangkit dari duduk, atau mempersilahkan duduk. Mereka semuanya duduk diam dengan tangan dirangkapkan, bersila, berpikir bahwa ia akan duduk di tempat duduk dewa yang darinya ia menginginkan sesuatu. Dan dewa yang tempat duduknya ia duduki akan menjadi b*******h dan gembira bagaikan seorang Raja Khattiya saat menempati istana kerajaannya. ‘”Kemudian, Bhagavā, Brahmā Sanankumāra, setelah menampakkan wujud kasar, muncul di hadapan Tiga-Puluh-Tiga Dewa dalam bentuk pemuda Pañcasikha. Melayang di angkasa, ia terlihat melayang dalam posisi bersila, seperti halnya seorang kuat yang duduk di atas bantal atau di atas tanah. Dan melihat kegembiraan Tiga-Puluh-Tiga Dewa, ia mengucapkan syair kegembiraan ini:‘Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga bergembira, pemimpin mereka juga, Memuji Sang Tathāgata, dan kebenaran Dhamma, Melihat datangnya para dewa-baru, indah dan agung Yang telah menjalani kehidupan suci, sekarang terlahir kembali dengan baik. Mengalahkan yang lainnya dalam hal kemasyhuran dan kemegahan, Murid-murid Sang Bijaksana Yang Maha Kuasa menonjol. Melihat ini, para Dewa Tiga-Puluh-Tiga bergembira, pemimpin mereka juga, Memuji Sang Tathāgata, dan kebenaran Dhamma.‘“Sekarang sehubungan dengan apa yang diucapkan oleh Brahmā Sanankumāra, dan sehubungan dengan cara bicaranya: suaranya memiliki delapan kualitas: jelas, dapat dimengerti, merdu, menarik, padat, singkat, dalam dan bergema. Dan ketika ia berbicara dalam pertemuan itu, suaranya tidak terdengar di luar. Siapapun yang memiliki suara demikian dikatakan memiliki suara seperti Brahmā. ‘“Dan Brahmā Sanankumāra, menggandakan wujudnya menjadi tiga puluh tiga, duduk bersila di atas tempat duduk masing-masing dari Tiga-Puluh-Tiga Dewa, dan berkata: ‘Bagaimanakah menurut Para Tiga-Puluh-Tiga Dewa? Karena Sang Bhagavā, demi belas kasihNya kepada dunia dan demi manfaat dan kebahagiaan banyak makhluk, telah bertindak demi keuntungan para dewa dan manusia, mereka, siapapun itu, yang telah berlindung pada Buddha, Dhamma dan Sangha dan telah melaksanakan peraturan-peraturan moral telah, saat hancurnya jasmani, muncul kembali dalam kelompok para dewa Paranimmita-Vasavatti, atau para dewa Nimmānaratti, atau para dewa Tusita, atau para dewa Yāma, atau dalam kelompok pengikut Tiga-Puluh-Tiga Dewa, atau Empat Raja Dewa—atau yang paling rendah dalam kelompok para gandhabba.’ ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Dan setiap dewa yang kepadanya ia berbicara berpikir: ‘Ia duduk di tempat dudukku, ia berbicara hanya kepadaku.’Semua wujud berbicara dalam satu suara, Dan setelah berbicara, semuanya seketika diam. Dan demikianlah, para Dewa Tiga-Puluh-Tiga, pemimpin mereka juga, Masing-masing berpikir: ‘Ia hanya berbicara kepadaku.’‘“Kemudian Brahmā Sanankumāra berubah menjadi wujud tunggal; kemudian duduk di di tempat duduk Sakka dan berkata: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Sang Bhagavā ini, Sang Arahant Buddha yang tertinggi telah mengetahui dan melihat empat jalan menuju kekuatan, dan bagaimana mengembangkan, menyempurnakan dan melatihnya. Apakah empat itu? Di sini seorang bhikkhu mengembangkan konsentrasi kehendak yang disertai dengan upaya berkemauan, konsentrasi kegigihan …, konsentrasi kesadaran …, dan konsentrasi penyelidikan yang disertai dengan upaya berkemauan. Ini adalah empat jalan menuju kekuatan … Dan petapa atau Brahmana manapun yang pada masa lampau telah mencapai kekuatan-kekuatan demikian dalam cara yang berbeda-beda, mereka semuanya telah mengembangkan dan melatih dengan tekun empat cara ini, dan hal yang sama berlaku bagi mereka yang di masa depan, atau mereka yang sekarang ini mencapai kekuatan-kekuatan demikian, Apakah tuan-tuan melihat kekuatan-kekuatan itu dalam diriku?’ ‘Ya, Brahmā.’ ‘Benar, aku juga telah mengembangkan dan melatih dengan tekun empat cara ini.’ ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Ia melanjutkan: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Ada tiga gerbang menuju kebahagiaan yang dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat. Apakah itu? Pertama, seseorang berdiam dalam keinginan-indria, dengan kondisi-kondisi tidak bermanfaat. Suatu ketika ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memperhatikan dengan seksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Dengan melakukan hal itu ia kemudian menjauhi keinginan-indria dan kondisi-kondisi tidak bermanfaat demikian. Sebagai akibat dari tindakan menjauhi ini, perasaan menyenangkan muncul, dan terlebih lagi, Kegembiraan. Seperti halnya kenikmatan akan memunculkan sukacita, demikian pula dari perasaan menyenangkan ia mengalami kegembiraan. ‘“‘Ke dua, ada seseorang yang padanya kecenderungan kasar dari jasmani, ucapan dan pikiran belum ditenangkan. Pada suatu ketika ia mendengarkan Dhamma Ariya, … dan kecenderungan kasar dari jasmani, ucapan dan pikiran menjadi ditenangkan. Sebagai akibat dari tindakan menenangkan ini, perasaan menyenangkan muncul, dan terlebih lagi, Kegembiraan … ‘“‘Ke tiga, ada seseorang yang benar-benar tidak mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang hina dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah atau campuran dalam hal kualitas. Suatu ketika ia mendengarkan Dhamma Ariya, ia memperhatikan dengan seksama dan berlatih sesuai dengan Dhamma. Sebagai akibatnya ia menjadi mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, apa yang patut dicela dan apa yang tidak patut dicela, apa yang harus dilatih dan apa yang tidak perlu dilatih, apa yang hina dan apa yang mulia, dan apa yang busuk, indah atau campuran dalam hal kualitas. Dalam diri seorang yang mengetahui dan melihat demikian, ketidaktahuan tersingkirkan dan muncul pengetahuan. Dengan memudarnya ketidaktahuan dan munculnya pengetahuan, perasaan menyenangkan muncul, dan terlebih lagi, kegembiraan, seperti halnya kenikmatan akan memunculkan sukacita, demikian pula dari perasaan menyenangkan ia mengalami kegembiraan. Ini adalah ketiga gerbang menuju kebahagiaan yang dinyatakan oleh Sang Bhagavā yang mengetahui dan melihat.’ ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Ia melanjutkan: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Seberapa baikkah Sang Buddha yang mengetahui dan melihat mengajarkan empat landasan perhatian demi mencapai apa yang baik! Apakah itu? Di sini seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih, penuh perhatian, dan setelah meninggalkan keserakahan dan kegelisahan terhadap dunia. Ketika ia berdiam demikian merenungkan jasmaninya sendiri sebagai jasmani, ia menjadi terkonsentrasi dengan sempurna dan tenang sempurna. Dan karena tenang dan tenteram, ia mencapai pengetahuan dan penglihatan eksternal terhadap jasmani-jasmani makhluk lain. Ia berdiam merenungkan perasaannya sendiri sebagai perasaan, … ia berdiam merenungkan pikirannya sendiri sebagai pikiran, … ia berdiam merenungkan objek-pikirannya sendiri sebagai objek-pikiran, tekun, sadar jernih, penuh perhatian, dan setelah meninggalkan keserakahan dan kegelisahan terhadap dunia. Ketika ia berdiam demikian merenungkan objek-pikirannya sendiri sebagai objek-pikiran, ia menjadi terkonsentrasi dengan sempurna dan tenang sempurna. Dan karena tenang dan tenteram, ia mencapai pengetahuan dan penglihatan eksternal terhadap objek-pikiran makhluk lain. Ini adalah empat landasan kesadaran yang diajarkan dengan baik oleh Sang Buddha yang mengetahui dan melihat, demi mencapai apa yang baik.’ ‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Ia melanjutkan: ‘Bagaimanakah menurut Para Dewa Tiga-Puluh-Tiga? Seberapa baikkah Sang Buddha yang mengetahui dan melihat mengajarkan tujuh prasyarat konsentrasi, demi pengembangan konsentrasi sempurna dan kesempurnaan konsentrasi! Apakah itu? Yaitu, pandangan benar, pemikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar , usaha benar, perhatian benar. Keterpusatan pikiran itu yang dihasilkan tujuh faktor ini disebut konsentrasi benar Ariya dengan landasan dan prasyaratnya. Dari pandangan benar muncul pemikiran benar, dari pemikiran benar muncul ucapan benar, dari ucapan benar muncul perbuatan benar, dari perbuatan benar muncul penghidupan benar, dari penghidupan benar muncul usaha benar, dari usaha benar muncul perhatian benar, dari perhatian benar muncul konsentrasi benar, dari konsentrasi benar muncul pengetahuan benar, dari pengetahuan benar muncul kebebasan benar. Jika seseorang yang dengan jujur menyatakan: “Dhamma telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā, terlihat di sini dan saat ini, tanpa batas waktu, mengundang untuk diselidiki, mengarah menuju kemajuan, untuk dipahami oleh para bijaksana untuk dirinya sendiri”, mengatakan: “Terbukalah pintu Tanpa-Kematian!” maka ia pasti berbicara sesuai dengan kebenaran tertinggi. Karena sesungguhnya, tuan-tuan, Dhamma memang telah diajarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā, terlihat di sini dan saat ini, tanpa batas waktu, mengundang untuk diselidiki, mengarah menuju kemajuan, untuk dipahami oleh para bijaksana untuk dirinya sendiri, dan, juga, pintu menuju Tanpa-Kematian telah terbuka! ‘“‘Mereka yang memiliki keyakinan tidak tergoyahkan terhadap Buddha, Dhamma dan Sangha, dan memiliki moralitas-moralitas yang menyenangkan bagi Para Mulia, makhluk-makhluk yang telah muncul di sini karena latihan-Dhamma mereka, berjumlah lebih dari dua puluh empat ribu umat dari Magadha yang telah meninggal dunia, setelah menghancurkan tiga belenggu menjadi para Pemenang-Arus, tidak mungkin lagi terjatuh ke alam sengsara dan pasti mencapai pencerahan, dan sesungguhnya juga ada Yang-Kembali-Sekali di sini.Tetapi sesungguhnya di antara kelompok lainnya itu Di antara mereka yang lebih mulia itu, pikiranku Tidak mampu mengenali sama sekali, Karena takut aku akan mengucapkan kebohongan.’‘“Inilah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra. Dan sehubungan dengan hal ini Raja Dewa Vessavaṇa merenungkan dalam pikirannya: ‘Sungguh menakjubkan, sungguh mengagumkan, bahwa Sang Guru Agung itu muncul, bahwa ada pernyataan Dhamma yang Agung itu, dan bahwa jalan menuju kemuliaan harus dikumandangkan!’ Kemudian Brahmā Sanankumāra, membaca pikiran Raja Vessavaṇa, berkata kepadanya: ‘Bagaimana menurutmu, Raja Vessavaṇa? Telah ada Guru Agung seperti demikian di masa lampau, dan pernyataan seperti itu, dan jalan demikian telah dikumandangkan, dan akan ada lagi di masa depan.’”’ Demikianlah pokok pembicaraan Brahmā Sanankumāra yang dinyatakan kepada para Dewa tiga-Puluh-Tiga. Dan Raja Dewa Vessavaṇa, setelah mendengar dan menerimanya secara pribadi, menceritakannya kepada para pengikutnya. Dan yakkha Janavasabha, setelah mendengar sendiri, menceritakannya kepada Sang Bhagavā. Dan Sang Bhagavā, setelah mendengarnya sendiri dan juga mengetahuinya melalui pengetahuan-super-Nya sendiri, menceritakannya kepada Yang Mulia Ānanda, yang selanjutnya menceritakan kepada para bhikkhu dan bhikkhunī, dan umat-umat awam laki-laki dan perempuan. Dan demikianlah kehidupan suci berkembang dan makmur dan menyebar luas karena di nyatakan kepada umat manusia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN